Bayang-Bayang Tekanan Global, Seberapa Kebal Laju Ekonomi RI?

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia melesat 5,01 persen pada kuartal I/2022, sejumlah faktor masih perlu diwaspadai seperti inflasi hingga konflik global Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut memasuki kuartal II/2022.

Asteria Desi Kartikasari
May 9, 2022 - 1:05 PM
A-
A+
Bayang-Bayang Tekanan Global, Seberapa Kebal Laju Ekonomi RI?

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam rilis kinerja ekspor dan impor Februari 2022, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (15/3/2022). /BPS

Bisnis, JAKARTA— Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat melesat 5,01 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2022. Pertumbuhan ini sejalan dengan kuatnya konsumsi dan investasi di Tanah Air. Meski begitu,  memasuki kuartal II/2022, sejumlah tantangan masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi. 

Salah satu yang menjadi indikasi adalah  konflik global Rusia-Ukraina yang  masih terus berlanjut. Kemudia juga disusul oleh pembatasan wilayah atau lockdown China yang berpotensi menganggu rantai pasok distribusi barang dan jasa, dan adanya potensi inflasi yang diperkirakan melejit.

Tak hanya itu, faktor lain yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2022 yakni kebijakan penaikan harga BBM pada 1 April 2022 dan kenaikan tarif PPN per 1 April 2022.

Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan International Monetary Fund (IMF) sebelumnya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global secara signifikan. IMF awalnya menargetkan 4,4 persen tetapi merevisinya menjadi 3,6 persen. 

“Telah kita ketahui bahwa konflik Rusia-Ukraina yang menyebabkan harga-harga komoditas pangan dan energi mengalami peningkatan. Ini mengakibatkan IMF menurunkan proyeksi ekonomi global,” ujar Margo Senin (9/5/2022).

Kemudian, IMF juga mengubah proyeksi inflasi yang sebelumnya 3,9 persen meningkat menjadi 5,7 persen.  Sementara itu, untuk negara-negara berkembang sebelumnya 5,9 persen menjadi 8,7 persen pada 2022.
 
“Tentu saja perkembangan inflasi bagi negara maju dan berkembang itu,  ke depan perlu mendapatkan antisipasi dari Pemerintah Indonesia terkait bagaimana mengelola ekonomi khususnya di tahun 2022,” jelasnya. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk yang terbesar di kawasan Asean sejauh ini. Adapun, Filipina belum mengumumkan pertumbuhan ekonominya di kuartal I/2022. Filipina sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,5 persen hingga 8,3 persen pada kuartal I/2022.

Adapun, kinerja positif juga dibukukan oleh negara-negara mitra dagang Indonesia di Asean dan Asia mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal I/2022.BPS mencatat ekonomi China mampu tumbuh 4,8 persen dibandingkan kuartal IV/2021 yang hanya 4 persen. Kemudian, Korea Selatan tumbuh melambat sebesar 3,1 persen, Singapura 3,4 persen, Vietnam 5,0 persen, dan Taiwan 3,1 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto  mengatakan pertumbuhan ekonomi global sekitar 3,6 persen – 4,5 persen. Namun, dari perkiraan dari IMF dan Bank Dunia pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5 persen – 5,4 persen. “Nilai dari pertumbuhan tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berada diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi global,” ungkapnya.

Airlangga juga menyebutkan jika inflasi yang terjadi pada bulan April tahun 2022 berada dalam range APBN dan tidak lebih atau kurang dari range tersebut. Tercatat, untuk inflasi yang terjadi pada April 2022 berada di angka 3,47 persen.

“Dari segi inflasi di bulan April 2022, inflasi volatile food di bulan April kemarin 5,48 persen, sedangkan administered price berada di angka 4,83 persen, dan inflasi inti berada di angka 2,6 persen. Sehingga inflasi di bulan April rata-rata 3,47 persen dan masih berada dalam range APBN yaitu 3 plus minus 1 persen,” tutur Airlangga.

Kepala Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan inflasi pada April 2022 sebesar 3,47 persen  jika dibandingkan dengan Aril 2022. Sementara, dilihat secara year to date, inflasi tercatat 2,15 persen. Kenaikan inflasi tersebut adalah yang tertinggi sejak Januari 2017. “Inflasi 2022 ini akan meningkatkan risiko kontraksi pertumbuhan ekonomi. Ekonomi Indonesia diprediksi di bawah target pemerintah yaitu 5,03 persen di akhir 2022,” katanya.

Dia juga mengamini sejumlah faktor yang masih perlu diwaspadai adaah karena inflasi dan risiko kenaikan suku bunga kredit akibat perang Rusia dan Ukraina. Selain itu, kenaikan FED rate menyebabkan ekonomi Indonesia akan tumbuh mencapai maksima 4,5-5 persen.


