Akankah Bank Sentral di Asia Ikuti Jejak Pengetatan BI?

Para pengambil kebijakan di Asia perlu memilih antara meredam pertumbuhan ekonomi atau melindungi nilai tukar yang mengalami pelemahan.

Jessica Gabriela Soehandoko

25 Apr 2024 - 22.27
A-
A+
Akankah Bank Sentral di Asia Ikuti Jejak Pengetatan BI?

Gedung Bank Indonesia (Foto Bisnis)

Bisnis, JAKARTA - Bank sentral di Asia dihadapkan dengan dilema setelah gejolak mata uang lokal akibat penguatan dolar, seiring dengan keputusan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin.

Para pengambil kebijakan di Asia perlu memilih antara meredam pertumbuhan ekonomi atau melindungi nilai tukar yang mengalami pelemahan. 

Prospek kebijakan The Fed yang tidak terlalu dovish menandakan kenaikan imbal hasil (yield) AS dibandingkan Asia akan tetap tinggi. Hal ini berpotensi mendorong penarikan dana global dari kawasan dan menurunkan nilai mata uang lokal. 

"Kenaikan suku bunga yang mengejutkan oleh bank sentral Indonesia tentu akan membuat bank sentral negara-negara berkembang lainnya mengambil keputusan yang tepat,” jelas kepala ekonom Asia di HSBC Holdings Plc, Frederic Neumann, seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (25/4/2024). 

Dia menuturkan bahwa ketika inflasi menjadi normal di sebagian besar wilayah Asia, kekhawatiran penguatan dolar lebih lanjut membuat para bankir bank sentral di kawasan tetap bersikap defensif. 

Sebelumnya, walaupun China menghadapi krisis perumahan, pertumbuhan yang lesu dan melemahnya yuan selama berbulan-bulan, berbagai negara seperti Filipina telah memulai tahun ini dengan prospek penurunan suku bunga. Hal ini tidak terlepas karena depresiasi mata uang lokal di beberapa negara. 

dalam laporan sebelumnya, mata uang di Asia terbukti tengah menghadapi situasi yang kacau di tengah penundaan pemangkasan suku bunga acuan The Fed dan dolar yang perkasa.

Hal itu diungkapkan oleh Bank of America dalam laporannya pada Selasa (23/4/2024). "Kami tidak optimistis terhadap seluruh mata uang di Asia," tulisnya, dikutip CNBC International.

Beberapa mata uang seperti dolar Hong Kong, rupiah Indonesia, rupee India, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Singapura masuk dalam kategori netral. Adapun yang masih bearish di antaranya adalah yuan China, won Korea Selatan, dolar Taiwan, baht Thailand, dan dong Vietnam. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan dengan turun 0,20% atau 32 poin ke posisi Rp16.187 per dolar AS. Sementara itu indeks dolar terpantau melemah 0,21% ke level 105.475.

Mayoritas mata uang kawasan Asia lainnya bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,21%, dolar Taiwan turun 0,14%, won Korea turun 0,36%, peso Filipina melemah 0,43%, rupee India tergerus 0,06%, yuan China turun 0,02%, dan ringgit Malaysia melemah 0,09%.

Mata uang yang naik di hadapan dolar AS adalah dolar Singapura melemah 0,15%, dolar Hong Kong 0,02% dan baht Thailand sebesar 0,07%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.