Bayar Jalan Tol Tanpa Harus Berhenti, Siapkah Pengelola Tol?

Pengguna jalan tol kali ini kembali bersiap untuk adaptasi baru pembayaran jalan tol tanpa harus berhenti atau MLFF. Rencana pemerintah mengganti sistem pembayaran kartu tol dengan teknologi MLFF yang akan diterapkan pada akhir tahun 2022 ini bukan kali pertama Indonesia mengubah sistem pembayaran.

Yanita Petriella
May 23, 2022 - 4:11 AM
A-
A+
Bayar Jalan Tol Tanpa Harus Berhenti, Siapkah Pengelola Tol?

Jalan Tol Trans Jawa. /dok. Bisnis.

Bisnis, JAKARTA – Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyatakan kesiapannya dalam penerapan pembayaran tanpa sentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) di jalan tol yang dilakukan secara bertahap di beberapa ruas jalan tol mulai akhir tahun ini.

Teknologi MLFF ini nantinya akan menggantikan pembayaran jalan tol saat ini yang menggunakan uang elektronik atau e-toll. Sistem baru tersebut dapat membuat pengendara jalan tol tidak perlu lagi berhenti untuk melakukan tapping kartu e-toll saat melakukan pembayaran. Pembayaran tarif tol dilakukan secara otomatis melalui aplikasi yang terpasang di gawai pengguna jalan.
  
Nantinya, teknologi yang diterapkan pada MLFF yaitu menggunakan Global Navigation Satelit System (GNSS) yang dimana merupakan sistem yang memungkinkan melakukan transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit. Pengguna jalan tol harus mendaftarkan kendaraannya berdasarkan nomor polisi. Setelah itu, pengguna perlu menghubungkan aplikasi tersebut dengan dompet elektronik. Saat akan memasuki jalan tol, pengguna harus mengaktifkan aplikasi tersebut sehingga teknologi GNSS dapat memastikan posisi pengguna jalan. 

Pemerintah sendiri mengklaim sistem pembayaran MLFF berbasis GNSS untuk semua jenis kendaraan yang diterapkan di jalan tol Tanah Air ini menjadi negara pertama di dunia. Selama ini, sistem pembayaran MLFF berbasis GNSS digunakan hanya untuk kendaraan berat atau logistik di Eropa. 

Penerapan MLFF di Indonesia, pengguna jalan tol akan diperkenalkan dengan perangkat pada sistem pembayaran tol MLFF, yakni On Board Unit (OBU), e-OBU, dan perangkat electronic route ticket. Perlu diketahui, OBU merupakan alat yang dipasang di dashboard mobil pengguna jalan tol. Adapun e-OBU merupakan versi virtual OBU yang dipasang melalui aplikasi gawai pintar pengguna jalan tol. Sementara, perangkat electronic route ticket dimana pengguna dapat memilih titik masuk dan keluar sesuai rute perjalanan sekali pakai.
  
Pada saat melakukan pembayaran di gerbang tol, pengemudi biasanya akan membutuhkan waktu untuk membuka kaca kendaraan kemudian melakukan tapping e-toll. Namun, dengan adanya MLFF pengguna tol tidak perlu lagi berhenti apalagi mengantre untuk melakukan pembayaran di gerbang tol. Nantinya, saat kendaraan melewati pintu tol, saldo uang elektronik yang ada pada aplikasi di ponsel akan langsung terpotong. 


Corporate Communication and Community Development Group Head PT Jasa Marga Tbk Dwimawan Heru mengatakan pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah untuk memberlakukan sistem pembayaran nontunai nirsentuh ini. Pada prinsipnya, emiten berkode JSMR ini mendukung program Pemerintah untuk penerapan MLFF di jalan tol. 

“Namun untuk teknis dan waktu pemberlakuan, hingga saat ini JSMR masih menunggu kebijakan dari pemerintah,” ujarnya dalam pesan singkat kepada Bisnis, Senin (23/5/2022). 

Presiden Direktur PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) menuturkan rencana penerapan MLFF ini merupakan salah satu milestone sistem pembayaran di Tanah Air, mulai dari tunai lalu beralih ke uang elektronik. Beberapa ruas jalan tol ini juga telah menerapkan OBU dan single lane free flow (SLFF). Akhir tahun nanti akan menuju pembayaran tol tanpa harus berhenti. 

