Free

Alasan Apple Bepotensi Didenda Rp8,43 Triliun di Uni Eropa

Apple Inc. berisiko membayar denda senilai 500 juta euro atau sekitar Rp8,43 triliun di Uni Eropa menyusul penyelidikan regulator atas tuduhan monopoli di App Store.

Redaksi

19 Feb 2024 - 15.42
A-
A+
Alasan Apple Bepotensi Didenda Rp8,43 Triliun di Uni Eropa

Ilustrasi produk Apple Inc./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Apple Inc. berisiko membayar denda senilai 500 juta euro atau sekitar Rp8,43 triliun di Uni Eropa menyusul penyelidikan regulator atas tuduhan monopoli di App Store.

Melansir Bloomberg, Senin (19/2/2024), denda tersebut merupakan denda pertama Apple di Uni Eropa dan akan ditetapkan setelah pengawas blok tersebut membuktikan bahwa Apple melanggar peraturan persaingan usaha dengan mencegah layanan musik pesaingnya, termasuk Spotify, untuk menginformasikan kepada para pengguna bahwa ada alternatif yang lebih murah di luar App Store.

Ketika dihubungi untuk dimintai komentar, Apple merujuk pada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa App Store telah membantu Spotify menjadi layanan streaming musik teratas di seluruh Eropa.

Investigasi Uni Eropa terhadap App Store Apple dipicu oleh keluhan hampir empat tahun yang lalu dari Spotify, yang menyatakan bahwa mereka dipaksa untuk menaikkan harga langganan bulanannya untuk menutupi biaya yang terkait dengan dugaan cengkeraman Apple terhadap bagaimana App Store beroperasi.

Dalam sebuah pertemuan tertutup antara pejabat Uni Eropa dan Apple pada bulan Juni tahun lalu, perusahaan teknologi ini mengatakan kepada regulator bahwa mereka telah menangani masalah persaingan yang mungkin timbul dari keluhan Spotify.

Dalam penyelidikan terpisah, Apple akan menerima proposal penyelesaian dalam penyelidikan Uni Eropa atas teknologi tap-and-pay-nya.

Komisi Eropa siap menerima tawaran dari Apple untuk membuka akses ke chip komunikasi jarak dekat di iPhone untuk menyaingi dompet digital, setelah tes pasar menerima umpan balik yang positif.

Langkah Apple untuk menyelesaikan kasus ini muncul setelah pengawas Uni Eropa sebelumnya menyampaikan kekhawatiran resmi bahwa perusahaan tersebut telah membatasi akses ke teknologi tersebut, yang merupakan dugaan penyalahgunaan kekuatan pasarnya.


Kepala persaingan usaha Uni Eropa Margrethe Vestager menjadikan tawaran tersebut sebagai strategi utama untuk membongkar dominasi perusahaan teknologi besar di blok tersebut.

Sebelumnya, Vestager mendenda Google senilai lebih dari 8 miliar euro dan memerintahkan Apple untuk membayar 13 miliar euro atas dugaan keringanan pajak yang tidak adil dari Irlandia.

Regulator Uni eropa sekarang sedang bersiap-siap untuk memberlakukan Undang-Undang Pasar Digital (DMA) yang akan mulai berlaku pada 7 Maret. Aturan baru yang luas ini dimaksudkan untuk mencegah pelanggaran persaingan usaha oleh perusahaan-perusahaan teknologi sebelum mereka mengakar.

Di bawah DMA, perusahaan-perusahaan yang paling kuat akan melanggar hukum jika mengutamakan layanan mereka sendiri daripada layanan pesaing.

Mereka akan dilarang menggabungkan data pribadi di berbagai layanan mereka, dilarang menggunakan data yang mereka kumpulkan dari pedagang pihak ketiga untuk bersaing dengan mereka, dan harus mengizinkan pengguna untuk mengunduh aplikasi dari platform pesaing.

Baca Juga : PBOC Tahan Pangkas Suku Bunga di Tekanan Ekonomi 

Apple Vision Dikembalikan

Sejumlah pembeli pertama kacamata VR/AR milik Apple, Vision Pro, mengembalikan produk tersebut ke toko tempat mereka membeli. Para pembeli merasa tidak nyaman, pusing, hingga mual setelah menggunakan kacamata seharga US$3.500 atau Rp54,7 juta itu. 

Dilansir dari The Verge, Senin (19/2/2024), pengguna juga mengeluhkan bobot perangkat yang berat, yang sebagian besar berada di bagian depan. 

Seorang insinyur lain juga mengungkapkan pengalaman negatifnya di media sosial X, mengeluhkan bahwa pengalaman pemrograman di Vision Pro tidak meyakinkan dan masalah fokusnya menyebabkan sakit kepala.

Pakar produk Parker Ortolani berpendapat Apple Vision Pro dapat menyebabkan pembuluh darah di mata pecah. Setidaknya satu orang mengalami pengalaman serupa dengan mata memerah.

"Meskipun begitu menyenangkan digunakan seperti yang saya harapkan, itu sangat tidak nyaman untuk dipakai bahkan untuk jangka waktu singkat karena bobotnya dan desain strapnya. Saya ingin menggunakannya, tetapi saya membencinya setiap kali harus mengenakannya," kata Ortolani. 

Baca Juga : Resesi di Jepang Buktikan Ekonomi Terus Alami Kemunduran 

Diketahui, Vision Pro pertama kali dijual oleh Apple pada 2 Februari 2024. Apple memperbolehkan pengembalian produk dalam waktu 14 hari setelah pembelian dan untuk gelombang pertama pembeli Vision Pro.

Adapun 2 pekan setelah diluncurkan, sebagian pembeli Apple Vision Pro merasa sudah kehilangan sensasi awalnya. Bukanlah kebetulan bahwa ada lonjakan pengguna Vision Pro yang mengumumkan pengembalian headset mahal tersebut dalam beberapa hari terakhir. 

"Ini terlalu mahal dan sulit untuk mencoba terbiasa dengan sakit kepala dan ketegangan mata yang saya alami,” kata Ortoloni.

Sementara itu salah seorang pengguna Reddit menambahkan bahwa jika perangkat ini tidak memberikan produktivitas yang memadai, tidak cocok untuk hiburan, dan terdapat sedikit games yang tersedia. Dia merasa Apple Vision Pro tidak butuh disimpan. 

Pendapat yang serupa juga disampaikan Manajer Senior Google Carter Gibson. Dia kesulitan dalam melakukan multitasking antar ‘windows’. Gibson juga meragukan efisiensi dalam membuat slide di Vision Pro dibandingkan dengan menggunakan mouse dan keyboard. 

Kelompok pengguna awal yang bersuara lantang ini akan memengaruhi masa depan Vision Pro. Sebagian besar dari mereka yang mengeluhkan masalah dengan perangkat ini juga menyatakan keinginan untuk mencoba generasi kedua dari Vision Pro.(Muhammad Diva Farel Ramadhan, Aprianto Cahyo Nugroho)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.