Asuransi Andalkan Produk Tradisional Saat Unit-Linked Sedang Payah

Perusahaan asuransi masih berjibaku menyesuaikan penjualan produk unit-linked alias Paydi seiring aturan OJK terbaru yang sudah berlaku selama 2 tahun.

Rika Anggraeni

11 Feb 2024 - 20.29
A-
A+
Asuransi Andalkan Produk Tradisional Saat Unit-Linked Sedang Payah

Ilustrasi asuransi./BISNIS

Bisnis, JAKARTA — Hampir menginjak tahun kedua usai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Surat Edaran OJK Nomor 5/SEOJK.05/2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (SEOJK 5/2022) pada 14 Maret 2022, perusahaan asuransi masih berjibaku menyesuaikan penjualan produk unit-linked alias Paydi.

Penerbitan ketentuan Paydi ini untuk meningkatkan aspek pelindungan konsumen, tata kelola, manajemen risiko bagi perusahan asuransi agar pemasaran tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

Di sisi lain, juga ada perusahaan asuransi yang telah menyesuaikan produk unit-linked sebagaimana yang diminta regulator.

Dosen/Praktisi Manajemen Risiko, dan Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Wahyudin Rahman bahwa sampai dengan akhir November 2023, produk unit-linked masih mengalami kontraksi. Hal ini karena perlambatan penjualan di tengah perusahaan menerapkan SEOJK 5/2022 Paydi.

“Kondisi 2024, saya rasa akan mulai reborn, namun karena volatilitas situasi politik menjelang Pemilu dan kondisi perekonomian setelah Pemilu sampai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di November 2024, kemungkinan besar stabil di awal tahun 2025,” kata Wahyudin kepada Bisnis, Selasa (6/2/2024).

Wahyudin tak menampik produk tradisional masih akan mendominasi pendapatan premi di industri ini. Kondisi ini, ungkap dia, juga didukung karena hadirnya perusahaan asuransi yang baru dimiliki dari lembaga voluntary ternama yang memberikan jaminan dan fitur menarik kalangan milenial dan gen Z.

Kendati demikian, menurut Wahyudin, perusahaan asuransi jiwa sudah dapat menyesuaikan SEOJK Paydi dan kembali normal pada tahun naga kayu 2024.

“Namun kondisi perekonomian termasuk di dalamnya tingkat suku bunga menjadi pertimbangan pembeli produk Paydi untuk menahan dan menggunakan instrumen investasi yang low risk,” ungkapnya.

Tradisional Jadi Tumpuan

Sepakat, sejumlah perusahaan asuransi jiwa pun menyampaikan bahwa produk tradisional akan tetap mendominasi di tahun ini.

Perusahaan asuransi jiwa PT Asuransi BRI Life (BRI Life), misalnya, perusahaan masih tetap menyesuaikan produk dengan kebutuhan dan segmen nasabah yang mengarah ke tradisional.

Plt Direktur Utama BRI Life I Dewa Gede Agung mengatakan bahwa saat ini sebagian besar nasabah BRI Life membutuhkan produk proteksi tradisional atau noninvestment. “Sehingga kami lebih fokus ke sana [produk tradisional],” kata Dewa kepada Bisnis.

Untuk itu, Dewa memproyeksi produk proteksi tradisional atau noninvestment masih tetap mendominasi portofolio BRI Life ke depan.

“Tetapi tentu saja kita akan selalu menjaga keseimbangan diversifikasi produk baik itu berupa credit life, produk mikro, term individual, grup, termasuk juga unit-linked,” imbuhnya.

Baca Juga : Asuransi Aspan Dibubarkan, Batas Waktu Tagihan 60 Hari 

Per Desember 2023, BRI Life mencatat kinerja unit-linked jumlah unit dalam pengelolaan mencapai lebih dari Rp3 triliun.

Perusahaan menyampaikan bahwa untuk porsi new business premium sejalan dengan inisiatif dari BRI Life pada tahun lalu untuk lebih fokus ke produk proteksi tradisional atau noninvestment menyebabkan porsi new business premium dari unit-linked sekitar 8,5% dari total new business premium sepanjang 2023.

Kinerja BRI Life menorehkan prestasi dengan meraih dua penghargaan. Pertama, mendapatkan predikat Living Legend Company in Fulfilling the Need for Life Insurance Protection for the Community Kategori Silver untuk Perusahaan berusia minimal 25 tahun, melalui gelaran penghargaan eksklusif Indonesia Living Legend Awards 2024.

Penghargaan ini diberikan kepada Asuransi BRI Life, sebagai apresiasi dimana BRI Life merupakan salah satu perusahaan asuransi jiwa yang selama 36 tahun terus aktif dalam berinovasi, sehingga menghasilkan kinerja terukur serta reputasi dan inovasi terbaik yang dapat dibanggakan guna mendukung lajunya bisnis usaha.

