Free

Atasi Polusi Cahaya, Bagian dari Strategi LST untuk Real Estat

Polusi cahaya dapat terjadi di wilayah perkotaan dengan penggunaan lampu yang berlebihan dan tidak hemat energi. Semakin banyak perusahaan bertujuan membuat real estat mereka lebih berkelanjutan dan pencahayaan adalah salah satu area pertama yang ditangani dalam rencana efisiensi energi.

M. Syahran W. Lubis

30 Mar 2022 - 23.52
A-
A+
Atasi Polusi Cahaya, Bagian dari Strategi LST untuk Real Estat

Ilustrasi pencahayaan berlebihan di wilayah perkotaan./Unsplash

Bisnis, JAKARTA – Dari lampu jalan dan papan reklame neon hingga cahaya larut malam di gedung-gedung perkotaan, cahaya buatan yang berlebihan merupakan masalah yang berkembang.

Lebih banyak otoritas sekarang menerapkan inisiatif untuk mengurangi polusi cahaya, yang dapat membahayakan burung yang bermigrasi dan hewan nokturnal, serta mengganggu kesehatan manusia. Kroasia, Prancis, Italia, dan Slovenia termasuk di antara negara-negara Eropa dengan undang-undang polusi cahaya nasional yang membatasi warna dan intensitas pencahayaan pada malam hari.

Di Amerika Serikat, Undang-Undang Langit Gelap New York mengharuskan sebagian besar lampu luar ruangan yang tak penting dimatikan, ditutup, atau dialihkan ke pengaktifan sensor setelah pukul 23.00 demi mengurangi jumlah burung yang bermigrasi mengalami kecelakaan fatal akibat perhatiannya teralihkan. 

Kota Pittsburgh beralih ke bohlam LED (light-emitting diode) dengan watt lebih rendah, meminimalkan warna biru, dan menambahkan bayangan lampu jalan untuk mengurangi efek cahaya pada rumah dan habitat, mengikuti ketentuan Tempat Langit Gelap Internasional lain seperti Flagstaff, Arizona, dan Fulda, Jerman.

Patrick Staunton, Sustainability Associate di konsultan properti global JLL, mengemukakan desain pencahayaan secara historis memprioritaskan kenyamanan visual dan keselamatan penghuni daripada dampaknya terhadap lingkungan eksternal.


“Sekarang, peningkatan fokus pada ekologi, selain pemahaman yang lebih besar tentang dampak pencahayaan buatan pada manusia dan keanekaragaman hayati, berarti bahwa mengatasi polusi cahaya menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan perkotaan,” tuturnya.

Ini terkait dengan seruan yang lebih luas untuk penggunaan energi yang lebih berkelanjutan di seluruh real estat. Earth Hour, pada 26 Maret lalu, meminta orang-orang di seluruh dunia untuk mematikan lampu mereka selama 1 jam untuk meningkatkan kesadaran tentang konsumsi energi dan dampaknya terhadap perubahan iklim.

Jennifer Fortenberry, Manajer Produk Global, Energi & Keberlanjutan di JLL, menyatakan polusi cahaya mewakili sejumlah besar energi yang terbuang. Mengurangi polusi cahaya berarti meningkatkan efisiensi energi sistem pencahayaan, yang pada akhirnya juga menurunkan emisi karbon.

Efisiensi Energi di Real Estat

Semakin banyak perusahaan bertujuan membuat real estat mereka lebih berkelanjutan dan pencahayaan adalah salah satu area pertama yang ditangani dalam rencana efisiensi energi.

Di Amerika Serikat, misalnya, penerangan listrik menyumbang sekitar 40% konsumsi energi di gedung komersial, termasuk energi untuk ventilasi guna menghilangkan panas yang dihasilkan oleh bohlam yang tidak efisien.

Menurut Staunton, meng-upgrade ke bohlam yang lebih baru merupakan langkah sederhana: LED menggunakan energi hingga 90% lebih sedikit daripada lampu halogen atau lampu neon, yang melepaskan sebagian besar energinya sebagai panas. Apalagi, teknologi LED sekarang lebih efisien dibandingkan dengan LED lama.

