Anggaran Belanja Modal Deras, Momentum Emiten Kian Ekspansif

Emiten masih memiliki alokasi belanja modal yang cukup besar untuk dikucurkan pada kuartal II/2022 atapun hingga akhir tahun ini. Hal itu didukung dengan melandainya pelonggaran PPKM hingga harga komoditas yang masih tinggi.

Asteria Desi Kartikasari
May 12, 2022 - 7:58 PM
A-
A+
Anggaran Belanja Modal Deras, Momentum Emiten Kian Ekspansif

Capex/Istimewa

Bisnis, JAKARTA— Pelongaran PPKM di tengah kasus Covid-19 yang melandai berpotensi menjadi momentum bagi sejumlah emiten untuk menggenjot ekspansi . Aksi itu dapat dilakukan dengan  mengucurkan belanja modal yang lebih deras pada sisa tahun ini. 

Ke depannya, emiten masih memiliki  alokasi belanja modal yang cukup besar untuk dikucurkan pada kuartal II/2022 atapun hingga akhir tahun ini. Harga komoditas yang masih tinggi menjadi salah satu katalis bagi emiten di sektor tersebut untuk mengucurkan belanja modal yang lebih besar. 

Meskipun di sisi lain, tekanan bahan baku yang dialami emiten sektor barang konsumsi dan konsumen komoditas berisiko menjadi penghambat realisasi belanja modal karena emiten menjaga tingkat likuiditas dan kas.

Belum lagi, gejolak ekonomi akibat konflik geopolitik dan pengetatan moneter global bisa menjadi pertimbangan bagi emiten untuk menunda ekspansi hingga kondisi menjadi lebih kondusif. 

Namun, pada awal 2022, sejumlah emiten cukup percaya diri untuk mengerek alokasi belanja modal. Misalnya saja,  PT Astra International Tbk. (Astra)  yang mengalokasikan capex hingga Rp19 triliun,PT  United Tractors  Tbk. US$750 juta, dan  PT Adaro Energy Tbk.  hingga US$400 juta. Selain itu, emiten sektor pertambaangaan ABM Investama bersiap menggelontorkan capex US$200 juta untuk pengadaan alat berat dan peralatan pendukung operasional di tengah harga batu bara yang masih panas. 

Kendati demikian pada kuartal I/2022, serapan belanja modal emiten cenderung rendah. Salah satunya tecermin dari belanja modal TLKM yang tercatat Rp5,9 triliun dari alokasi sekitar Rp30 triliun. Namun, ADRO sudah menyerap belanja modal US$70 juta pada 3 bulan pertama 2022 atau naik 71 persen  secara tahunan. 


Emiten konglomerasi, Astra dengan kode saham ASII telah mempersiapkan belanja modal yang lebih besar pada tahun ini untuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi pada tahun ini.

Head of Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengungkapkan realisasi belanja modal perseroan telah mencapai Rp3,8 triliun pada kuartal I/2022.
 
“Kalau melihat belanja modal Astra pada 2020 kami hanya belanjakan Rp8 triliun, sebelum pandemi, 2019, belanja modal kami itu Rp21 triliun, capex konsolidasi kami,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Namun, anggaran capital expenditure tersebut anjlok karena pandemi Covid-19 menjadi Rp8 triliun pada 2020. Pada 2021, belanja modal Astra mulai ditingkatkan menjadi Rp9,2 triliun. Selanjutnya, pada 2022, ASII ini berencana membelanjakan antara Rp18-Rp20 triliun atau bisa dikatakan hampir menyamai level sebelum pandemi.
 
“Ini tentunya sejalan dengan kegiatan ekonomi dan bisnis di tanah air juga yang kami lihat semakin membaik, situasi mobilitas masyarakat juga sudah semakin membaik, kegiatan ekonomi juga sudah mulai meningkat karena adanya pelonggaran-pelonggaran pembatasan, pandemi sudah terkendali, mudah-mudahan menjadi endemi,” tuturnya.
 
Geliat ekonomi ini lanjutnya menimbulkan optimisme bagi dunia bisnis termasuk Astra dan ekonomi Indonesia. Geliat ekonomi ini diharapkan dapat memberikan efek domino yang baik bagi Astra, apalagi harga komoditas masih bertahan di level cukup tinggi. “Belanja modal Astra per lini bisnis memang hampir 55—60 persen grup alat berat pertambangan di susul infrastruktur dan logistik dan lini bisnis lain,” terangnya.
 
Dia menyebut belanja modal ini cukup merata pada 7 lini bisnis utamanya, tetapi belanja modal yang di luar belanja modal rutin sangat bergantung pada kemajuan proyek-proyek yang ada dalam rencana grup Astra.

Sementara dari emiten pelayaran, PT Pelita Samudera Shipping Tbk. (PSSI) juga berencana memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi dan naiknya harga komoditas dengan membeli kapal baru pada kuartal III/2022 atau kuartal IV/2022.

