Free

Ada Pertanda Musim Dingin Kripto Berakhir

Harga koin digital terlaris Bitcoin telah menembus US$30.000 pada perdagangan Jumat (25/6/2023), sebuah pencapaian selama setahun terakhir. Berbagai sentimen positif telah memberi harapan bagi investor bahwa musim dingin kripto telah berakhir.

Nindya Aldila

25 Jun 2023 - 16.04
A-
A+
Ada Pertanda Musim Dingin Kripto Berakhir

Warga beraktivitas di dekat logo mata uang kripto di Depok, Jawa Barat, Rabu (4/1/2023). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA - Harga koin digital terlaris Bitcoin telah menembus US$30.000 pada perdagangan Jumat (25/6/2023), sebuah pencapaian selama setahun terakhir. Berbagai sentimen positif telah memberi harapan bagi investor bahwa musim dingin kripto telah berakhir.

Harga Bitcoin tercatat US$30.881 pada pukul 14.00 WIB, Minggu (25/6/2023). Valuasinya naik 16,4 persen dalam sepekan terakhir. Bahkan, Bitcoin berhasil mencatat pertumbuhan 90 persen sejak awal tahun, meskipun kenaikannya belum sampai separuh dari puncak US$69.000.

BTC terus meroket setelah rencana BlackRock Inc., perusahaan manajeman investasi terbesar akan mengajukan rencana peluncuran iShares Bitcoin Trust, yakni sebuah ETF yang akan menjadikan Coinbase Custody sebagai kustodiannya serta menawarkan eksposur investor institusi terhadap cyptocurrency.

Adapun Bursa Kripto EDX Markets, yang didukung oleh perusahaan investasi Charles Schwab, Fidelity and Citadel Securities, juga mengumumkan awal pekan ini akan mengizinkan perdagangan beberapa aset kripto.

Langkah tersebut telah menghidupkan kembali minat investor pada mata uang kripto, yang telah lesu setelah serangkaian kehancuran perusahaan kripto termasuk bangkrutnya bursa FTX akhir tahun lalu.

“Awan gelap yang membayangi kripto telah terangkat dalam beberapa hari terakhir di tengah ledakan minat institusional,” kata Kate Laurence, General Partnet Bloccelerate VC yang berinvestasi dalam proyek kripto, mengutip Reuters, Sabtu (24/6/2023).

Sementara itu, koin lainnya ikut menikmati kenaikan dengan Ethereum meningkat lebih dari 16 persen sejak minggu lalu. Ethereum naik 1,63 persen ke level US$1.903,20 pada perdagangan Jumat.

Pasar EDX dinilai akan menjadi peluang bagi Bitcoin dan koin digital lainnya seperti Ethereum (ETH), Litecoin (LTC) dan Bitcoin Cash (BCH). Bursa ini juga diyakini menawarkan berbagai benefit seperti lebih likuid dan memberi solusi bagi permasalahan regulasi seperti pemisahan fungsu broker dan dealer dalam transaksi.

Kepala data dan analitik FRNT Financial Strahinja Savic mengatakan rentetan krisis seperti inflasi, kesalahan pengelolaan moneter, kebangkrutan perbankan, kekhawatiran utang negara, dedolarisasi, telah memicu ketidakpercayaan terhadap Bitcoin.

"Saya tidak akan mendeskripsikan pergerakan ini sebagai kenaikan puncak yang baru di tengah situasi yang menantang, tetapi [reli terjadi] lebih karena [sentimen BlackRock] itu," ujarnya dikutip Bloomberg.

Bahkan, bank investasi raksasa sekelah JPMorgan Chase & Co. meluncurkan JPM Coin yang disiapkan untuk pembayaran para klien korporat sebagai transaksi berdenominasi euro.

“Efek dari 'musim dingin kripto' tampaknya tidak bertahan lama dibandingkan tahun lalu, karena berbagai yurisdiksi dan pemain institusional terus merangkul inisiatif terkait kripto,” kata David Duong, kepala penelitian di Coinbase, dalam sebuah catatan baru-baru ini.

Seperti diketahui, nilai Bitcoin berangsur anjlok terutama setelah kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 2022, menjadikan nilai pasar kripto menjadi US$1,24 triliun dari sebelumnya US$3 triliun pada 2021.

Keruntuhan bursa kripto juga telah memicu Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) bulan ini dengan menuntut raksasa kripto Coinbase Global dan Binance, dengan tuduhan melanggar aturannya.

Beberapa pengamat pasar mengatakan tindakan keras SEC mungkin baik untuk Bitcoin, yang umumnya dianggap sebagai komoditas daripada sekuritas, dan karena itu di luar kemampuan SEC.

"Gugatan SEC telah menciptakan peluang bagi pemain yang kuat dan teregulasi, jadi saya sangat optimistis bahwa rencana BlackRock ini akan berkelanjutan," kata Doug Schwenk, CEO Digital Asset Research.

Namun, besarnya kekuatan BlackRock belum tentu akan berhasil membuat SEC memberikan restu bagi perusahaan manajemen aset itu.

"Saya pikir kemungkinan belum bisa. SEC begitu agresif mengimpit sektor kripto, sepertinya terlalu dini untuk perubahan seperti itu," ujar kepala strategi pasar Jones Trading Michael O’Rourke.

(Jessica Gabriela Soehandoko)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.