“BRI Life berkomitmen terus berupaya memberikan yang terbaik bagi nasabah dan masyarakat, hal ini tentunya juga ditopang oleh kinerja perusahaan yang kondusif agar tercipta iklam perusahaan yang positif dari seluruh aspek, sehingga BRI Life akan dapat terus bertahan dan berkembang ke arah yang lebih baik," kata Direktur Operasional BRI Life Yossie William Iroth.

Penghargaan kedua yakni The Best Indonesia Enterprises Risk Management VI - 2024 Gold Award - Excellent - Category : Life Insurance, dari Economic Review. Apresiasi ini merupakan bentuk pengakuan atas prestasi perusahaan yang telah sukses menerapkan manajemen risiko, sehingga perusahaan tersebut dapat berkinerja dengan baik, serta bertumbuh kembang.

Baca Juga : Tak Kunjung Surut Beban AJB Bumiputera Memasuki Usia 112 Tahun 

Di sisi lain, PT BNI Life Insurance (BNI Life) memproyeksi produk tradisional masih akan mendominasi pendapatan premi perusahaan pada 2024. Hal itu seiring dengan langkah perusahaan yang masih menyesuaikan penjualan produk unit-linked.

Plt. Direktur Utama BNI Life Eben Eser Nainggolan menuturkan bahwa sampai dengan saat ini, BNI Life masih melakukan penyesuaian terhadap pemasaran produk unit-linked.

“Dikarenakan kondisi saat ini masih di awal tahun, sehingga perusahaan belum dapat memprediksi penjualan [produk unit-linked] di tahun ini,” kata Eben kepada Bisnis.

Di tahun ini, BNI Life memproyeksi premi produk unit-linked perusahaan akan mencapai Rp1,49 triliun. Premi tersebut tumbuh 4,4% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dibandingkan pencapaian periode 2023 dengan porsi 23,2% dari total target premi BNI Life.

“Produk tradisional tetap akan mendominasi target premi 2024 karena lebih mudah dalam penjualannya,” katanya.

Sementara itu, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) atau MSIG Life (dahulu dikenal Sinarmas MSIG Life) membidik porsi premi unit-linked sebesar 35% di tahun ini melalui produk anyar Smile Optima Flexilink yang sudah disesuaikan dengan ketentuan SEOJK Paydi.

CEO & President Director MSIG Life Wianto Chen menyampaikan bahwa perusahaan akan tetap memfokuskan penjualan produk unit-linked ke segmen nasabah yang melek investasi dan nasabah prioritas.

“Tahun ini karena kita sudah launching [produk unit-linked] dari awal tahun, single premium sudah dari tahun lalu. Jadi, kita ingin kembali ke level di 35% untuk company level di tahun ini,” ungkap Wianto saat ditemui di Jakarta, Selasa (6/2/2024).

Pada tahun lalu, Wianto menuturkan bahwa MSIG Life selama enam bulan vakum memasarkan produk unit-linked dan menggantikannya dengan produk tradisional.

Baca Juga : Laba Pegadaian Tumbuh 32,67%, Raup Rp4,37 Triliun pada 2023 

Selama masa vakum itu pula, Wianto mengaku MSIG Life mengamati pergerakan pasar. Alhasil, pada 2023, porsi produk unit-linked perusahaan merosot dan digantikan produk tradisional.

“Tahun lalu porsi Paydi itu turun sampai sekitar 25%-an. Yang dulu kan [Paydi] 75%, turun jadi 25%-an, karena memang kita hanya jual di kuartal satu tahun lalu. Kan akhir bulan tiga kan udah gak boleh, kita mengamati pasar dulu,” ujarnya.

Meski porsi premi perusahaan bergeser dan didominasi tradisional, Wianto berharap total pendapatan premi yang direngkuh MSIG Life dapat tumbuh lebih tinggi dari pasar.

“Dan yang lebih penting sebenarnya komposisinya. Tahun lalu karena unit-linked kan vakum, masuk ke tradisional. Tradisional itu banyak sekali juga porsi yang terkait dengan asuransi kesehatan. Sehingga itu klaim kan tinggi, jadi kita mau memperbaiki produk mix-nya,” ujarnya.

Baca Juga : Timbang Menimbang Industri Akan Produk Asuransi Unit Linked 

Ke depan, MSIG Life berharap porsi produk premi unit-linked mampu bertumbuh secara bertahap. “Kalau beberapa tahun ke depan kita berharap masih bisa dapat 40-50% [porsi unit-linked] is the best. Tapi sekarang ini [porsinya] 30-35%, bertahap,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memproyeksi premi asuransi jiwa diperkirakan akan tumbuh 7%–10% pada 2024.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan bahwa sejak pertengahan 2023, AAJI mencatat pendapatan premi asuransi jiwa tradisional sedikit lebih tinggi dari pendapatan premi unit-linked.

Namun, lanjut Togar, seiring dengan pengetahuan terhadap SEOJK 5/2022 di masyarakat yang semakin menguat, asosiasi meyakini di tahun ini pendapatan premi untuk produk unit-linked akan membaik. “Dan akan memberikan pengaruh positif pada pendapatan premi secara keseluruhan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.