Dia menyatakan pihaknya akan menjalankan skema pembayaran jalan tol baru jika sudah diresmikan pemerintah. Memang penerapan sistem MLFF tak mudah sehingga harus bisa mengakomodasi untuk seluruh ruas jalan tol di Indonesia

“Namun saat ini bagaimana estimasi keuntungan dan kesiapannya, harus menunggu lagi kepastian dan aturan dari pemerintah. Jika pemerintah siap, maka kami juga siap. Memang modulnya telah siap,” tuturnya 

CEO Toll Road Business Group Astra Infra Kris Ade Sudiyono mengatakan saat ini pemerintah tengah menyiapkan rencana penerapan MLFF di akhir tahun ini. 

“Masih dalam proses penyiapan pemerintah. Kami mengikuti kebijakan pemerintah,” ucapnya. 

EVP Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero) Tjahjo Purnomo berpendapat pihaknya akan mengikuti keputusan dari BPJT terkait sistem MLFF.

“Terkait dengan kebijakan cashless di jalan tol dan penggunaan sistem nirsentuh tersebut, kami mendukung arahan dan timeline dari BPJT selaku regulator dalam penerapannya,” ucapnya. 

Hutama Karya selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) telah memiliki kandidat jalan tol pertama yang bakal diberlakukan sistem MLFF untuk tahap awal. Sistem ini akan diimplementasikan pertama kali di Pulau Jawa yakni ruas JORR Seksi S dan Ruas Akses Tanjung Priok, yang dikelola oleh Hutama Karya. 

Salah satu keunggulan implementasi sistem MLFF di jalan tol adalah menghemat waktu perjalanan. Pasalnya, pengemudi tidak perlu melakukan tapping pada gerbang tol, sehingga menyingkat waktu berhenti di gerbang tol dari lima detik menjadi nol detik, alias tidak perlu berhenti sama sekali.

Menurutnya, dengan keunggulan sistem MLFF tanpa harus berhenti ini akan berdampak pada jumlah kendaraan yang memasuki jalan tol akan meningkat setiap waktunya.

“Jika MLFF diterapkan akan berdampak positif bagi pendapatan perusahaan,” kata Tjahjo.

PT Waskita Toll Road anak usaha dari PT Waskita Karya Tbk menargetkan penerapan sistem transaksi nontunai nirsentuh di jalan tol dapat dilaksanakan pada tahun 2023. Investor & Public Relations, PMO Manager Waskita Toll Road Ermy Puspa Yunita menyatakan pihaknya mendukung penuh keputusan dari BPJT terkait penerapan MLFF. 

“Kami selaku BUJT sepenuhnya mendukung dan mengikuti program regulator dan pemerintah terkait implementasi MLFF ini,” ujarnya. 

Adapun, terkait untuk waktu implementasinya, Waskita Toll Road akan mengikuti arahan dari BPJT dimana penerapan bertahap akan dilakukan pada akhir tahun ini dan secara keseluruhan pada akhir 2023 mendatang. Namun demikian, implementasi MLFF ini perlu kajian yang matang agar sistem baru ini berjalan efektif. Adapun kajian tersebut mencakup aspek legal, teknis, dan komersial.

“Terkait penerapan sistem MLFF ini di ruas-ruas tol kami, tentunya perlu adanya kajian terhadap sistem tersebut lebih dulu agar dapat diaplikasikan dengan efektif dan efisien. Selain itu kita juga sedang melakukan pembahasan terkait beberapa aspek sebelum sistem ini diterapkan di seluruh ruas tol kami, diantaranya terkait aspek legal, teknis dan komersial,” tuturnya. 

Kepala BPJT Kementerian PUPR Danang Parikesit menuturkan implementasi sistem transaksi tol non tunai nirsentuh berbasis MLFF di jalan tol akan dilakukan secara bertahap di beberapa ruas jalan tol. Pada tahap awal implementasi dimulai dengan masa transisi pada beberapa ruas jalan tol, dimana sebagian gardu pada setiap gerbang tol masih dapat menggunakan kartu tol elektronik. 

Untuk penerapan sistem MLFF ini direncanakan secara bertahap mulai akhir tahun 2022 dan implementasi secara keseluruhan ruas tol ditargetkan pada 2024. Adaapun sejumlah ruas jalan tol yang akan diterapkan sistem tersebut pada akhir tahun ini masih dalam pembahasan.

“Nantinya, teknologi yang diterapkan pada MLFF yaitu menggunakan GNSS yang dimana merupakan sistem yang memungkinkan melakukan transaksi melalui aplikasi di smartphone dan dibaca melalui satelit,” katanya. 

