55 Persen Perusahaan Jepang Terdampak Konflik Rusia-Ukranina

Sepuluh negara/ekonomi yang disurvei selama 11—16 Maret itu adalah Amerika Serikat, Prancis, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan India.

Zufrizal

3 Apr 2022 - 16.45
A-
A+
 55 Persen Perusahaan Jepang Terdampak Konflik Rusia-Ukranina

Anggota Korps Sukarelawan Ukraina menembakkan howitzer, saat serangan Rusia ke Ukraina terus berlanjut, di sebuah titik di Zaporizhzhia, Ukraina, Senin (28/3/2022)./Antara-Reuters

Bisnis, JAKARTA — Sebuah yang dilakukan oleh sebuah perusahaan Jepang baru-baru ini menunjukkan  bahwa operasi bisnis 55% perusahaan Jepang yang berbasis di luar negeri telah terkena dampak atau akan terkena dampak oleh invasi Rusia ke Ukraina.

Survei daring terhadap 699 entitas Jepang di 10 negara/ekonomi yang dilakukan oleh Pasona Group Inc. pada pertengahan Maret 2022, menemukan bahwa perusahaan yang berbasis di Prancis sejauh ini paling terpengaruh dengan 92,3% merespons bahwa mereka telah terkena dampak dalam beberapa cara. Prancis menjadi satu-satunya negara Eropa yang disurvei oleh Pasona. 

Selain Prancis, seperti dikutip mainichi.jp melalui kantor berita Kyodo, Minggu (3/4/2022), perusahaan jepang di Malaysia juga merasakan dampak yang cukup besar dengan persentase 72% dan Singapura sebesar 66,7%.

Dari 55% perusahaan yang berbasis di luar negeri, 43,2% mengatakan bahwa mereka sudah merasakan dampak konflik, sedangkan 22,7% mengatakan bahwa mereka memperkirakan melakukannya dalam sebulan dan 26,8% dalam 3 bulan.

Dampak yang paling banyak dikutip di antara 43,2% perusahaan tadi adalah melonjaknya biaya bahan baku termasuk minyak, bahan kimia, dan logam. Hal ini diikuti oleh kenaikan biaya logistik dan harga energi.

Gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) bekas diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (4/4/2018). PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membeli 10 gerbong KRL seri 6000 seharga sekitar Rp10 miliar dari perusahaan Jepang, Tokyo Metro./ANTARA-Sigid Kurniawan

Mereka yang berada di sektor ritel dan grosir juga menyebutkan keterlambatan pengiriman kemasan, sedangkan sebuah perusahaan perdagangan mengatakan sanksi ekonomi negara-negara Barat terhadap Rusia atas invasi menciptakan masalah dalam mengumpulkan piutang.

Hanya 34,6% dari perusahaan Jepang yang disurvei mengatakan bahwa mereka telah mengambil tindakan pencegahan. Adapun, langkah konkret dilakukan oleh 54,3% dari perusahaan tersebut, diikuti dengan mengamankan persediaan di 32,5% dan memilih pemasok di 23,5%.

Tindakan khusus yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di India termasuk memulai negosiasi untuk menaikkan harga produk, sedangkan sebuah perusahaan perdagangan di Hong Kong mengatakan sedang meninjau kondisi untuk transaksi dengan klien Rusia.

Sepuluh negara/ekonomi yang disurvei selama 11—16 Maret itu adalah Amerika Serikat, Prancis, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dan India.

Sektor manufaktur merupakan kelompok perusahaan terbesar yang disurvei dengan 43,6%, diikuti oleh trading house sebesar 20,7% dan pengecer dan pedagang besar sebesar 9,9%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Zufrizal

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.