Akrobat Investor Menjala Fulus di SBN

Prospek pasar obligasi Indonesia yang tahun ini diliputi cuaca cerah, menjelang peluncuran SBN seri Obligasi Negara Ritel seri ORI025, dengan estimasi masa penawaran 29 Januari—22 Februari 2024.

Redaksi

26 Jan 2024 - 03.59
A-
A+
Akrobat Investor Menjala Fulus di SBN

Ilustrasi SBN./BISNIS

Tahun 2024 menjadi babak baru bagi pasar keuangan Indonesia, terutama dalam instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini sejalan dengan prospek pasar obligasi Indonesia yang tahun ini diliputi cuaca cerah, menjelang peluncuran SBN seri Obligasi Negara Ritel seri ORI025, dengan estimasi masa penawaran 29 Januari—22 Februari 2024.

Prospek pasar SBN yang diramalkan cukup baik disokong oleh sejumlah sentimen positif ekonomi di antaranya proyeksi pemangkasan suku bunga oleh The Fed disertai dengan rilis data positif perekonomian AS.

Di dalam negeri, sentimen juga diliputi optimisme karena situasi ekonomi masih relatif baik lantaran ditopang oleh pertumbuhan PDB nasional yang diperkirakan masih di level 5%. Selain itu, defisit APBN terjaga di bawah 3%. Inflasi yang diperkirakan terus menyusut, potensi penurunan suku bunga acuan BI, serta kebijakan fiskal yang masih kokoh juga menjadi suplemen tambahan bagi calon investor di pasar.

Keadaan dinamis di lingkup eksternal dan internal menjadi respons positif bagi kalangan investor, terutama investor institusi untuk segera berakrobat menjala fulus. Investor segmen ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan fundamental ekonomi yang solid.

Berdasarkan data teraktual dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, terdapat tren signifikan pada 2023 yang mengindikasikan inflow investasi dari berbagai kalangan investor institusi, kecuali dari sektor perbankan.

Meski ada penarikan dana dari perbankan sebesar Rp202,28 triliun, kegiatan investasi pada SBN tetap menunjukkan vitalitas yang mengesankan. Hal ini membuktikan bahwa investor institusi lain seperti manajer investasi, asuransi jiwa, dana pensiun, dan institusi keuangan non-bank lainnya, melihat nilai lebih dalam instrumen pemerintah ini. Adanya kebutuhan reinvestasi dan pemenuhan kewajiban investasi pada SBN juga menjadi faktor pendorong lainnya.

Pada saat yang sama, prospek kenaikan peringkat utang Indonesia juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Kinerja fiskal yang kuat dan kebijakan ekonomi yang tepat dari pemerintah menambah keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Manajer investasi bahkan telah mengantisipasi dampak positif dari sentimen ini, yang diharapkan dapat membawa keuntungan lebih besar pada 2024.

Oleh karena itu, pasar obligasi 2024 diprediksi masih dapat tumbuh lebih baik dibandingkan dengan pasar obligasi pada tahun lalu. Ekspektasi ini, jika terwujud, akan meningkatkan daya tarik SBN karena dapat memengaruhi imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan dengan instrumen lain.

Meski demikian, Harian ini tetap memberikan catatan kritis bahwa di balik sentimen yang terbangun kuat di instrumen SBN, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur masih bisa menjadi faktor negatif yang tak diharapkan.

Peperangan bisa menjadi risiko besar yang mengganggu pertumbuhan ekonomi global karena berdampak langsung pada terhambatnya rantai pasokan global serta potensi memanasnya harga minyak mentah. Dampak dari instabilitas geopolitik yang panjang dikhawatirkan bisa menjalar ke perekonomian dalam negeri.

Selain itu, perlu diwaspadai munculnya risiko dari tekanan penerbitan obligasi pemerintah pada paruh pertama tahun ini karena akan melakukan lelang lebih banyak pada paruh pertama (front-loading issuance policy).

Juga kemungkinan terjadinya pelebaran selisih yield antara SBN Indonesia dan yield US Treasury, sehingga membuat pasar obligasi Indonesia menjadi kurang menarik. Kondisi ini dapat terjadi apabila pendapatan ekspor Indonesia turun akibat pelemahan harga komoditas global.

Dalam jangka pendek, investor juga perlu memperhatikan volatilitas yang kemungkinan masih tinggi baik di pasar obligasi global maupun domestik karena ekspektasi yang cukup besar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Namun, dalam jangka panjang, pada saat terjadi pemangkasan suku bunga acuan, hal itu menjadi peluang terbaik bagi pergerakan SBN.

Nah, optimisme investor yang terbangun cukup baik terhadap prospek pasar keuangan Indonesia pada awal tahun ini, menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi negara. Dengan demikian, investor institusi yang menjadi pemain kunci perlu didukung penuh dalam menggerakkan roda ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.