Badai Matahari Sebabkan Kiamat Internet, Mitos atau Fakta?

Akhir-akhir ini, publik dihebohkan dengan proyeksi ‘kiamat internet’ di bumi akibat ancaman badai matahari atau solar storm. Seberapa akurat prediksi tersebut? Simak telaahnya.

Leo Dwi Jatmiko
Sep 13, 2021 - 12:32 PM
A-
A+
Badai Matahari Sebabkan Kiamat Internet, Mitos atau Fakta?

Ilustrasi geomagnetic storm atau solar storm atau badai matahari./istimewa

Bisnis, JAKARTA — Serangan badai matahari dianggap sebagai ancaman laten bagi industri jaringan internet. Fenomena ini ditengarai berdampak korosif bagi infrastruktur telekomunikasi, seperti SKKL, BTS, serta satelit.

Menanggapi isu tersebut, Asosiasi Kabel Laut Seluruh Indonesia (Askalsi) mengungkapkan, pada dasarnya, penggunaan material terbaik menjadi salah satu jalan keluar untuk menghadapi faktor gangguan alam termasuk serangan badai matahari. 

Sekjen Askalsi Resi Y. Bramani mengatakan, untuk mengantisipasi faktor alam, pada umumnya kabel ditanam sesuai spesifikasi yang ditentukan dalam regulasi atau melalui Komite Perlindungan Kabel Internasional alias International Cable Protection Committee (ICPC). 

Di samping itu, kata Resi, pemilihan material kabel SKKL—seperti inti kabel, pelapis I, dan pelapis II—harus menggunakan spesifikasi yang baik dan berkekuatan hingga 25 tahun.  

“SKKL sendiri telah melewati beberapa tes pengujian seperti tensile test, tes mekanikal, tes tekanan, uji kelembaban, dan lain sebagainya,” kata Resi saat dihubungi, Senin (13/9/2021). 

Resi juga mengatakan, guna menjaga ketahanan SKKL, para penyedia SKKL menggunakan material bangunan dan sistem pendingin untuk penempatan perangkat aktif SKKL yang  mampu meredam panas dan radiasi atau induksi elektromagnetik. 

Mengenai fenomena badai matahari, Resi menilai dampaknya kemungkinan besar tidak hanya dirasakan pada SKKL saja, tetapi semua perangkat telekomunikasi yang memancarkan elektromagnetik. 

Bahkan, untuk SKKL seharusnya tidak berdampak kuat dibandingkan dengan perangkat telekomunikasi yang terpapar langsung oleh badai matahari seperti menara pemancar. 

“Perangkat terpapar seperti satelit, stasiun bumi, BTS seluler, radio radio microwave link,” kata Resi. 

SKKL berada di dalam laut dengan kedalaman lebih dari 3.000 meter, sedangkan base transveceiver station (BTS) berada di permukaan. Perangkat pemancar radio diletakkan pada posisi tertinggi agar gelombang radio menjangkau kawasan yang lebih luas. 

Untuk diketahui, peneliti Universitas California Sangeetha Abdu Jyothi dalam laporannya yang berjudul Solar Superstorms: Planning for an Internet Apocalypse mengungkapkan badai matahari akan membuat infrastruktur internet di bumi tidak berfungsi. 

Laporan tersebut menyebutkan matahari akan mengirimkan partikel bermuatan magnet dalam jumlah tertentu atau yang disebut solar wind.  

Pada hakikatnya, solar wind yang disemburkan akan ditangkis oleh atmosfer. Hanya saja, pada waktu tertentu, solar wind ini bisa menjadi badai matahari yang tak dapat dibendung. 

Laporan tersebut tidak menyebut kapan peristiwa itu akan terjadi, hanya saja pada 1859 dan 1921—atau seratus tahun lalu—peristiwa tersebut pernah terjadi, yang menyebabkan sejumlah perangkat telegraf terbakar. 

Dalam laporannya juga disebutkan, dari seluruh infrastruktur telekomunikasi, jaringan tulang punggung SKKL dan satelit adalah dua infrastruktur yang paling rentan diserang. 

