Analisis Menteri Perhubungan jika Motor Listrik Laku di Pasaran

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendorong seluruh pihak untuk berkolborasi menciptakan motor listrik dengan harga ekonomis.

Jaffry Prabu Prakoso

29 Sep 2022 - 10.48
A-
A+
Analisis Menteri Perhubungan jika Motor Listrik Laku di Pasaran

Petugas mengecek kendaraan listrik yang dipamerkan dalam Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Pameran kendaraan listrik yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut berlangsung dari 28 hingga 30 September 2022. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

JAKARTA – Pemerintah tengah mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, baik untuk motor listrik maupun mobil listrik. Faktor harga dinilai menjadi pendorong agar peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke listrik bisa berjalan mulus.

Untuk itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendorong seluruh pihak mulai dari pelaku industri hingga perguruan tinggi untuk berkolaborasi dalam menciptakan kendaraan listrik dengan harga ekonomis.

"Kalau harga motor listrik Rp16 juta dengan kondisi motor yang menarik dan kualitas baterai yang baik, ini akan sangat menarik bagi masyarakat," kata Budi Karya saat membuka Indonesia Electric Motor Show 2022 (IEMS 2022) di JCC, Jakarta, dikutip dari siaran pers, Kamis (29/9/2022).


Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan komisi V DPR,  di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja


Menurutnya, terdapat tiga upaya dalam menciptakan kendaraan listrik yang lebih ekonomis. Pertama, membuat baterai dengan harga kompetitif tapi memiliki daya jelajah yang tinggi.

Kedua, memproduksi motor produk dalam negeri. Ketiga, memperbanyak stasiun pengisian baterai.

"Apabila ketiga hal ini dilakukan dengan sistematis akan memberikan harga kendaraan listrik yang relatif lebih murah," ucapnya.

Budi mengatakan bahwa jika harga kendaraan listrik menjadi lebih murah, ekuilibrium keekonomian kendaraan listrik diharapkan tercipta sehingga tercipta keseimbangan antara jumlah unit yang diproduksi dengan penggunanya.

"Pada titik tertentu akan terjadi jumlah ledakan antara produksi dengan pengguna kendaran listrik. Saya yakin kendaraan listrik memiliki masa depan yang baik," tutur Budi Karya.


Baca juga: Usaha Patungan GOTO dan TOBA Target Pasok 2 Juta Motor Listrik


Dia mengungkapkan bahwa sejumlah upaya dilakukan pemerintah untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik setelah dilakukan melalui sejumlah regulasi dan kebijakan. Di samping itu, upaya pemerintah juga didukung oleh kolaborasi dari perguruan tinggi, peneliti, dan sektor industri.

"Regulasi dan kebijakan dari pemerintah, serta kajian dan penelitian dari perguruan tinggi akan menjadi lengkap ketika industri melakukan inovasi dan menangkap peluang industri kendaraan listrik yang potensinya sudah terlihat di depan mata," ungkapnya.

Masukan Pengusaha

Pengusaha berharap pemerintah meningkatkan efisiensi biaya investasi, usaha, serta rantai pasok agar investor berminat menanamkan modal terkait dengan upaya akselerasi penggunaan kendaraan dan perangkat lain berbasis listrik.

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani, langkah RI dalam memasifkan penggunaan perangkat berbasis listrik dapat menarik minat investor sangat bergantung faktor-faktor tersebut. 

"Apakah akan menarik investor? Kembali ke iklim usaha dan investasi. Seberapa jauh upaya pemerintah meningkatkan efisiensi biaya investasi, usaha, dan supply chain untuk, misalnya, produksi kendaraan listrik," kata Shinta kepada Bisnis Selasa (27/9/2022).

Sebab, jelasnya, minat investasi tidak semata didorong oleh permintaan pasar, tapi juga dari sisi efisiensi, kelancaran produksi dan rantai pasokan, serta persaingan pasar electric vehicle dan perangkat berbasis listrik lainnya.

Sebagai salah satu sektor yang paling disorot dalam upaya akselerasi produksi perangkat berbasis listrik, sampai dengan saat ini terdapat 21 industri perakitan kendaraan roda empat atau lebih dengan total investasi mencapai Rp139,36 triliun.


Baca juga: Persaingan Sengit Emiten Berebut Pangsa Pasar Motor Listrik


Investasi tersebut berasal dari Jepang sebesar Rp116,1 triliun (83,31%), disusul Korea sebesar Rp10,54 triliun (7,56%) dan China sebesar Rp11,3 triliun (8,11%). Selebihnya investasi dari Uni Eropa dan dalam negeri, yaitu sebesar Rp1,42 triliun (1,02 %).

"Jadi, iklim usaha dan investasi di Indonesia untuk produksi produk rendah emisi seperti EV dan kompor listrik setidaknya harus seefisien dan sekompetitif biaya di negara kompetitor, khususnya Asean. Kalau tidak, yang akan terjadi hanya impor saja." sambung Shinta.

Kendati demikian, kalangan pelaku industri optimistis mampu mengimbangi upaya pemerintah mengakselerasi penggunaan perangkat berbasis listrik, asalkan disertai dengan penyesuaian-penyesuaian.

Shinta mengatakan bahwa upaya percepatan kendaraan ataupun perangkat berbasis listrik bisa dipercepat dengan penyesuaian.


Konvoi kendaraan listrik yang dilakukan PLN untuk menyosialisasikan penggunaan kendaraan listrik./Istimewa


Salah satu langkah penyesuaian yang dinilai wajib dipertimbangkan oleh Pemerintah salah satunya adalah pertumbuhan kapasitas produksi industri yang bergerak di sektor kendaraan ataupun perangkat lain berbasis listrik.

"Kalau semua perangkat mau diganti dengan instrumen berbasis listrik dalam semalam, industri akan kewalahan. Seharusnya disesuaikan dengan pertumbuhan kapasitas produksi pelaku usaha kendaraan dan appliances berbasis listrik," kata Shinta. (Dany Saputra dan Rahmad Fauzan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.