Penerapan sistem pembayaran tol tanpa kartu ini merupakan bentuk inovasi dan transformasi digital di jalan tol dengan konsep intelligent toll road system (ITRS). Penerapan sistem MLFF akan disesuaikan dengan kesiapan masyarakat di lapangan. Berbeda dengan sistem pembayaran Berbasis kartu elektronik yang saat ini digunakan, untuk metode pembayaran di Gerbang Tol (GT) MLFF akan menggunakan sistem server based

Melalui penerapan transaksi nirsentuh MLFF tentunya memiliki manfaat sangat besar karena bisa menghilangkan waktu antrian menjadi nol (0) detik. Sebelumnya dengan penggunaan uang elektronik juga telah mengurangi waktu transaksi maksimal 5 detik. Teknologi ini telah sukses diterapkan di beberapa negara, karena dapat menjadi solusi untuk memudahkan pengguna jalan tol serta mengurangi kemacetan pada jam-jam padat. 

“Manfaat lain adalah efisiensi biaya operasi dan juga meminimalisir bahan bakar kendaraan. Selain memudahkan pengguna jalan karena bayar tol tanpa hambatan, informatif, aman, nyaman dan berkelanjutan dan juga dapat meningkatkan efisiensi pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat,” tutur Danang. 


Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Sigit Irfansyah menyarankan agar uji coba atau implementasi bertahap sistem pembayaran tol nirsentuh ini tidak diterapkan ke kendaraan pribadi. Menurutnya, apabila uji coba sistem MLFF diterapkan langsung ke kendaraan pribadi yang jumlahnya banyak, maka akan tidak efisien. 

“Kalau di mobil pribadi mungkin banyak populasinya, jadi lebih mudah adalah dengan populasi yang lebih kecil biar kita bisa evaluasi secara bertahap,” ujarnya. 

BPJT dapat menyasar kendaraan dengan populasi lebih sedikit seperti bus atau transportasi umum lain saat uji coba sistem MLFF akhir tahun ini. Jika uji coba dengan kendaraan berpopulasi sedikit ini sukses, maka dapat dilanjutkan dengan kendaraan lainnya yang lebih banyak seperti kendaraan pribadi. Hal ini agar memudahkan BPJT mengamati perilaku pengguna jalan tol saat mulai menggunakan teknologi pembayaran baru ini. 

“Terkait uji coba, kami cenderung untuk kendaraan tertentu dulu. Mungkin untuk bus atau apa. Kami lihat perilaku pengguna kita seperti apa dengan teknologi baru ini,” katanya. 

Melalui sistem MLFF nantinya gerbang tol nantinya akan ditiadakan sehingga dapat menimbulkan niat pengemudi untuk mencurangi sistem pembayaran. Jangan sampai teknologi yang seharusnya memudahkan pengguna jalan tol dan meningkatkan pendapatan operator jalan tol, justru malah terjadi sebaliknya. 

“Ini akan makin rumit ke depannya. Yang tujuannya ini mempermudah operator dapat uang 100 persen, sekarang ada potensi lost. Itu yang harus dipikirkan sama-sama, bagaimana potensi lost itu menjadi tidak ada,” ucapnya. 
 
 

Dukungan Pengusaha

Organisasi Angkutan Darat (Organda) menyikapi secara positif penerapan sistem transaksi nontunai berbasis MLFF untuk menggantikan e-toll pada akhir 2022.

Ketua Umum Organda Adrianto Andre Djokosoetono menilai kehadiran sistem MLFF tersebut bertujuan untuk memperlancar proses pembayaran di gerbang tol. Andre berpendapat bagi pengusaha angkutan umum yang memiliki jumlah angkutan cukup banyak, sistem tersebut bisa mempermudah untuk memantau dan mengontrol biaya di tol.

“Organda menyambut baik rencana MLFF karena akan memperlancar proses di tol. Tentunya kami sangat memerlukan solusi bagi korporasi seperti perusahaan angkutan, yang memiliki jumlah armada banyak. Sifatnya realtime sehingga penggunaanya dapat terkontrol secara detail setiap saat,” terangnya. 

Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) menilai kebijakan soal pentarifan tol lebih dibutuhkan dan berimbas kepada pelaku usaha dibandingkan dengan penerapan sistem transaksi nontunai berbasis MLFF. 

Wakil Ketua Bidang Angkutan Distribusi dan Logistik DPD Aptrindo Jateng-DIY Agus Pratiknyo menilai dampak MLFF kepada pelaku usaha angkutan darat tidak signifikan.

Kendati demikian, dia juga mengapresiasi penggunaan teknologi yang semakin canggih di jalan tol. Pasalnya, penerapan MLFF bertujuan untuk meminimalkan waktu transaksi di gerbang tol. Namun, tentunya bagi kendaraan angkutan barang tidak ada dampak signifikan apabila hanya menyangkut masalah waktu transaksi pembayaran.