Sementara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan dampak peningkatan harga komoditas dunia, termasuk eskalasi akibat konflik Rusia-Ukraina, juga masih relatif terbatas. “Kinerja kuartal ini menjadi bekal penting untuk perekonomian Indonesia yang lebih kuat di tahun 2022 secara keseluruhan dan ke depan,” katanya dalam siaran pers, Senin (9/5/2022).

Febrio mengatakan, daya beli masyarakat terus membaik. Hal ini ditandai dengan semakin kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta kondisi ketenagakerjaan nasional. Konsumsi rumah tangga mampu tumbuh 4,34 persen yoy.

Selain itu, optimisme dunia usaha yang membaik juga mampu mendorong pertumbuhan Penanaman Modal Domestik Tetap Bruto (PMTDB) sebesar 4,09 persen pada kuartal I/2022. Kondisi pandemi yang semakin terkendali serta keberlanjutan pemulihan sektor swasta yang terus menguat memberikan ruang bagi normalisasi kebijakan fiskal.

Febrio mengatakan, potensi penguatan pemulihan ekonomi nasional ke depan diperkirakan terus berlanjut. Apalgi, sejumlah indikator dini perekonomian terus menunjukkan tren yang menjanjikan. Misalnya saja, PMI Indonesia per April yang meningkat ke level 51,9 menunjukkan konsistensi ekspansi sektor manufaktur nasional. 

Dia memperkirakan, keberlanjutan pemulihan ekonomi yang semakin kuat juga terjadi pada periode Ramadan dan Idulfitri, khususnya dari sisi konsumsi masyarakat. Hal ini tercermin dari kapasitas produksi terpakai manufaktur yang telah mencapai 72,45 persen pada kuartal I/2021, tertinggi selama masa pandemi. Sementara itu, di tengah konflik geopolitik yang tengah terjadi, permintaan ekspor atas produk manufaktur Indonesia, khususnya produk berbasis komoditas mengalami peningkatan. 

“Seiring dengan tren ekspansi tersebut, pembukaan lapangan kerja baru diharapkan semakin masif dan diiringi dengan peningkatan upah pekerja. Tren ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga perekonomian nasional semakin kuat dan kokoh,” kata Febrio.


Dunia Usaha

Dari sisi dunia usaha pun cukup optimistis. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) memprediksi angka pertumbuhan ekonomi di kuartal II/2022 akan lebih tinggi dibanding kuartal I. Akan tetapi, Kadin tetap mengkhawatirkan risiko inflasi dan dampaknya terhadap daya beli pasca kuartal II tersebut. 

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin Indonesia Shinta W. Kamdani mengatakan kemungkinan pertumbuhan ekonomi kuartal II/2022 pada kisaran 5-6 persen. Sebab, kata dia, pertumbuhan ekonomi kuartal I menunjukkan Indonesia berada pada rute pemulihan ekonomi yang lebih solid dan layak diapresiasi.
 
“Hanya saja kami agak mengkhawatirkan risiko inflasinya dan dampaknya terhadap daya beli ke depan [pasca kuartal II], kalau terlalu tinggi bisa berdampak memperlambat pertumbuhan dan kinerja di kuartal berikutnya,” ujar Shinta kepada Bisnis, Senin (9/5/2022).

Shinta mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi di kuartal II akan lebih baik karena dorongan konsumsi dan kegiatan ekonomi yang meningkat sepanjang April-Mei. Hal itu menandakan respon kebijakan pemerintah terhadap pandemi, khususnya penggencaran vaksinasi dan PPKM terlokalisir cukup kondusif terhadap pertumbuhan dan pemulihan ekonomi.

Namun, Shinta menilai kinerja ini belum mencerminkan ekonomi yang sudah pulih. Khususnya jika melihat berbagai sektor yang terkena dampak terbesar dari pandemi seperti sektor pariwisata, retail, dan transportasi yang kinerjanya masih dibawah kinerja tahun 2019 hingga kuartal 2022, meskipun sudah terbantu normalisasi kegiatan ekonomi domestik. 

Apalagi saatcini ada berbagai faktor ketidakpastian di pasar global yang perlu diwaspadai agar tidak menciptakan dampak negatif atau beban yang berlebihan terhadap upaya pemulihan ekonomi nasional. Misalnya, seperti kelangkaan pasokan pangan global, potensi inflasi tinggi di atas rata-rata, kecenderungan pelemahan nilai tukar, efek kenaikan suku bunga acuan sebagai akibat dari tappering dan kebijakan The Fed terhadap konflik Ukraina. 

“Ini perlu diantisipasi dengan intervensi pemerintah dari segi fiskal maupun moneter untuk memastikan pelaku usaha dan masyarakat tidak memperoleh beban ekonomi yang berlebihan untuk meningkatkan kinerja usaha dan konsumsi,” tuturnya
 
(Reporter: Maria Elena, Indra Gunawan, Lukman Nur Hakim)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Bayang-Bayang Tekanan Global, Seberapa Kebal Laju Ekonomi RI?

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