Kontrol pencahayaan cerdas, yang dapat memangkas konsumsi energi dan biaya dengan mengurangi cahaya yang terbuang, adalah opsi yang lebih canggih. Sensor hunian, selain pengatur waktu dan luminer LED yang terhubung ke internet, mengontrol intensitas cahaya tergantung pada bagaimana ruang digunakan.


Sebagai informasi tambahan, luminer, menurut Badan Standardisasi nasional (BSN), adalah satu unit yang menyediakan tempat untuk lampu sebagai sumber cahaya, bersama-sama dengan bagian-bagian yang dirancang untuk mendistribusikan cahaya, untuk posisi dan melindungi lampu dan untuk menghubungkan lampu ke catu daya.

Satu studi tentang kontrol pencahayaan tingkat luminer di kantor terbuka oleh Lighting Research Center di Rensselaer Polytechnic Institute (RPI) di New York, Amerika Serikat, melaporkan penghematan energi tambahan hingga 48% dibandingkan dengan kontrol manual.

Selanjutnya, menurut lembaga tersebut, mempersingkat penundaan otomatis antara ruang yang dikosongkan dan lampu padam menghasilkan pengurangan energi lebih lanjut hingga 21%.

Larry Lubeck, Manajer Senior Manajer Energi Portofolio di JLL, mengutarakan bahwa manfaat energi dan pengurangan karbon dari sistem yang dirancang dengan baik mengalahkan langkah-langkah penggantian lampu berbiaya rendah setiap saat.

“Menerapkan kontrol pencahayaan di seluruh gedung memungkinkan sistem disetel sesuai dengan kebutuhan, yang akan berdampak besar pada konsumsi energi dan biaya,” kata Lubeck.

Memahami Penggunaan Pencahayaan

Penilaian rutin dan audit penggunaan gedung pada malam hari dapat membentuk kebijakan untuk mengoptimalkan penggunaan pencahayaan.

“Tanpa visibilitas ke dalam apa yang terjadi di suatu ruang – dan ketika lampu harus menyala – sulit untuk mengetahui di mana Anda dapat mengurangi konsumsi energi,” kata Fortenberry.

Sumber: Kementerian BUMN

Audit dapat memverifikasi data yang diproses oleh sistem cerdas untuk memastikan kontrol pencahayaan diterapkan dengan tepat, menghindari masalah seperti sensor yang mendeteksi cahaya sekitar yang aktif saat matahari terbenam meskipun hanya sedikit penghuni gedung.

Desain juga dapat meningkatkan efisiensi pencahayaan. Di luar, pelindung lampu jalan meminimalkan kehilangan cahaya, sementara perlengkapan searah memfokuskan cahaya pada area seperti pintu masuk atau jalur dan mengurangi dampak pada hewan nokturnal.

Di dalam, ini tentang memaksimalkan cahaya alami, kata Staunton, dengan memilih bahan interior dan warna yang memantulkan dan mencerahkan. “Ini harus selalu menjadi prioritas sebelum beralih ke sumber cahaya buatan,” tambahnya.

Mengoptimalkan cahaya alami dan mengurangi sumber buatan sama-sama merupakan komponen kunci dari bangunan yang sehat, yang semakin dihargai oleh penyewa dan investor.

“Selain keuntungan finansial, manfaat tak berwujud dari kualitas cahaya yang lebih baik termasuk peningkatan produktivitas, kebahagiaan, dan kinerja,” kata Fortenberry. “Pada akhirnya, ini berdampak positif bagi karyawan, kemampuan menyewa ruang itu sendiri, dan daya tarik aset ini ke pasar.”

Ketika peraturan keberlanjutan baru mulai berlaku di seluruh dunia, bangunan yang gagal menerapkannya akan berisiko ditinggalkan penyewa dan investor dibandingkan properti dengan kredensial hijau yang kuat.

Pencahayaan hemat energi hanya sebagian kecil dari membuat real estat lebih berkelanjutan, tetapi akan memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan perkotaan sekitarnya.

“Ini semua tentang membangun ketahanan lingkungan dan menurunkan risiko iklim,” kata Staunton. “Mengatasi polusi cahaya harus menjadi bagian dari strategi lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) yang kuat untuk aset real estat.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.