Asing lego SBN, Industri Asuransi & Dapen Masih Mau Borong

Sektor asuransi dan dana pensiun masih akan menampung surat berharga negara sebagai strategi investasi, meski banyak investor asing yang justru melego.

Aziz Rahardyan

24 Sep 2022 - 21.34
A-
A+
Asing lego SBN, Industri Asuransi & Dapen Masih Mau Borong

Pekerja melakukan pemasangan logo Indonesia Financial Group (IFG) di Jakarta, Selasa (11/1/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA— Gejolak ekonomi membuat pasar surat berharga negara (SBN) Indonesia menjadi kurang menarik di mata investor asing. Kendati begitu, sektor asuransi dan dana pensiun diramal terus melakukan aksi borong hingga dua tahun mendatang. 

Research Associate IFG Progress Rizky Rizaldi Ronaldo mengungkap bahwa fenomena tersebut didorong oleh kecenderungan para pemain untuk menerapkan startegi investasi yang semakin konservatif di tengah potensi ketidakpastian. 

“Ketika asing jual SBN kita, asuransi dan dana pensiun masuk dengan nilai lebih dari Rp170 triliun sepanjang tahun berjalan, dan menurut catatan kami merupakan yang terbesar selama satu dekade terakhir. Dalam waktu dekat, kami lihat masih akan terus bertambah,” ujarnya dalam diskusi terbatas bersama media, dikutip Kamis (22/9/2022).

Fenomena ini tercermin dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan terkait kepemilikan SBN dan SBSN per 21 September 2022, di mana kepemilikan asuransi dan dana pensiun mengambil porsi Rp831,1 triliun atau 16,4 persen dari total.

Sebagai pembanding, total kepemilikan asuransi dan dana pensiun di SBN dan SBSN pada awal tahun memiliki porsi Rp665,36 triliun atau 14 persen. Sementara pada Juni 2022, porsinya Rp772,65 triliun atau 15,9 persen dari total. Tren nominal kepemilikan asuransi dan dana pensiun di setiap akhir bulan pun belum pernah menurun sama sekali sepanjang tahun ini.

IFG Progress melihat bahwa strategi memborong SBN turut didorong kecenderungan sektor asuransi dan dana pensiun memanfaatkan kemampuannya menahan SBN secara jangka panjang, walaupun harganya berpotensi merosot dalam waktu dekat.

Meskipun ada pula faktor lainnya, misalnya saja dalam rangka memenuhi kewajiban regulasi tertentu, atau karena instrumen pendapatan tetap (fixed income) lain seperti obligasi korporasi belum begitu menarik karena pilihannya terbatas.

Baca Juga: Klaim Asuransi Kredit Melejit, Tanda Bahaya Bagi Industri

Terlebih, IFG Progress melihat adanya kemungkinan Indonesia memasuki periode kurva imbal hasil terbalik alias inverted yield curve, di mana imbal hasil surat utang jangka pendek justru lebih tinggi ketimbang imbal hasil surat utang jangka panjang.

Proyeksi ini merupakan kombinasi dari peluang tren terus terdongkraknya suku bunga acuan untuk mengimbangi lonjakan inflasi, dampak konflik geopolitik, ketidakpastian kondisi perekonomian nasional selama periode endemi, serta kondisi ketidakpastian memasuki tahun politik alias periode 2024.

Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Terlebih, pada tahun politik nanti akan berlangsung pergantian presiden, yang secara historis memperbesar peluang munculnya ketidakstabilan kondisi perekonomian nasional dalam jangka waktu pendek-menengah.

Beberapa faktor tersebut diramal memperkuat kemungkinan SBN bertenor panjang terus dilego investor asing dalam beberapa waktu ke depan, di mana setelah itu para pemain asuransi dan dana pensiun lokal yang akan menjadi penampungnya.

Baca Juga: Susul SEA Ltd, Big Tech Asing Diramal Kepincut Asuransi RI

Oleh sebab itu, Research Associate IFG Progress Mohammad Alvin Prabowosunu dalam kesempatan yang sama menambahkan bahwa tantangan buat para pemain dalam dua tahun ke depan akan berada dari sisi berkurangnya fleksibilitas untuk mendongkrak kinerja investasi.

“Ketika fenomena ini terjadi, di mana ekspektasi terhadap yield obligasi tenor pendek terus menguat dan habis itu harga obligasi tenor panjang turun, tentu ini akan berdampak terhadap entitas seperti dana pensiun, yang punya ketentuan harus menjaga penempatan dana kelolaannya ke instrumen fixed income dalam persentase tertentu,” ujarnya.


Research Associate IFG Progress Afif Narawangsa Luviyanto mengatakan fenomena ini turut berpeluang membuat produk dari beberapa lini bisnis asuransi harganya naik, lantaran tingkat risiko yang tak sebanding dengan kinerja investasi.

“Selain itu, ada juga potensi pelemahan pendapatan premi karena proyek-proyek yang diasuransikan berkurang, sebab inverted yield curve secara umum akan berdampak ke banyak sektor,” jelas Afif.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penempatan investasi asuransi jiwa, asuransi umum, dan dana pensiun terhadap SBN per Juli 2022, ketiganya pun kompak mencatatkan peningkatan.

Penempatan para pemain industri asuransi jiwa ke SBN meningkat sekitar 17 persen (year-to-date/ytd) menjadi Rp123,83 triliun. Adapun asuransi umum naik 29 persen ytd menjadi Rp23,82 triliun. Sementara itu, dana pensiun pun naik 5,5 persen menjadi Rp97,78 triliun.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.