Banyak Emisi, Batu Bara Jadi Investor Terbesar Transisi Energi

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara menjadi sektor yang paling diharapkan dapat segera berpartisipasi dalam perdagangan bursa karbon tahun ini dan batu bara menjadi investor terbesar transisi energi RI.

Ibeth Nurbaiti

29 Sep 2023 - 16.44
A-
A+
Banyak Emisi, Batu Bara Jadi Investor Terbesar Transisi Energi

Batu bara PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Perusahaaan batu bara dinilai menjadi investor terbesar untuk transisi energi RI. Bisnis-Aprianto Cahyo Nugroho

Bisnis, JAKARTA — Perusahaaan batu bara dinilai menjadi investor terbesar untuk transisi energi RI, mengingat selama ini berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi karbon. Pada saat yang sama, perusahaan batu bara juga menjadi salah satu penyumbang besar dari sisi pendapatan negara.

Sementara itu, pemerintah saat ini sedang dalam misi untuk mengurangi emisi karbon guna mencapai target nol emisi karbon (net zero emission/NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Sejalan dengan itu, pemerintah secara resmi juga telah meluncurkan Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon pada Selasa (26/9/2023). 

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara menjadi sektor yang paling diharapkan dapat segera berpartisipasi dalam perdagangan bursa karbon tahun ini. “Perusahaaan batu bara merupakan salah investor paling besar dalam transisi energi saat ini,” kata Wakil Direktur Utama PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) Pandu Patria Sjahrir dalam Bloomberg Technoz Ecofest, Kamis (28/9/2023).

Baca juga: Menyiapkan Insentif Tambahan untuk Hilirisasi Batu Bara

Pada perdagangan bursa karbon yang sudah diluncurkan, Pandu melihat bahwa pendapatan yang dapat dihasilkan dari bursa karbon nantinya dapat melebihi apa yang dihasilkan oleh batu bara.

“Perkembangan batu bara mungkin salah satu pendapatan paling penting untuk negara, pengusaha batu bara investor terbesar di non-coal. Untuk NZE, coal player investasinya paling besar,” ujarnya.

Dengan demikian, imbuhnya, secara tidak langsung bursa karbon akan menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam proyek transisi energi Indonesia. “Pasar karbon kemarin baru saja diresmikan, jadi sudah ada pasar nasional. Uang yang dihasilkan dari bisnis karbon, saya kira lebih banyak, dibandingkan bisnis batu bara,” tuturnya.

Adapun, pengusaha batu bara yang tergabung dalam Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada beberapa perusahaan pertambangan yang ikut berpartisipasi dalam bursa karbon.

Baca juga: Energi Baru Industri Minerba Dalam Negeri

“Kami menyambut baik diluncurkannya bursa karbon. Sepertinya beberapa perusahaan pertambangan sudah ada yang berpartisipasi,” kata Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia kepada Bisnis, Selasa (26/9/2023).


Partisipasi perusahaan tambang batu bara dalam bursa karbon, lanjutnya, diharapkan dapat membantu untuk mengurangi emisi karbon guna mencapai target NZE pada 2060. “[Perusahaan batu bara] Agar bisa memanfaatkan perdagangan karbon sebagai peluang untuk mengoptimalkan upaya mengurangi emisi,” tuturnya.

Sebagai gambaran, dalam peluncuran bursa karbon, Presiden Joko Widodo menyebut bahwa potensi bursa karbon di Indonesia dapat mencapai Rp3.000 triliun bahkan lebih, seiring dengan tingginya potensi kredit karbon yang bisa ditangkap.

Menurut Presiden, keberadaan bursa karbon dapat menjadi langkah konkret untuk mencapai target NZE, apalagi potensi bursa karbon di Indonesia terbilang cukup tinggi. “Jika dikalkulasi, potensi bursa karbon kita bisa mencapai Rp3.000 triliun, bahkan bisa lebih. Sebuah angka yang sangat besar,” ujar Jokowi pada Selasa (26/9/2023).

Adapun, pembangkit listrik merupakan sektor penyumbang emisi karbon terbesar di industri produsen energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun telah mewajibkan sebanyak 99 PLTU untuk ikut dalam perdagangan karbon tahun ini. Perinciannya, 55 unit PLTU milik Grup PLN dan sisanya milik independent power producer (IPP).

Baca juga: HBA Terus Turun, Pengusaha Batu Bara Terancam Gigit Jari

Sebanyak 99 PLTU batu bara yang berasal dari 42 perusahaan itu memiliki total kapasitas terpasang 33.569 megawatt (MW) atau sekitar 86 persen dari total kapasitas terpasang PLTU batu bara yang beroperasi di Indonesia.

Perdagangan karbon mandatori tersebut dilakukan untuk PLTU yang terhubung ke jaringan tenaga listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dengan kapasitas lebih besar atau sama dengan 100 MW.

Nilai transaksi perdagangan karbon subsektor PLTU tahap satu pada 2023 diperkirakan dapat menembus US$9 juta atau setara dengan Rp136,8 miliar, asumsi kurs Rp15.209 per dolar AS.

Estimasi nilai transaksi itu berasal dari alokasi karbon yang berpotensi diperdagangkan secara langsung antarperusahaan pembangkit sebesar 500.000 ton CO2e pada tahun ini. Potensi sisa kuota karbon yang diperdagangkan itu diperoleh dari rekapitulasi emisi sepanjang tahun lalu sebesar 20 juta ton CO2e.

Baca juga: PLN Segera Terbitkan RUPTL Baru, Tidak Ada PLTU Batu Bara Anyar

Dalam uji coba awal tahun ini, Kementerian ESDM menggunakan patokan harga kredit karbon yang diperdagangkan di rentang US$2 per ton CO2e sampai dengan US$18 per ton CO2e.

Berdasarkan peta jalan perdagangan karbon subsektor pembangkit tenaga listrik yang telah disusun, pelaksanaan perdagangan karbon berpotensi dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar lebih dari 36 juta ton CO2e pada 2030.


Dengan adanya mandatori yang telah diterapkan di subsektor PLTU tersebut, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar pun mengharapkan agar 99 PLTU dapat memulai transaksi di bursa karbon tahun ini.

“Harapan kami agar PLTU dapat mulai bertransaksi dalam bursa karbon tahun ini juga,” kata Mahendra dalam Peluncuran Bursa Karbon di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (26/9/2023).

Dia melanjutkan, selain dari subsektor pembangkit tenaga listrik, perdagangan karbon juga akan diramaikan oleh sektor kehutanan, pertanian, limbah, minyak dan gas, industri umum, dan sektor kelautan. (Nyoman Ary Wahyudi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.