Adu Strategi UNVR & Induk Hadapi Efek Domino Larangan Ekspor CPO

Produsen barang-barang konsumen menjadi salah satu yang paling terdampak adanya larangan ekspor minyak sawit mentah atau CPO. Salah satunya adalah Unilever, baik induk hingga perusahaan di Indonesia. Lantas, bagaimana strategi Unilever di tengah tingginya harga komoditas dan bahan pokok?

Asteria Desi Kartikasari
Apr 30, 2022 - 9:42 AM
A-
A+
Adu Strategi UNVR & Induk Hadapi Efek Domino Larangan Ekspor CPO

Logo Unilever Indonesia dalam kampanye Indonesia World Farmer Scene/Unilever.co.id

Bisnis, JAKARTA—   Larangan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil/CPO dan bahan baku minyak goreng oleh Indonesia disebut menimbulkan beberapa efek domino.  Kebijakan tersebut juga akan berefek kepada produsen barang-barang konsumen di dunia. 

Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (ICDX) memperkirakan harga CPO masih dalam tren bullish dalam beberapa waktu ke depan sehubungan dengan larangan ekspor Indonesia. Apalagi, produksi Malaysia juga belum sepenuhnya pulih. Sehingga dengan perluasan larangan ekspor, tren bullish bisa menjadi lebih panjang.

Analis juga memproyeksikan larangan ekspor minyak sawit oleh Indonesia kemungkinan juga akan menyebabkan malapetaka lebih lanjut bagi produsen barang-barang konsumen di dunia pada kuartal-kuartal mendatang. 

Sebelumnya, para analis memperkirakan penjualan Unilever Plc akan tertekan karena perusahaan memilih menaikan harga di tengah lonjakan harga komoditas dan bahan baku di hampir seluruh dunia. 

Seperti diketahui, Unilever Plc dan produsen produk konsumer dunia berada di persimpangan dalam menentukan kenaikan harga jual produknya ke konsumen. Sebab ketika mereka mengerek harga jual produk, maka konsumen akan beralih ke merek dan produk lain yang lebih murah.

Unilever Plc  memperkirakan inflasi biaya bahan baku pada semester II/2022 akan mencapai sebesar 2,7 miliar euro (US$2,8 miliar). Nilai tersebut membengkak dari semester I/2022. Seperti dikutip dari Bloomberg,  Chief Financial Officer Graeme Pitkethly Unilever Plc mengatakan sejauh ini perusahaan telah menanggung sekitar dua pertiga dari kenaikan biaya produksi dari harga jual ke konsumen.

Logo Unilever/Bloomberg

 Sebelumnya, analis Jefferies India yang dipimpin oleh Vivek Maheshwari dalam risetnya juga menyebut Hindustan Unilever menjadi salah satu perusahaan yang paling terekspos larangan ekspor CPO Indonesia. Sebab, India membeli sekitar 8 ton minyak nabati setiap tahun atau sekitar setengahnya berasal dari Indonesia. Menurut catatnya Jefferies India pada 24 April. “Bahan pokok  konsumen India telah bergulat dengan inflasi tinggi dan volatilitas harga input,” tulis Jefferies India dalam risetnya.

Lantas bagaimana dengan Unilever di Indonesia?, PT Unilever Indonesia Tbk.  juga tidak luput dari dampak volatilitas harga komoditas agrikultur dan energi. Sekadar informasi, Unilever Plc. Merupakan pemegang saham mayoritas Unilever Holding B.V., setelah saham Unilver NV dilebur dengan Unilever Plc pada 2020 lalu.  Kedua perusahaan tersebut memiliki basis kantor yang berbeda. 

Dalam hal ini, Unilever NV berbasis di Belanda, sedangkan Unilever Plc. di Inggris. Aksi unifikasi tersebut membuat saham mayoritas Unilever Indonesia Holding B,V telah resmi digenggam oleh Unilever Plc. Total saham yang digenggam Unilever Plc. saat ini berubah menjadi 85 persen dari sebelumnya hanya 30 persen.

 Kendati demikian, aksi korporasi yang melibatkan Unilever Plc. dan Unilever NV. tersebut tidak membuat  struktur kepemilikan saham  PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) berubah. Per 31 Maret 2022, mayoritas saham UNVR masih digenggam oleh Unilever Indonesia Holding B.V dengan total kepemilikan saham 84,99 persen. Sementara itu sisanya dimiliki oleh publik.
 
Adapun strategi yang dijalankan UNVR menanggapi tingginya harga komoditas dan bahan baku, adalah dengan menaikkan target penghematan atau saving di semua lini pengeluaran sebagai langkah mitigasi. 

Direktur Customer Operation PT Unilever Indonesia Tbk. Enny Hartati Sampurno menyebutkan kenaikan harga komoditas setidaknya berpengaruh 15 sampai 20 persen pada komponen biaya produksi maupun operasional. Namun, dia memastikan perusahaan tak meneruskan kenaikan harga tersebut ke konsumen. 

“Sekitar 15 sampai 20 persen komponen cost kita terpengaruh dari pergerakan harga tersebut. Tentu saja kami ada beberapa action plan. Jelas ada kenaikan harga, tetapi kami tidak pass on ke konsumen,”kata Enny dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (28/4/2022). 

Alih-alih meneruskan kenaikan ke konsumen, Enny mengatakan Unilever memilih untuk gencar melakukan penghematan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya UNVR menetapkan target penghematan sebesar 4 sampai 5 persen dari pengeluaran, tahun ini target tersebut dinaikkan menjadi 7 sampai 9 persen. 

