Potensi Ekonomi Kreatif dijelaskan oleh Bekraf di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

BisnisJakarta – BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif dan Kementerian Luar Negeri) Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan kegiatan Working Luncheon dengan tema “Unleashing the Potentials of Creative Economy to Achieve SDGs” di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat pada 1 Oktober 2018. Dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari Menteri Luar Negeri, Wakil Tetap/Duta Besar berbagai negara dan wakil badan-badan internasional, kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan pengembangan ekonomi kreatif di tingkat internasional. Kegiatan yang diselenggarakan di sela-sela Sidang Umum PBB itu menampilkan Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Simanjuntak, Wakil Tetap RI untuk PBB di New York Duta Besar Dian Triansyah Djani, Entrepreneur/Former UN Youth Representative dari Australia Mr. Chris Eigeland, Desainer dari Korea Selatan Ms. Yuna Yang, Director of UNESCO Liaison Office di New York Ms. Marie Paule Roudil, Chief of UNCTAD Office di New York Ms. Chantal Line Carpentier, dan Deputy Director of the Human Development Report Office UNDP Mr. Thangavel Palanivel.

Acara diawali dengan “a minute of silence” (mengheningkan cipta) bagi korban bencana alam di Sulawesi Tengah. Dalam sambutan kunci Kepala Badan Ekonomi Kreatif, yang dibacakan oleh Deputi Pemasaran, disampaikan bahwa sektor ekonomi kreatif terbukti berperan penting dalam upaya global untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). ‘’Karena didasari oleh aset kreativitas dan inovasi yang merupakan nilai-nilai kehidupan yang tidak akan pernah habis,’’ kata Kepala Bekraf. Sedangkan Duta Besar Djani menyorot menyatakan pentingnya masyarakat internasional meningkatkan kerja sama untuk memanfaatkan potensi ekonomi kreatif secara lebih optimal melalui berbagai kerja sama maupun program-program konkret.

Para pembicara dari berbagai negara juga menyorot kaitan antara ekonomi kreatif dengan SDGs melalui perspektif pemanfaatan teknologi, kewirausahaan, fesyen, daya tahan, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan keramahan lingkungan. Working Luncheon juga dimaksudkan untuk lebih mempromosikan penyelenggaraan  World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali, pada 6-8 November 2018. Sebagai konferensi ekonomi kreatif pertama di dunia, WCCE 2018 telah mendapatkan dukungan dari berbagai organisasi internasional, baik di dalam maupun di luar PBB. WCCE 2018 akan menjadi konferensi yang melibatkan beragam pihak, yang terdiri dari perwakilan pemerintah, sektor swasta, think-tanks, masyarakat sipil, organisasi internasional, serta media dan ahli di bidang ekonomi kreatif. WCCE akan menjadi momentum global untuk menumbuhkan kesadaran ekonomi kreatif kepada dunia. (R. zari)

Comments

comments here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *