ADB Utangi Indonesia Rp7,69 Triliun, Buat Apa?

Indonesia mendapatkan suntikan pinjaman dari Asian Development Bank senilai US$500 juta. Rencananya, dana ini bakal digunakan untuk kebutuhan produktif.

Rinaldi Azka

25 Sep 2023 - 15.37
A-
A+
ADB Utangi Indonesia Rp7,69 Triliun, Buat Apa?

DB-Karyawan memotret logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020)./BISNIS/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) telah menyetujui pinjaman sebesar US$500 juta setara Rp7,69 triliun (kurs tengah BI Rp15.3999) pada 22 September 2023 lalu guna mendukung agenda pembangunan Indonesia dan prioritas reformasi.

Dana tersebut termasuk upaya menciptakan lingkungan yang mendukung investasi, mengurangi hambatan perdagangan, dan meningkatkan skala usaha. 

Ini adalah subprogram kedua dari tiga subprogram Program Akselerasi Kompetitivitas, Modernisasi Industri, dan Perdagangan (Competitiveness, Industrial Modernization, and Trade Acceleration/CITA) yang melanjutkan kesuksesan subprogram pertama yang disetujui pada Oktober 2021.

Country Director ADB for Indonesia, Jiro Tominaga menerangkan dalam rangka mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2045, pemerintah mengantisipasi bahwa Produk Domestik Bruto Indonesia harus tumbuh setidaknya 6,0 persen setiap tahun, yang jauh di atas rata-rata sebelum pandemi sebesar 5,3%. 

"Indonesia membuat kemajuan yang baik dalam pemulihan dari pandemi COVID-19, tetapi reformasi struktural yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan potensi pertumbuhan dengan merangsang investasi, penciptaan lapangan kerja, perbaikan iklim usaha, dan perdagangan," katanya dalam keterangan, Senin (25/9/2023).

Baca Juga : Magnet Kuat Investasi Indonesia di Mata Raksasa Migas Global 

Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai tindakan meningkatkan iklim investasi, seperti yang disepakati dalam subprogram 2. Persetujuan izin usaha menjadi lebih cepat melalui pembaruan sistem pengajuan tunggal daring (OSS), pendekatan berbasis risiko yang mengintegrasikan proses-proses nasional, subnasional, dan kementerian. 

Selain itu, untuk menarik lebih banyak investasi dan mendukung transisi Indonesia ke ekonomi beremisi rendah, pemerintah memperdalam reformasi subprogram 1 dan, antara lain, mendorong investasi dalam efisiensi energi serta menciptakan lingkungan yang mendukung investasi berkelanjutan. 

Investasi langsung asing untuk pembuatan baterai kendaraan listrik juga telah disetujui, termasuk penandatanganan lima kontrak bernilai tinggi yang diharapkan akan menciptakan setidaknya 49.000 lapangan kerja.

Untuk mengurangi hambatan perdagangan, pemerintah mengimplementasikan tiga sistem baru dalam Rencana Induk Ekosistem Logistik Nasional (2020–2024) menghubungkan secara digital sektor publik dan swasta dalam rantai logistik, termasuk peluncuran platform pembayaran daring layanan logistik dengan enam bank yang mengimplementasikan sistem operasi tunggal untuk operator pelabuhan. Jendela tunggal nasional (National Single Window/NSW) ditingkatkan, dan daya saing pengadaan pemerintah diperkuat.

Baca Juga : Rasio Utang Masih Jauh dari Level Prapandemi 

Sebagai bagian dari langkah-langkahnya untuk meningkatkan usaha, pemerintah memperbaiki ekosistem kewirausahaan dan meningkatkan kapasitas usaha untuk lebih berorientasi ekspor dan teknologi, terutama usaha yang dimiliki oleh perempuan yang seringkali tidak sepenuhnya sadar atau tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk berpartisipasi dalam pengadaan pemerintah. 

Sistem terintegrasi berdasarkan jenis kelamin untuk usaha mikro, kecil, dan menengah didirikan, yang akan digunakan untuk melacak, menganalisis, dan melaporkan kinerja usaha yang dimiliki oleh perempuan.

"Reformasi kebijakan dalam program ini akan membantu Indonesia menarik lebih banyak investasi, termasuk dalam bisnis berkelanjutan dan hijau, mengurangi hambatan perdagangan, dan memberdayakan usaha lokal," tambah Jiro.

CITA sejalan dengan Visi Indonesia 2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020–2024, dan merupakan bagian integral dari strategi kemitraan negara ADB untuk Indonesia, 2020–2024, terutama jalur strategis dalam mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat ketahanan iklim.

Baca Juga : Mengintip Progres Rupiah Digital 

Kabar Baik

ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia akan mampu tumbuh hingga 5 persen pada 2023. 

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia telah berhasil konsisten di atas 5 persen selama tujuh kuartal berturut-turut. Pada kuartal II/2023 bahkan mencapai 5,17 persen, meningkat dari kuartal sebelumnya di level 5,03 persen. 

Dalam outlook terbaru, ADB melihat potensi ekonomi Indonesia yang mampu tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di angka 4,8 persen menjadi 5 persen pada tahun ini. Sementara inflasi juga diramal lebih baik dari perkiraan ADB sebelumnya, di tingkat 4,2 persen menjadi 3,6 persen. 

ADB menilai permintaan domestik diperkirakan akan lebih dari sekadar mengimbangi perlambatan ekspor barang dalam memacu kinerja ekonomi Indonesia.

“Pada sisa tahun 2023, normalisasi penuh mobilitas dan daya beli yang lebih tinggi dengan inflasi yang lebih rendah akan mendorong rebound spending, meskipun suku bunga yang lebih tinggi mungkin sedikit mengerem permintaan,” tulis ADB dalam Asian Development Outlook September 2023, dikutip Minggu (24/9/2023). 

Baca Juga : China Beralih ke Batu Bara Premium dari Australia dan Rusia 

Lembaga tersebut juga melaporkan ekspektasi umum dari pesta politik 2024 atau pemilu diyakini akan berjalan dengan lancar dan tetap memacu investasi bisnis. 

Di sisi lain, kinerja pariwisata khususnya yang berasal dari wisatawan mancanegara pulih dengan sangat kuat dan diproyeksi akan menutup defisit dari pelemahan ekspor barang. 

Untuk 2024, ADB meramalkan ekonomi Indonesia akan stabil di level 5 persen. Sejalan dengan itu, ADB memperkirakan laju inflasi di dalam negeri akan semakin rendah, yakni di tingkat 3 persen. 

Sementara itu, kinerja ekonomi sebagian besar lebih lemah di seluruh kawasan, dengan prospek pertumbuhan tujuh negara direvisi turun, kecuali Myanmar, Brunei Darussalam yang diproyeksi menguat. 

Alasan utamanya adalah melambatnya pertumbuhan global, harga komoditas yang tinggi, dan pengetatan kondisi keuangan global.(Annasa Rizki Kamalina)



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.