Free

Baru Pulih Sebentar, Industri Kabel Tersengat Harga Bahan Baku

Melambungnya harga bahan baku menambah runyam kondisi industri yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada awal tahun ini.

Wike D. Herlinda

19 Mar 2022 - 12.30
A-
A+
Baru Pulih Sebentar, Industri Kabel Tersengat Harga Bahan Baku

Direktur Regional Jawa Bagian Barat PT PLN Haryanto WS (kiri) menyaksikan penarikan kabel perdana saluran kabel tegangan tinggi (SKTT) 150 kV Cikupa - Curug di Serpong, Banten, Selasa (7/11)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis, JAKARTA — Kenaikan harga aluminium dan tembaga menambah faktor pendorong gulung tikarnya belasan pabrik kabel domestik, di samping masalah sistem tende PLN yang menyebabkan persaingan tidak sehat. 

Asosiasi Perusahaan Kabel Listrik Indonesia (Apkabel) mencatat setidaknya 12 pabrikan terancam tutup karena hanya berbisnis dengan PLN saja dan tidak menyuplai untuk perusahaan swasta. 

Ketua Umum Apkabel Noval Jamalullail menambahkan melambungnya harga bahan baku menambah runyam kondisi industri yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada awal tahun ini.

Pada awal 2021, anggota Apkabel masih berjumlah 63 perusahaan. Namun, hingga awal tahun ini tercatat 9 pabrikan tutup sehingga menyisakan 54 anggota.

"Sudah ada indikasi beberapa pabrik akan tutup, sebelum ada [konflik] Rusia-Ukraina, khususnya pabrik yang bergerak di PLN," kata Noval kepada Bisnis, belum lama ini.

Adapun, pabrikan di luar pemasok PLN juga harus berjibaku dengan permintaan yang tertahan kenaikan harga jual akibat melambungnya harga aluminium dan tembaga yang mencapai 40 persen.

Sementara itu, Apkabel sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk perbaikan sistem pengadaan kabel, khususnya di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Dengan adanya kenaikan harga komoditas yang tidak terkendali, lanjutnya, sistem tender menjadi lebih fleksibel, di mana kesepakatan harga disesuaikan dengan beban biaya operasional aktual perusahaan.

Selain itu juga harus ada penyesuaian harga jika terjadi kenaikan harga bahan baku yang tinggi seperti saat ini.

"Bagaimana pemerintah bisa meminta atau menekan, kepada BUMN untuk membeli kabel dengan skema dan harga yang mengikuti pasar. Ya harus dibatalkan dahulu kontrak yang ada, baru dibuat pola pengadaan yang fleksibel," jelasnya.

Terkait dengan kenaikan harga tembaga dan aluminium, Noval mengatakan pengusaha kabel dalam negeri juga tengah ketir-ketir terhadap dampaknya. Terlebih, kedua komoditas logam tersebut merupakan material utama pembuatan konduktor kabel.

Apkabel mencatat kenaikan harga dua material utama tersebut sudah mencapai 40 persen. Di sisi lain, pergerakan minyak dunia juga berdampak pada melambungnya harga sejumlah bahan pendukung isolator serat optik berupa beberapa jenis plastik.

Dia mengatakan kondisi utilitas kapasitas produksi pabrik kabel sebenarnya sempat membaik awal tahun ini. Sayangnya, industri kembali terpukul oleh kenaikan harga komoditas sebagai imbas invasi Rusia ke Ukraina.

"Saat ini naiknya gila-gilaan, lebih dari 40 persen. Ini jadi force majeur. Kami tidak ikut perang, tetapi kami kena dampaknya," kata Noval.

Dia melanjutkan, kabel listrik dengan konduktor aluminium hampir seluruhnya dipesan oleh PT PLN (Persero). Sedangkan, PLN menetapkan sistem kontrak satu tahun dengan harga flat.

Hal itu menjadi masalah karena kontrak ditandatangani harga komoditas belum setinggi saat ini. Noval sudah melakukan komunikasi dengan PLN agar kontrak yang ada tidak dilanjutkan. 

Dengan nilai kontrak mencapai ratusan miliar rupiah, selisih antara harga kesepakatan dan biaya produksi aktual, pabrikan akan terpukul kerugian besar.

"Kami dapat marjin cuma 5 persen sampai 10 persen, sementara kenaikan material 30—40 persen, berarti kan sudah jelas kami rugi 20—25 persen."

Sementara itu, pada segmen kabel telekomunikasi, juga tengah terjadi kelangkaan fiber core  dengan kenaikan harga yang juga tinggi.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian, industri kabel domestik diisi oleh 54 pabrikan yang bergerak di sektor kabel listrik dengan kapasitas produksi kabel dan konduktor tembaga sebesar 450.000 ton per tahun. 

Produksi kabel dan konduktor aluminium mencapai 250.000 ton per tahun.

Awalnya Noval memproyeksikan produksi kabel dapat tumbuh hingga 20 persen tahun ini. Namun, melihat situasi ketidakpastian akibat Rusia-Ukraina, dia menurunkan proyeksi pertumbuhan tahun ini menjadi 10 persen saja.

Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017)./Bloomberg-Andrey Rudakov

SNI SERAT OPTIK

Pada perkembangan lain, Apkabel menargetkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kabel telekomunikasi atau sert optik akan keluar pada tahun ini, demikian juga regulasi yang mewajibkannya.

Selain serat optik, Apkabel juga mengusulkan 9 jenis SNI lainnya. Sebanyak 10 SNI tersebut sedang dalam pembahasan lintas kementerian dan lembaga dan diharapkan dapat selesai pada tahun ini.

"Saya mengajukan 10 item SNI, dengan harapan standarnya bisa keluar tahun ini dan regulasi untuk diwajibkan juga keluar. Kalau itu kelua, playing level field jadi sama," ujar Noval. 

SNI yang sudah tersedia sejauh ini yakni untuk kabel medium dan low voltage. Adapun, yang saat ini tengah diusulkan yakni SNI untuk fiber optic dan kabel-kabel khusus lainnya.

Selain menjadikan level of playing field yang sama bagi pelaku industri dalam negeri, SNI juga akan melindungi pasar dari produk-produk impor yang dibawah standar.

Usulan SNI fiber optik dari Apkabel juga mencakup penghitungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang mengubah penghitungan menjadi berdasarkan proses produksi dari sebelumnya biaya produksi. 

Berdasarkan penghitungan tersebut, TKDN kabel telekomunikasi akan mencapai 80 persen.  

Penghitungan dari sisi proses produksi menjadi penting mengingat penghitungan berdasarkan biaya produksi akan membuat TKDN pabrikan lokal hanya ada di kisaran 15–25 persen. 

Noval menilai TKDN berbasis biaya produksi berpotensi membuat investor urung dalam menanamkan dananya di industri kabel fiber optik.

"Kami harapkan terciptanya standar nasional, maka paling tidak harganya atau barangnya jadi selevel," imbuhnya. (Reni Lestari)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.