Akhir Tahun Berlimpah Berkah Dividen, Investor Tetap Waspada

Aksi pembagian dividen interim masih akan marak hingga akhir tahun ini oleh sejumlah emiten. Hal ini dapat dimanfaatkan investor yang ingin mendapatkan tambahan keuntungan dengan membali saham mereka. Namun, langkah tersebut harus tetap dilakukan dengan penuh perhitungan.

Dwi Nicken Tari, Annisa Kurniasari Saumi & Rinaldi Muhammad Azka
Nov 22, 2021 - 5:55 PM
A-
A+
Akhir Tahun Berlimpah Berkah Dividen, Investor Tetap Waspada

Ilustrasi Investasi.

Bisnis, JAKARTA — Investor pasar modal bakal ketiban tambahan untung pada akhir tahun ini dari aksi pembagian dividen interim oleh sejumlah emiten dengan nilai yang lebih besar dibanding tahun lalu, seiring dengan peningkatan profitabilitas emiten tahun ini.

Meskipun demikian, langkah ini juga perlu disikapi dengan hati-hati, sebab aksi pembagian dividen tentu bakal mengurangi kas emiten yang semestinya bisa dimanfaatkan untuk ekspansi bisnis di tahun pemulihan ekonomi 2022 mendatang.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis per 21 November 2021, setidaknya sudah ada 14 emiten yang akan membagikan dividen interim pada akhir tahun ini.

Nilai total dividen interim tersebut mencapai sekitar Rp7,77 triliun dan US$154,1 juta. Jika semuanya dirupiahnya dengan kurs Rp14.250 per dolar AS, total nilai dividen interim tersebut mencapai Rp9,97 triliun.

Komitmen dividen tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp5,30 triliun.

Beberapa emiten yang akan membagikan dividen interim dalam jumlah besar yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) senilai Rp3,08 triliun, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) Rp2,51 triliun, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) US$94,1 juta, dan PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) US$60 juta.

Ada pula PT Prima Andalan Mandiri Tbk. (MCOL) yang akan membagikan dividen interim Rp749,5 miliar, PT Cikarang Listrindo Tbk. (POWR) senilai Rp326,55 miliar, dan PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) senilai Rp262,61 miliar.

Direktur Utama Indo Tambagraya Megah Mulianto mengatakan bahwa pada tahun ini perseroan mendapat keuntungan maksimal dari kenaikan harga batu bara serta penerapan efisiensi biaya.

“Kinerja keuangan [tetap] solid sekalipun pandemi berkepanjangan dan kegiatan penambangan melambat akibat hujan ekstrim yang terus-menerus,” ujar Mulianto baru-baru ini.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2021, ITMG mencatat perolehan rata-rata harga batu bara sebesar US$89,0 per ton, naik 65 persen dari US$53,8 per ton secara tahunan dengan total volume penjualan 14,8 juta ton.

Penjualan bersih tercatat sebesar US$1,32 miliar pada sembilan bulan pertama 2021, sedangkan margin laba kotor naik 24 persen menjadi 40 persen. Selain itu, EBITDA tercatat sebesar US$514 juta, naik 309 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih naik signifikan sebesar 603 persen dari US$39 juta pada sembilan bulan pertama 2020 menjadi US$271 juta pada periode yang sama tahun ini.

Adapun, dividen interim yang akan dibayarkan perseroan sebesar US$94,1 juta akan segara dengan 80% dari laba bersihnya pada semester pertama tahun ini.

Sementara itu, Direktur Legal serta Sekretaris Perusahaan Matahari Miranti Hadisusilo mengatakan pembagian dividen interim pada akhir tahun ini tidak akan melebihi laba bersih perseroan pada paruh pertama tahun ini.

“Dewan komisaris merevisi kebijakan dividen dengan menetapkan rasio pembayaran adalah 50 persen atau lebih dari laba bersih untuk dibagikan dalam bentuk dividen interim dan dividen final,” kata Miranti.

