Babak Baru BSI Menuju Medan Persaingan di Bisnis Internasional

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. telah melebarkan sayapnya ke Timur Tengah. Langkah ini menandai keseriusan perusahaan untuk menjadi salah satu bank syariah terbesar secara global.

Emanuel Berkah Caesario
May 17, 2022 - 12:01 PM
A-
A+
Babak Baru BSI Menuju Medan Persaingan di Bisnis Internasional

Karyawati Bank Syariah Indonesia melayani nasabah di KC Jakarta Hasanudin, Jakarta, Selasa (2/2/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA — Langkah PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI untuk melebarkan sayap bisnisnya ke wilayah Timur Tengah menandai keseriusan bank syariah terbesar di Tanah Air ini untuk mewujudkan ambisinya dan ambisi negara untuk menjadikannya salah satu bank syariah papan atas global.

BSI telah menandatangani kerja sama dengan Lulu Hypermart Indonesia sebagai jaringan Lulu Hypermart Global serta perusahaan fintech bernama Berrypay, pada Jumat (13/5), bersamaan dengan grand launching kantor perwakilan BSI di Dubai, Uni Emirat Arab.

Langkah ini menjadi tonggak bersejarah bagi emiten berkode saham BRIS ini sekaligus menandai langkah awal ekspansi perusahaan ke pasar internasional. Langkah ekspansi ini pun sejatinya sudah menjadi visi besar BSI sejak awal proses pembentukannya pada 2020 lalu.

BSI adalah bank hasil merger antara tiga bank syariah milik bank-bank BUMN, yakni PT Bank BRISyariah Tbk., PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah. Setelah merger, bank ini menggunakan identitas baru yakni BSI, sedangkan kinerjanya dikonsolidasikan di bawah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dengan mengonsolidasikan kekuatan bank syariah milik bank-bank BUMN, kini pemerintah memiliki satu bank syariah dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Dengan demikian, peluang untuk menggarap potensi bisnis yang lebih bernilai pun makin terbuka.

Salah satu ambisi terbesar dari pembentukan bank ini yakni untuk menjadi salah satu bank syariah terbesar di dunia. Pemerintah menargetkan BSI dapat masuk ke dalam jajaran Top 10 bank syariah di dunia.

Visi ini tentu saja beralasan, sebab Indonesia adalah negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia. Indonesia punya potensi pasar keuangan syariah yang sangat besar, tetapi selama ini belum tergarap dengan optimal. BSI diharapkan bisa menjadi ujung tombak untuk memperbesar pasar keuangan syariah tersebut.

Langkah ekspansi ke luar negeri diharapkan dapat menjadikan BSI lebih dikenal dan memperluas eksposur perseroan di pasar keuangan internasional. Hal ini juga membuka peluang bagi perseroan untuk memperkenalkan potensi pasar keuangan syariah Indonesia ke kancah internasional.

Pada tahap awal ini, terlihat BSI berupaya menjangkau pasar luar negeri melalui kehadiran langsung di pusat ekonomi syariah dunia, yakni di Timur Tengah. Selain itu, perseroan juga menggunakan strategi kemitraan dengan sektor ritel untuk meningkatkan popularitas perusahaan agar lebih dikenal.

Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, mengemukakan bahwa kerja sama dengan Lulu Hypermart dan pembukaan kantor cabang di Dubai menjadi tonggak bersejarah dan sebagai langkah awal ekspansi BSI di pasar internasional.

“Ekspansi jaringan dan bisnis ini memungkinkan kami dapat mengelola peluang bisnis yang ada di luar negeri, baik Indonesian related business atau korporasi maupun dari individu yaitu warga negara Indonesia. Kami siap melayani nasabah dan mengoptimalkan potensi bisnis di kawasan ini,” tuturnya, Senin (16/5).

Hery meyakini ekspansi tersebut memungkinkan BSI berinteraksi secara langsung dengan komponen penting industri perbankan global yaitu pemain utama perbankan dunia, regulator perbankan dari sejumlah negara, hingga global business-best-practice perbankan syariah yang akan membentuk global-expertise dan global-capabilities bagi BSI.

Selain itu, Hery juga berharap BSI makin dekat dengan investor global sehingga perusahaan dapat berkontribusi dalam mendukung program-program pemerintah, baik dalam pendanaan proyek infrastruktur dan pembangunan melalui penerbitan sukuk global maupun dukungan bagi pengembangan UMKM nasional.

BSI diketahui sudah membuka Kantor Perwakilannya di Dubai International Financial Centre (DIFC) sebagai kehadiran global pertama BSI berdasarkan Surat Pendirian dari DIFC per 4 November 2021 dan Persetujuan Akhir Izin Kantor Perwakilan dari DFSA 28 Januari 2022. DIFC merupakan hub financial dan pusat sukuk global yang berada di jantung Dubai.