Untuk SKKL, kerusakan terjadi pada repeater di mana setiap 50—150 kilometer, sebuah SKKL harus memiliki repeater.

Adapun, repeater sendiri merupakan bagian terlemah dari SKKL. 

Meski demikian, sambung Jyothi, tidak semua wilayah terkena dampak ini. Dampak paling besar dirasakan oleh negara-negara yang berada di garis lintang 66,5 derajat—90 derajat lintang selatan/lintang utara. 

Secara spesifik, laporan tersebut menyebutkan negara yang terdampak adalah Amerika Serikat di mana para raksasa teknologi bermarkas.

Dalam kaitan itu, dua raksasa teknologi AS—Google LLC dan Facebook Inc.—memiliki SKKL yang terbentang ke seluruh benua dan negara, termasuk Indonesia. 

Google dan Facebook bahkan berencana membangun SKKL sepanjang 15.000 kilometer yang menghubungkan AS langsung dengan Indonesia. 

Bekerja sama dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. dan PT XL Axiata Tbk, Google dan Facebook ingin membangun SKKL Bifrost dan Echo yang ditargetkan rampung masing-masing pada 2024 dan 2023. 

TAHAP KONSTRUKSI

Dalam perkembangannya, SKKL yang digarap bersama konsorsium Google Alphabet tersebut telah masuk tahap konstruksi untuk lokasi pendaratan. 

Sejalan dengan pembangunan tersebut, perusahaan berkode saham EXCL juga terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam mengurus perizinan agar SKKL dengan nama Echo itu dapat berlabuh di Tanah Air. 

Perizinan dibutuhkan untuk percepatan pelaksanaan proyek tersebut. 

“Untuk lokasi pendaratan kabel [cable landing station] sudah memasuki tahap konstruksi,” kata Group Head Corporate Communications XL Axiata Tri Wahyuningsih kepada Bisnis, Senin (13/9/2021). 

Dari sisi teknis, kata Ayu, pelaksanaan proyek kabel tersebut dipastikan melewati jalur dan zonasi yang direkomendasikan pemerintah.  

Mengenai kabar ancaman badai matahari yang dapat mengganggu infrastruktur SKKL, Ayu enggan berkomentar. Dia hanya memastikan saat ini pembangunan SKKL tersebut tetap berjalan sesuai rencana dengan dukungan dari pemerintah. 

Pembangunan SKKL, ujar Ayu, nantinya dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan tantangan yang ada termasuk faktor alam. 

Dalam implementasi pelaksanan pembangunan, EXCL akan melibatkan berbagai pihak yang berkompeten di bidangnya. 

“Kami percaya akan dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan kondisi yang ada,” kata Ayu. 

Sekadar informasi, SKK) Echo direncanakan berlabuh di salah satu lokasi di Jawa Barat. 

SKKL Echo sepanjang 15.000 kilometer itu akan mendorong kemajuan ekonomi dan pengembangan teknologi, mengurangi ketergantungan akses internet dan data ke jaringan global, yang selama ini hanya tersedia melalui jalur Singapura dan Hong Kong. 

Pemerintah telah menginvestasikan total 158 miliar won dalam proyek satelit sejak 2015, dengan pengembangan yang dipimpin oleh Korea Aerospace Research Institute (KARI). /Kari

KERENTANAN SATELIT

Di sisi lain, infrastruktur satelit dinilai lebih rentan terganggu oleh badai matahari yang mengangkut partikel magnetik, dibandingkan dengan SKKL.

Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward mengatakan besarnya dampak yang diterima bergantung pada posisi satelit saat itu.

Makin langsung sebuah satelit terpapar matahari, makin besar pura risiko kerusakannya. “Satelit  pasti ada efeknya. Tergantung posisinya,” kata Ian, Senin (13/9/2021). 

Meski terkena dampak, menurutnya, pemadaman layanan satelit diyakini tidak akan lama. Satelit cadangan akan mengambil peran untuk memberi layanan pengganti. 