LPPF berencana membagikan dividen interim sebesar Rp100 per saham pada 2 Desember 2021 berdasarkan visibilitas pemulihan perseroan yang lebih jelas serta neraca dan arus yang kuat.

TETAP WASPADA

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan bahwa investor harus mencermati dividend yield dan likuiditas saham sebelum mengakumulasikan saham-saham emiten yang akan membagikan dividen pada akhir tahun ini.

Dia mengatakan hal itu untuk menghindari dividend trap yaitu ketika dividen dibagikan ternyata yield-nya terlalu besar.

“[Dividend trap] Hanya menghasilkan penguatan sesaat lalu harga turun setelah ex date,” jelas William kepada Bisnis, Senin (22/11).

Selain itu, penting pula investor untuk memperhatikan likuiditas suatu saham. Pasalnya, faktor likuiditas akan berpengaruh ketika investor ingin menjual kembali saham tersebut dengan mudah.

Dari sejumlah saham yang akan memberikan dividen pada akhir tahun ini, William merekomendasikan BBCA, POWR, ITMG, LPPF, dan UNVR untuk dicermati.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, prospek pembagian dividen dari emiten-emiten di pasar modal masih bergantung pada tingkat ketidakpastian yang timbul akibat Covid-19.

"Laporan keuangan emiten memang membaik, tetapi tidak mengubah tingkat ketidakpastian, sehingga tidak membuat semua emiten membagikan dividen interim," kata Nico saat dihubungi Minggu (21/11).

Dia mencontohkan, emiten besar seperti PT Astra International Tbk. (ASII) mampu membagikan dividen interim karena didukung oleh fundamental yang baik dan diversifikasi bisnis yang beragam.

Sebagaimana diketahui, ASII sudah lebih dahulu membagikan dividen interim sebesar Rp45 per saham atau dengan total Rp1,82 triliun pada Oktober 2021 lalu dari hasil laba bersih pada paruh pertama tahun ini.

Dia melanjutkan, banyak perusahaan yang justru menggunakan laba bersih mereka sebagai laba ditahan untuk melakukan ekspansi dan menghadapi ketidakpastian di pasar. Bahkan, emiten-emiten di sektor defensif seperti perbankan, tidak seluruhnya membagikan dividen interim di akhir tahun ini.

Berdasarkan catatan Bisnis, hingga kini hanya tiga emiten sektor perbankan yang membagikan dividen interim, yakni BBCA, PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS), dan PT Bank Bumi Arta Tbk. (BNBA).

"Pembagian dividen interim semuanya itu bergantung pada perusahaannya, exposure covid, dan bagaimana masing-masing perusahaan menghadapi ketidakpastian khususnya di tahun depan," ujar dia.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, bagi manajemen emiten, pertimbangan dalam pembagian dividen adalah kondisi arus kas dan pendanaan belanja modal ke depan.

"Memang pada kuartal IV/2021 ini, banyak emiten yang mengalami peningkatan performa seperti pertumbuhan pendapatan dan laba bersih," kata Alfred.

Selain dari sisi kinerja, emiten juga mempertimbangkan proyeksi realisasi pada 2022 untuk membagikan dividen di akhir tahun ini. 

Menurutnya, dengan proyeksi-proyeksi realisasi 2022 yang lebih baik, hal ini akan memberikan kelonggaran atau keberanian bagi para emiten untuk membagikan dividen interim dari performa tahun buku 2021.

Alfred mencontohkan emiten batu bara masih memiliki ruang yang besar untuk memberikan dividen tahun buku 2021, termasuk dividen interim.

"Dengan ekspektasi harga batu bara sampai saat ini, emiten sangat optimistis performa mereka di tahun 2022 akan kembali mengalami pertumbuhan. Sehingga, secara hitungan cash flow, mereka memiliki ruang yang besar untuk memberikan dividen untuk tahun buku 2021, termasuk dividen interim," ujarnya.

Editor: Emanuel Berkah Caesario
Anda belum memiliki akses untuk melihat konten

Untuk melanjutkannya, silahkan Login Di Sini