“Kami berharap kehadiran BSI juga secara global akan semakin banyak di sejumlah pusat keuangan dunia lainnya. Seperti di London, New York, Tokyo, Singapura dan juga Arab Saudi. Kami bersyukur dan bangga bahwa BSI ke depan dapat turut mengibarkan Sang Merah Putih di dunia internasional,” katanya.

Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, mengapresiasi BSI menjadi bank Indonesia pertama yang membuka jaringan bisnis di negara Arab yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) sekaligus memulai bisnis dan layanannya melalui kerja sama dengan korporasi global.

Menurutnya, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia harus memiliki representative office bank syariah di kawasan Timur Tengah yang diyakini bisa menjadi katalisator utama bagi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

“Ini merupakan momentum strategis karena kehadiran BSI di Dubai menjadi pintu masuk atau hub, yang menghubungan perbankan dan keuangan Indonesia dengan pusat-pusat keuangan syariah dunia,” kata Tiko.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, CEO of DIFC Authority, Arif Amiri, mengatakan DIFC adalah ‘rumah’ bagi banyak lembaga dan penasihat keuangan terkemuka dunia. Dia menilai hadirnya representative office bank syariah terbesar di Indonesia merupakan kepercayaan besar dalam memperkuat kompetensi komunitas keuangan syariah global di DIFC.

“Hal ini memperkuat kompetensi kami untuk mendukung pertumbuhan pasar keuangan Islam sejalan dengan posisi Dubai sebagai ibukota global ekonomi Islam. Kami merasa terhormat untuk menyambut BSI yang akan membantu memenuhi tuntutan keuangan Islam yang berkembang di Timur Tengah dan Afrika,” ujarnya.

Duta Besar RI untuk Persatuan Emirat Arab (PEA), Husin Bagis, mengatakan kehadiran BSI di DIFC Dubai merupakan langkah tepat untuk go global karena Dubai telah menjadi hub sektor keuangan dunia.

“Kami berharap kehadiran BSI saat ini semakin memperkuat kerja sama bilateral kedua negara, khususnya di lanskap sektor keuangan,” ujarnya.

Menurut Husin, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sudah selayaknya memiliki performa keuangan syariah yang kuat. Oleh sebab itu, BSI diharapkan menjadi daya ungkit untuk membangun ekosistem perbankan syariah.

Selain itu, BRIS dibentuk untuk memperkuat dan mengembangkan ekosistem ekonomi syariah dan industri halal Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai institusi syariah lain, korporasi, ritel, hingga UMKM.

“Untuk itu kami berharap adanya Kantor Perwakilan BSI di Dubai ini dapat memperluas kerja sama dengan entitas di PEA, dan bahkan dengan mitra lebih luas di wilayah Timur Tengah ke depannya” kata Husin.

Peresmian Kantor Perwakilan BSI di DIFC Dubai ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa Indonesia, yang saat ini sedang menjabat sebagai Presiden G20, terus menunjukkan kinerja keuangan dan perbankan yang baik.  

“Ini merupakan media untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia terus berkomitmen untuk pemulihan ekonomi melalui berbagai sektor, khususnya sektor keuangan syariah,” lanjutnya.

Saat ini Indonesia dan PEA menikmati hubungan bilateral yang sangat hangat dan kuat di berbagai sektor, termasuk hubungan yang baik antara para pemimpin kedua negara.

Dalam hal kerja sama investasi, PEA telah menyepakati komitmen investasi yang signifikan untuk Indonesia sebesar total 42,7 miliar dolar AS. Komitmen itu tersebar di berbagai sektor, antara lain infrastruktur, minyak dan gas, energi terbarukan, kesehatan, teknologi digital, industri pertahanan dan pengembangan pertanian.


 

EKOSISTEM DIGITAL

Sebelumnya, Hery Gunardi telah memaparkan bahwa tahun ini akan menjadi kesempatan bagi BSI untuk memperkuat kinerja berkelanjutan dengan fokus pada sembilan segmen utama pengembangan ekosistem Islam.

Hery memaparkan bahwa pengembangan itu melalui optimalisasi ekosistem masjid, haji, dan umrah, Ziswaf, lembaga pendidikan berbasis Islam, industri fesyen serta e-commerce, industri makanan dan minuman, kesehatan, ekspor impor, dan wisata halal.

“Hal ini tentu menjadi segmen potensial yang harus terus digarap oleh Bank Syariah Indonesia yang memang memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri dalam pengembangan ekosistem halal dan ekosistem muslim,” ujar Hery, Kamis (28/4).