“Jadi, harapan pelaku usaha angkutan barang yang utama adalah masalah tarif tol yang saat ini dirasakan semakin mahal, karena hampir setiap saat dirasakan adanya kenaikan,” katanya. 


Sejarah Sistem Pembayaran Jalan Tol Dari Masa ke Masa

Rencana pemerintah mengganti sistem pembayaran kartu tol dengan teknologi MLFF yang akan diterapkan pada akhir tahun 2022 ini bukan kali pertama Indonesia mengubah sistem pembayaran di tol. Sebelum penggunaan kartu tol dengan sistem e-toll, transaksi pembayaran jalan tol masih menggunakan uang tunai kepada petugas penjaga gerbang tol.

Dengan alasan efisiensi, transaksi tunai diganti menjadi pembayaran otomatis menggunakan e-toll dan gerbang tol tidak lagi menerima pembayaran secara tunai secara serentak mulai diterapkan pada 31 Oktober 2017 silam.

Transaksi tunai juga kurang nyaman dan aman karena pengguna harus menghitung ulang uang kembalian yang diberikan petugas. Para petugas tol pun menanggung risiko terkait penyediaan uang kembalian dan risiko terkait dengan cash collection pada gerbang tol.

Dengan menggunakan kartu tol, transaksi di gerbang tol jadi lebih singkat dari sebelumnya 7-10 detik, menjadi  4-5 detik. Waktu itu transisi penggunaan e-toll dari sebelumnya pembayaran tunai menjadi sesuatu yang baru bagi mayoritas masyarakat sejak jalan tol pertama kali dibangun di Indonesia pada 1978. Adapun jalan tol pertama di Indonesia yakni ruas tol Jagorawi dengan panjang 59 km  yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi. Saat pemberlakuan e-toll di awal kala itu banyak terjadi penolakan karena perlu adaptasi baru. 

Penggunaan kartu tol sebagai alat pembayaran membuat pengguna jalan tol harus melakukan beberapa kebiasaan baru sejak 2017. Misalnya sebelum melakukan perjalanan, pastikan cek kecukupan saldo uang elektronik yang dimiliki dengan melakukan top up melalui ATM, layanan mobile top up, hingga jaringan toko ritel.

Pembayaran dengan menggunakan e-toll ini ternyata masih mengalami hambatan dan masih membuat kemacetan di gerbang tol karena tak semua pengendara mengecek terlebih dahulu kecukupan saldo e-tollnya sehingga menyebabkan antrean panjang. 

Direntang waktu 2018 hingga 2019, BPJT bersama BUJT melakukan sistem pembayaran SLFF di gardu tol khusus yang berada di beberapa ruas tol. Untuk ruas jalan tol milik JSMR tepatnya di GT Cililitan, GT Cengkareng, GT Kapuk, GT Cawang dan lainnya ini menerapkan sistem SLFF yang disebut dengan FLO. 

FLO ini merupakan sistem pembayarannya berbasis mobile application dan sticker yang menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) serta menggunakan source of fund berbasis Voucher Elektronik (VE).

Dengan mengunduh mobile application FLO di smartphone, lalu mengkoneksikannya dengan Sticker FLO maka pengguna jalan tidak perlu lagi berhenti untuk tapping uang elektronik saat melewati gerbang tol. Selain itu, juga dapat menggunakan  mobile application LinkAja. LinkAja adalah sebagai sumber dana untuk pembelian Voucher Elektronik (VE) FLO yang dapat digunakan untuk pembayaran tarif tol melalui aplikasi FLO, bukan sebagai alat pembayaran langsung yang dapat digunakan oleh pengguna jalan.

Selain itu, di beberapa gardu khusus pun juga telah dapat menerima OBU sebagai alat pembayaran sejak 2018. Namun memang penggunaan gardu khusus dengan sistem pembayaran OBU, LinkAja, dan FLO ini masih terbatas. Pemandangan tak ada antrean panjang di gardu khusus ini kerap terlihat di tengah antrean panjang gardu lainnya yang hanya bisa dengan sistem pembayara e-toll

Kini tak terasa sudah hampir lima tahun penggunaan sistem uang elektronik dengan kartu tol dan juga 3 tahun penerapan sebagian SLFF sebagai alat pembayaran di jalan tol. Tak lama lagi sistem itu akan diganti dengan teknologi MLFF yang penerapannya direncanakan akhir 2022 secara bertahap di beberapa ruas tol. Tentu menjadi adaptasi baru lagi bagi para pengguna jalan tol. (Anitana Widya Puspa/Faustina Prima)

Editor: Yanita Petriella
company-logo

Lanjutkan Membaca

Bayar Jalan Tol Tanpa Harus Berhenti, Siapkah Pengelola Tol?

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