Ketua Bidang Network dan Infrastruktur Indonesian Digital Empowerment Community (IDIEC) Ariyanto A. Setyawan berpendapat fabrikasi satelit selama ini sudah disiapkan untuk tahan pada kondisi terburuk yang pernah diidentifikasikan. 

Sebagai gambaran, beberapa satelit orbit bumi rendah atau low-earth orbit (LEO) yang sedang melintas utara atau selatan, selama ini sempat terkena badai aurora dan tetap bertahan. 

“Badai partikel magnetik dari luar angkasa [khususnya matahari] yang tertarik kutub bumi,” kata Ariyanto. 

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Hendra Gunawan mengatakan badai matahari tidak terlalu berdampak terhadap satelit.  Menurutnya, solar flare atau suar matahari lebih berbahaya. 

“[Fenomena antariksa] yang mungkin berisiko berdampak terhadap satelit adalah solar flare,” kata Hendra.

SIAPKAN MITIGASI

Sementara itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengandalkan teknologi prakiraan dan informasi cuaca luar angkasa atau space weather information and forecast services (SWIFtS) untuk memitigasi bahaya yang ditimbulkan dari matahari. 

Melalui SWIFtS, Lapan dapat melihat kondisi tenaga surya, geomagnet, dan ionosphere hari ini dan perkiraan besok hari. Tanda-tanda badai matahari juga dapat dideteksi sejak dini. 

Peneliti Astronomi dan Astrofisika Tiar Dani mengatakan SWIFtS merupakan layanan informasi dan prediksi cuaca antariksa. Sama seperti cuaca di bumi, di antariksa juga ada cuaca dengan matahari sebagai sumber utama gangguannya

SWIFtS sudah tergabung dalam jejaring internasional pengamatan cuaca antariksa sebagai Regional Warning Center (RWC) Indonesia dalam organisasi International Space Environment Service (ISES), membuat informasi yang diberikan makin akurat. 

“Kami menganalisis dari data-data pengamatan antariksa seperti matahari, magnetosfer Bumi dan ionosfer Bumi, baik dari satelit atau landas bumi, milik Lapan atau Internasional,” kata Tiar kepada Bisnis, Senin (13/9/2021). 

Tiar menambahkan tingkat akurasi prediksi cuaca antariksa Lapan saat ini di atas 70%. Lapan belum dapat mencapai akurasi 100% karena cuaca di antariksa sulit diprediksi. 

Tidak hanya di Indonesia, kata Tiar, di luar negeri juga kesadaran terhadap situasi luar angkasa masih rendah. Pemahaman akan dampak cuaca antariksa ke sistem teknologi tinggi masih kurang dipahami dengan baik.

“Biasanya kami menyebut prediksi kami dengan 'tepat' (correct), overestimated dan underestimated. Beberapa model prediksi cuaca antariksa kami sedikitnya memiliki tingkat akurasi diatas 70%,” kata Tiar.

Mengenai dampak badai matahari terhadap SKKL, Tiar menilai hal tersebut dimungkinkan jika suar sangat besar terjadi di matahari (kelas X). 

Peluang fenomena tersebut besar terjadi di negara-negara lintang tinggi atau negara-negara dekat kutub. 

“Itu dapat diprediksi oleh SWIFtS sehari sebelum fenomena terjadi. Informasi dan prediksi kondisi cuaca antariksa kami perbaharui  setiap hari sekali pukul 15.00WIB,” kata Tiar. 

Tiar  tidak tak menampik bahwa satelit rentan terhadap cuaca antariksa.  Jika terjadi badai matahari akibat suar atau flare dengan kelas M atau X, maka sangat berpeluang mengganggu operasional satelit yang ada di orbit Bumi.

Gangguan biasanya disebabkan partikel energi tinggi dari matahari yang terlontar saat terjadi flare atau lontaran massa korona, berinteraksi dengan komponen elektronik di satelit. 

“Mulai dari sensor dan yang terparah dapat mengalami kehilangan [total lost],” kata Tiar.

Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar