Asuransi Jiwa Masih Andalkan Saluran Distribusi Konvensional

Industri asuransi jiwa di Tanah Air masih mengandalkan saluran distribusi konvensional hingga tahun depan. Simak penjelasannya.

Denis Riantiza Meilanova

29 Nov 2021 - 19.33
A-
A+
Asuransi Jiwa Masih Andalkan Saluran Distribusi Konvensional

Industri asuransi jiwa di Tanah Air masih mengandalkan saluran distribusi konvensional hingga tahun depan. (Bisnis/Nurul Hidayat)

Bisnis, JAKARTA— Ramainya penggunaan solusi digital ternyata tak membuat pelaku industri asuransi jiwa beralih haluan. Kompleksnya produk membuat pelaku industri mengandalkan saluran distribusi konvensional seperti bancassurance.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan digitalisasi di sektor asuransi jiwa belum banyak mengarah untuk pemasaran produk asuransi. Sedikit berbeda dengan asuransi umum, tren pemasaran asuransi secara digital di industri asuransi jiwa dinilai tak akan meningkat signifikan.

Hal ini disebabkan karakteristik produk asuransi jiwa lebih kompleks dibandingkan produk asuransi umum. Tak heran bila solusi digital secara signifikan baru menyentuh aspek operasional.

"Saya belum lihat ada full digital pemasaran. Kalaupun gunakan marketplace, itu lebih produk sederhana, bukan produk sophisticated," ujarnya. 

Dengan demikian, kemungkinan besar kinerja industri asuransi jiwa pada tahun ini dan tahun depan masih berasal dari kanal pemasaran bancassurance seperti yang terjadi pada 2020.

AAJI mencatat bahwa sepanjang 2020, keagenan dan kanal pemasaran alternatif mengalami perlambatan kinerja masing-masing 32,1 persen dan 26,45 persen. Kondisi berbeda terjadi di kanal pemasaran bancassurance yang mengalami pertumbuhan double digit.

Pada 2020, sebanyak Rp70,89 triliun premi masuk melalui kanal bancassurance, tumbuh 11,73 persen secara tahunan dari sebelumnya Rp62,45 triliun. Kanal itu pun menyumbangkan premi terbesar bagi industri asuransi jiwa dalam beberapa tahun terakhir.

Berkat keandalan saluran bancassurance, belum lama ini PT Asuransi Jiwa Sequis Financial (Sequis Financial) dan PT Bank CTBC Indonesia (Bank CTBC) meluncurkan dua produk rider atau asuransi tambahan baru, yaitu Q Payor Rider dan Q Hospital Rider.

Presiden Direktur Sequis Financial Edisjah optimistis peluncuran kedua produk baru bancassurance tersebut dapat memperkuat sinergi dan memberikan manfaat bagi kedua perusahaan, yakni mendorong peningkatan premi baru bagi Sequis Financial dan mendukung penjualan produk bancassurance di Bank CTBC. Adapun, Sequis Financial dan Bank CTBC telah menjalin kerja sama sejak September 2018.

Menurutnya, jalur pemasaran produk asuransi melalui perbankan atau bancassurance merupakan salah satu kanal distribusi asuransi yang berkontribusi kuat saat pandemi dan masih memiliki prospek cerah pada masa mendatang.  Kedua produk ini dapat dimanfaatkan oleh nasabah Bank CTBC sebagai pelengkap portofolio proteksi dan investasi nasabah.

“Kami meyakini bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk meluncurkan kedua rider sebagai solusi bagi nasabah yang membutuhkan asuransi jiwa dan kesehatan,” ujar Edisjah melalui siaran pers, Senin (29/11/2021).

Keandalan bancassurance turut diakui oleh Direktur Utama PT Asuransi BRI Life Iwan Pasila. Dia menuturkan kinerja perolehan premi hingga kuartal III/2021, ditopang oleh kanal in branch sales, distribusi, dan alternatif.

Menurutnya, kelima kanal distribusi tersebut masih akan menjadi kontributor utama di BRI Life dalam 3—5 tahun mendatang. Kanal-kanal tersebut, nantinya juga akan diperkuat dengan proses digital.

"Dari lima kanal tersebut, kanal in branch, distribusi, dan alternatif berkontribusi signifikan," kata Iwan.

Guna mendorong pengembangan digitalisasi tersebut, BRI Life sudah mulai mengadopsi teknologi digital yang dimiliki oleh mitra strategis, yakni FWD Financial Services Pte. Ltd yang telah resmi menjadi salah satu pemegang saham BRI Life sejak awal tahun ini. Sebagai contoh, dia menyebut perusahaan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Dibantu FWD karena mereka savvy dan expert di digital. FWD mulai gunakan AI untuk segmentasi nasabah," katanya.

Adapun, BRI Life membukukan pendapatan premi senilai Rp4,89 triliun sampai dengan kuartal III/2021 atau tumbuh 9,85 persen secara tahunan dari Rp4,45 triliun.

Perolehan premi tersebut menopang pendapatan usaha perseroan yang mencapai Rp5,25 triliun atau tumbuh 22,29 persen secara tahunan.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba perseroan juga mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik dengan laba Rp120 miliar akibat efisiensi. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi sekitar Rp90 miliar.

"Jadi bottom line memang masih cukup baik," ujar Iwan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.