“Kami juga gencar melakukan internal saving dari semua lini cost. Target saving dinaikkan cukup tinggi menjadi 7—9 persen dari total cost dari sebelumnya 4—5 persen dari pengeluaran karena ini untuk memitigasi harga komoditas,” lanjutnya.

Selain itu, Unilever juga menempuh opsi pengaturan bahan baku (material setting). Hal ini bertujuan untuk efisiensi produksi dan membuka opsi pemakaian bahan baku alternatif. 


KINERJA

Dari kinerja keuangan, Unilever berhasil menaikkan laba bersih pada kuartal I/2022 menjadi Rp2,02 triliun, naik 19,02 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp1,69 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya.  Kenaikan laba bersih Unilever diperoleh meski harga pokok penjualan terkerek naik dari Rp4,88 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp5,56 triliun pada kuartal I/2022. Namun, Perusahaan tercatat berhasil menekan beban pemasaran dan penjualan dari Rp2,17 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp1,98 triliun pada kuartal I/2022.
 
Penjualan UNVR pada kuartal I/2022 mencapai Rp10,8 triliun, 5,40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada kuartal I/2021 sebesar Rp10,28 triliun. Penjualan domestik yang menyumbang 95,9 persen dari total penjualan tercatat naik 5,8 persen YoY menjadi Rp10,39 triliun, dari Rp9,82 triliun. Sementara itu, penjualan ekspor turun 3,87 persen YoY dari Rp458,05 miliar pada kuartal I/2021 menjadi Rp440,31 miliar.
 
Seiring dengan kenaikan penjualan, harga pokok penjualan Unilever turut terkerek naik dari Rp4,88 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp5,56 triliun pada kuartal I/2022. Perusahaan tercatat berhasil menekan beban pemasaran dan penjualan dari Rp2,17 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp1,98 triliun pada kuartal I/2022. 

Kinerja tersebut membuat laba bersih Unilever naik 19,02 persen YoY menjadi Rp2,02 triliun pada kuartal I/2022 dari Rp1,69 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya.  

Presiden Direktur Unilever Indonesia Ira Noviarti mengatakan pertumbuhan di kuartal I/2022 ini didorong oleh upaya perusahaan dalam membangun fundamental kuat untuk pertumbuhan dan keberhasilan jangka panjang yang ditempuh secara konsisten sejak pertengahan 2021.

 Hal ini turut didukung oleh pulihnya perekonomian Indonesia dan kembalinya mobilitas masyarakat yang mendorong peningkatan daya beli konsumen. “Ini adalah awal yang kuat untuk tahun 2022 yang kami harap akan terus membaik bagi Unilever Indonesia,” kata Ira dalam keterangan resmi, Kamis (28/4/2022).

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya memperkirakan pertumbuhan top line meningkat 7 persen (yoy) sepanjang 2022 yang sebagian besar akan berasal dari kenaikan harga jual rata-rata di tengah kenaikan inflasi. Selain itu, menurutnya, harga komoditas juga sangat mempengaruhi biaya produk pembersih dan perawatan rumah UNVR. 

“Kami pikir penghematan biaya UNVR yang berkelanjutan mungkin menahan sedikit risiko penurunan pada margin keseluruhan,” kata Christine dalam risetnya.

Di tengah ketatnya persaingan dengan beberapa merek lokal yang menjual harga lebih murah, UNVR akan fokus menjual produk yang mendapatkan momentum, seperti deodorant, es krim serta premium dengan inovasi dan produk mid-end (masstige) dengan membawa brand global ke Indonesia , misalnya Love, Beauty & Planet dan Dove baby.

Selain itu, perusahaan juga menggenjot penjualan e-commerce yang saat ini hanya berkontribusi 5 persen  terhadap pendapatan menjadi 15 persen  dari penjualan pada 2025. Strategi UNVR mungkin juga bergeser dari promosi langsung jangka pendek menjadi lebih ke arah periklanan untuk melihat kekuatan mereknya kembali di mata konsumen. Dia memperkirakan biaya iklan UNVR akan tumbuh 10 persen pada 2022.

 “Meskipun mungkin bagus untuk daya tarik jangka panjang dan citra merek yang akan meningkatkan keinginan konsumen untuk membeli produk UNVR, kami pikir strategi tersebut membebani margin perusahaan saat ini,” katanya.

Kendati begitu, menurutnya pemulihan masih akan berlangsung dengan perkiraan biaya yang lebih tinggi.  Mirae Asset meningkatkan proyeksi pendapatan untuk 2022 sebesar 2 persen lantaran fokus perusahaan yang lebih tinggi pada produk premium dengan kenaikan harga yang kurang sensitif akan membuka ruang untuk penyesuaian lebih lanjut dalam ASP-nya.

“ Kami mengurangi proyeksi margin kotor  sebesar 2,2 persen  didukung oleh harga komoditas yang lebih tinggi pasca konflik Rusia-Ukraina. Kami juga mengharapkan margin laba bersih 14,2 persen pada 2022,” katanya.

Namun dari harga saham, dia mengurangi target harga dari level Rp4.750 menjadi Rp4.400.  Target harga baru kami diturunkan dari target P/E kelipatan 28,2x yang tidak berubah mendekati -2 SD dari rata-rata P/E forward 10 tahun. (Yustinus Andri DP, Iim F.Timorria)
 

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Adu Strategi UNVR & Induk Hadapi Efek Domino Larangan Ekspor CPO

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