Free

Alasan di Balik Lesunya Simpanan Nasabah Tajir Jelang Lebaran

OJK membeberkan penyebab simpanan nasabah tajir justru melesu jelang Lebaran.

Arlina Satiti Mugi Laras

5 Apr 2024 - 21.03
A-
A+
Alasan di Balik Lesunya Simpanan Nasabah Tajir Jelang Lebaran

Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lesunya Dana Pihak Ketiga (DPK) lantaran pertumbuhan DPK dengan nominal di atas Rp5 miliar yang cenderung melambat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, adanya preferensi penggunaan dana internal korporasi untuk kebutuhan operasional dan ekspansi perusahaan.

“Selain itu, perlambatan DPK juga disebabkan penggunaan dana atau simpanan untuk konsumsi masyarakat yang kembali meningkat pasca pandemi, serta dampak dari perpindahan dana dari instrumen perbankan (DPK) ke alternatif investasi lainnya,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (5/4/2024)

Adapun, perlambatan DPK yang terjadi khususnya di tahun lalu disebabkan beberapa faktor di antaranya high based effect pertumbuhan DPK pada akhir 2022, utamanya karena terdapat peningkatan dana yang tinggi dari korporasi.

Baca Juga: Negosiasi ‘Merger’ Bank Nobu-Bank MNC Tak Usai Juga

Berdasarkan posisi Februari 2024, DPK tumbuh 5,66% yoy menjadi Rp8.441 triliun dari tahun sebelumnya yang tumbuh 8,18% yoy. Pertumbuhan DPK ditopang KBMI 4 yang tumbuh 7,88% yoy,  meskipun melambat dari 9,78% yoy serta KBMI 1 yang tumbuh 4,85% yoy atau naik dari 3,96% yoy pada tahun sebelumnya. 

Berdasarkan jenis DPK, pertumbuhan DPK didorong oleh Deposito yang tumbuh meningkat yaitu 5,35% yoy dari 4,85% yoy pada tahun sebelumnya serta Giro yang tumbuh 7,33% yoy meskipun melambat dari 16,20% yoy. 

Baca Juga: Peta Persaingan Aset Bank Kelas Dua di Tengah Marak Aksi Konsolidasi

Adapun pertumbuhan deposito yang meningkat sejalan dengan kenaikan suku bunga sedangkan petumbuhan giro yang masih cukup tinggi sejalan dengan pertumbuhan kredit. Pertumbuhan DPK di tahun 2024 diperkirakan meningkat pada kisaran 7-9% meskipun masih di bawah pertumbuhan kredit. 

Namun demikian, OJK menilai kondisi likuiditas bank saat ini masih cukup baik terutama untuk mendukung penyaluran kredit. 

Hal ini dapat ditunjukkan dengan rasio likuiditas seperti LDR yang sebesar 84,05%, yang di bawah 90% serta kecukupan likuiditas untuk mengantisipasi penarikan dana yaitu AL/NCD dan AL/DPK masing-masing 121,98% dan 27,41% atau jauh di atas threshold. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.