Sementara itu, keberhasilan dalam menyasar ekosistem tersebut terlihat dari pertumbuhan zakat perusahaan yang tumbuh 22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp35 miliar. Adapun, jumlah number of account lembaga pendidikan naik 45 persen YoY, serta tumbuhnya ekosistem masjid lebih dari 30.000.

Di sisi lain, emiten dengan kode saham BRIS ini juga akan fokus pada digitalisasi. Hingga Maret 2022, pengguna aktif BSI Mobile telah mencapai 3,77 juta atau tumbuh 124 persen yoy.

Peningkatan tersebut diakibatkan oleh perubahan perilaku masyarakat yang mulai beralih ke e-channel BSI Mobile, ATM maupun internet banking. Hery mengatakan bahwa secara keseluruhan lebih dari 96 persen nasabah SBI sudah mulai digital savvy.

Dia menambahkan strategi digitalisasi yang ditempuh BSI menghasilkan dampak positif, yakni jumlah transaksi BSI Mobile mencapai 55,11 juta, tumbuh signifikan sekitar 276 persen YoY. Hal ini mendorong pertumbuhan fee based income menjadi Rp58,94 miliar.

Perseroan juga serius menghadirkan beyond banking dalam satu genggaman melalui BSI Mobile. Fitur-fitur inovatif seperti biometrik, transaksi yang lengkap, fitur islami, pelunasan haji dan pembayaran umrah, gadai serta pembiayaan emas akan terus dikembangkan perseroan.

Adapun, BSI membukukan laba bersih sebesar 33,18 persen YoY menjadi sebesar Rp987,68 miliar di kuartal I/2022.

Hery melanjutkan, aset BRIS juga mengalami pertumbuhan sebesar 15,73 persen YoY menjadi Rp271,29 triliun. Selain itu, BSI juga mencatatkan penyaluran pembiayaan yang tumbuh 11,59 persen YoY mencapai Rp177,51 triliun.

Adapun komposisi pembiayaan tersebut terdiri dari pembiayaan konsumer yang tumbuh 20,73 persen, pembiayaan mikro tumbuh 22,42 persen, dan gadai emas tumbuh 8,96 persen.

“Dari sisi kualitas pembiayaan terus membaik yang ditandai dengan penurunan NPF [non-performing financing] net menjadi 0,90 persen di Maret 2022, NPF gross juga mengalami penurunan semula sebesar 3,09 persen di Maret 2021 menjadi sebesar 2,91 persen di Maret 2022,” tambahnya.

Hery menyatakan perseroan terus memperkuat cadangan, sehingga cash coverage meningkat secara signifikan menjadi 150,09 persen.

Berikutnya, untuk perolehan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp238,53 triliun atau tumbuh sebesar 16,07 persen YoY. Hery menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil implementasi keseriusan BSI dalam menggarap dana murah sebagai salah satu strategi yang konsisten dijalankan dalam memacu pertumbuhan.

Di sisi lain, tabungan BSI secara keseluruhan mencapai Rp100,73 triliun atau tumbuh 15,48 persen. Sementara itu, tabungan yang paling diminati masyarakat adalah Tabungan Wadiah, yakni tabungan yang tidak memberikan bagi hasil maupun biaya administrasi bulanan. Adapun, Tabungan Wadiah mengalami pertumbuhan hampir 24 persen YoY.


“BSI terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik, hampir semua volume mengalami pertumbuhan double digit dan rasanya ini memang di atas rata-rata industri,” kata Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho.

Cahyo meyakini bahwa dengan pertumbuhan yang sehat dan sustain, menghasilkan kinerja profitabilitas yang lebih baik yang terlihat dari beberapa rasio keuangan dari sisi profitability, yaitu dari return on equity (ROE) maupun return on asset (ROA).

Untuk ROE, BSI tumbuh menjadi 16,58 persen, di mana pada posisi tahun lalu di level 14 persen. Sama halnya dengan ROA yang tumbuh menjadi 1,93 persen dari sebelumnya 1,72 persen. Sementara itu, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menurun dan berada di level 75,35 persen.

Selanjutnya, BSI mencatat net interest margin (NIM) juga menunjukkan perbaikan menjadi 1,92 persen, dari sebelumnya 2,11 persen, serta berhasil menurunkan cost of fund (CoF) dari 2,2 persen di tahun lalu menjadi 1,6 persen.

“Saya rasa ini membuat BSI menjadi salah satu bank yang cukup kompetitif, sangat kompetitif dari sisi cost of fund,” sambungnya.

(Reporter: Dionisio Damara, Leo Dwi Jatmiko, Rika Anggraeni)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Babak Baru BSI Menuju Medan Persaingan di Bisnis Internasional

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