Direktur Pelita Samudera Shipping Harry Tjhen menjelaskan dari sisi belanja modal perseroan baru saja merealisasikan belanja US$3 juta atau Rp42,9 miliar untuk pemeliharaan kapal pada kuartal I/2022. “Total anggaran belanja modal pada 2022 itu kurang lebih bisa mencapai antara US$12—US$15 juta, tak menutup kemungkinan bertambah kalau ada aset baru dan kesempatan di market saat ini,” paparnya.
 
Sebenarnya, pada kuartal II/2022 ini perseroan juga tengah memanfaatkan momentum untuk merealisasi pembelian kapal baru, tetapi masih dalam tahap pembicaraan sehingga belum dapat mengkonfirmasi lebih lanjut. Dia menyebut seiring meningkatnya harga komoditas seperti batu bara yang menjadi komoditas angkutan utamanya membuat perseroan optimistis menghadapi 2022.

“Pada kuartal I/2022 kami sewakan kapal ke salah satu top five penambang terbesar di Kalimantan Selatan. Ini strategi optimalisasi profit margin di 2022, yang notabene sangat bagus,” tuturnya.

Sementara dari emiten tambang Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), telah merealisasikan sekitar US$30 juta atau setara Rp437,55 miliar  untuk belanja modal. Perseroan akan fokus membelanjakan alokasi capex untuk bisnis pertambangan di Australia.

Direktur DSSA Alex Sutanto mengatakan realisasi capex selama kuartal I/2022 setara dengan 21 persen dari alokasi total untuk tahun ini. Dia mengatakan perusahaan menyiapkan sekitar US$137 juta atau Rp1,99 triliun untuk belanja modal.

“Jadi untuk capex di kuartal I/2022 realisasi di sekitar US$30 juta, sedangkan target alokasi pada 2022 kami secara konsolidasian adalah US$137 juta. Terutama untuk bisnis pertambangan di Australia,” kata Alex.

Alokasi capex DSSA untuk 2022 lebih tinggi dibandingkan dengan 2021 yang ditetapkan sebesar US$67 juta. Namun mengacu pada laporan keuangan perusahaan, jumlah kas bersih yang digunakan DSSA untuk investasi mencapai US$210,95 juta sepanjang 2021.

Adapun pada 2021 DSSA mencatatkan pendapatan usaha senilai US$2,16 miliar, jumlah ini lebih besar dari pendapatan usaha US$1,50 miliar pada 2020.

Emiten lainnya, PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT)  akan menganggarkan belanja modal hingga Rp210 miliar untuk tahun 2022. Direktur MLPT Hanny Untar mengatakan, belanja modal perseroan ini akan digunakan untuk kebutuhan internal MLPT sebesar Rp6 miliar dan untuk anak usaha PT VisioNet Data Internasional sebesar Rp204 miliar.
 
 “Untuk anak usaha, VisioNet sebesar Rp204 miliar. VisioNet merupakan perusahaan IT Services, sehingga VisioNet menyewakan printer, EDC kartu kredit, dan personal computer. Capex itu untuk penyewaan,” kata Hanny, dalam paparan publik MLPT Rabu (11/5/2022).
 
 Hanny melanjutkan, dana capex ini akan berasal dari kas internal dan tidak menutup kemungkinan dengan pendanaan dari luar perseroan.


Pemulihan Ekonomi
 
 Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Roger M. M. mengatakan, pelonggaran PPKM menjadi katalis positif untuk dunia bisnis secara umum. Selain itu, menurutnya tanda pemulihan ekonomi secara bertahap juga terlihat dari data ekonomi April dengan PMI 51,9 dan PDB kuartal I/2022 yang mencapai 5,01 persen.
 
Dengan pemulihan tersebut, Roger melihat beberapa emiten mengisyaratkan akan menggenjot belanja modal  terkait dengan pemulihan ekonomi. Emiten-emiten tersebut di antaranya ASII, PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).
 
 “Kalau melihat dari sektoral, sektor energi menjadi salah satu sektor yang akan merealisasikan capex dalam jumlah besar dibanding tahun sebelumnya,” kata Roger dihubungi, Kamis (12/5/2022).
 
Menurutnya, katalis bagi sektor energi datang dari kenaikan harga komoditas. Dengan katalis tersebut, Roger menilai emiten-emiten sektor energi kemungkinan akan mengembangkan kawasan tambang mereka, serta melakukan penambahan alat berat.

“Kenaikan harga komoditas ini juga dijadikan momentum untuk menaikkan produksi sehingga Capex yang dianggarkan akan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya,” ucapnya.

(Reporter: Rinaldi  M. Azka, Iim Fathimah Timorria)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Anggaran Belanja Modal Deras, Momentum Emiten Kian Ekspansif

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