Beban Berganda Dunia Usaha

Dunia usaha tengah menghadapi tantangan berat pada sisa tahun ini. Aktivitas pebisnis mengalami perlambatan menyusul tren konsumsi dan penjualan yang terus menyusut seiring dengan tekanan ekonomi dunia dan dalam negeri.

Redaksi

10 Nov 2023 - 09.09
A-
A+
Beban Berganda Dunia Usaha

Pemerintah tengah menyiapkan bantuan sosial El Nino untuk kebutuhan masyarakat bawah. Kebijakan ini terkesan positif, tetapi sarat kepentingan politis menjelang pemilu. - Foto BID

Bisnis, JAKARTA—Dunia usaha tengah menghadapi tantangan berat pada sisa tahun ini. Aktivitas pebisnis mengalami perlambatan menyusul tren konsumsi dan penjualan yang terus menyusut seiring dengan tekanan ekonomi dunia dan dalam negeri.

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa ada perlambatan ekspansi bisnis pada paruh kedua tahun ini. Hal itu terlihat dari survei kegiatan dunia usaha pada kuartal III/2023 yang lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Tingkat saldo bersih tertimbang (SBT) pada kuartal III/2023 sebesar 15,65%. Angka itu menyusut bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 16,62%. Padahal posisi kuartal II/2023 itu lebih tinggal dari 11,05% pada kuartal I/2023.

Perlambatan dunia usaha disebabkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 1,18%), akibat penyusutan panen padi pada musim kemarau atau panen gadu di wilayah Jawa.   

Selain itu, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor tercatat sangat rendah dengan SBT 0,88%. Termasuk dunia usaha pada penyediaan akomodasi dan makan minum dengan SBT 0,54% akibat normalisasi pascaIdulfitri.

Lapangan usaha masih terbantu oleh sektor pertambangan dan penggalian karena faktor musiman. Selain itu, industri pengolahan didukung oleh permintaan yang masih terjaga, serta konstruksi seiring dengan masih berlangsungnya proyek domestik.

Perlambatan ekspansi bisnis sejalan dengan penurunan optimisme pada tingkat konsumen dan ekspektasi penghasilan. Survei penjualan eceran BI mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) pada kuartal III/2023 tercatat tumbuh 1,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan tersebut lebih rendah dari kuartal sebelumnya sebesar 1,6% YoY. Kelompok yang tercatat masih tumbuh, meski melambat, yaitu makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,5% YoY, serta subkelompok sandang yang tumbuh 9,4% YoY.

Namun, secara bulanan penjualan eceran mengalami kontraksi 1,5%. Kinerja penjualan eceran yang menurun ini terutama terjadi pada subkelompok sandang sebesar -3,7% dan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor -2,2%.

Menurut BI, penurunan tersebut disebabkan oleh penyusutan permintaan dalam negeri dan kendala distribusi khusus untuk bahan bakar kendaraan bermotor.

Di sisi lain, dunia bisnis di Tanah Air dihadapkan pada beberapa kendala yang menghambat ekspansi. Mulai dari kenaikan suku bunga acuan hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang membebani impor bahan baku/bahan penolong.

Sementara itu, kebijakan insentif yang diberikan oleh pemerintah hanya menyasar kelompok bawah dan rentan serta mengabaikan kalangan menengah yang sesungguhnya memiliki aktivitas konsumsi lebih signifikan.

Dari sisi produksi, sejauh ini belum ada gebrakan, sehingga pebisnis pun belum mendapatkan sentimen positif untuk menopang geliat ekonomi. Kebijakan pemangkasan pajak pertambahan nilai pun dinilai berdampak jangka menengah.

Menurut harian ini, pemerintah perlu membuat kebijakan yang menyentuh seluruh lapisan rakyat. Penurunan daya beli di tingkat masyarakat saat ini anomali dengan gelaran pesta demokrasi yang sarat fulus.

Pemerintah tengah menyiapkan bantuan sosial El Nino untuk kebutuhan masyarakat bawah. Kebijakan ini terkesan positif, tetapi sarat kepentingan politis menjelang pemilu. Efek berganda hanya akan dirasakan sesaat, tidak dalam jangka panjang.

Perlu ada insentif bagi masyarakat dan dunia usaha untuk mendorong konsumsi dan produksi. Yang lebih penting lagi adalah kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap situasi politik saat ini tidak akan menganggu perekonomian.

Terlebih lagi, huru-hara politik saat ini membuat beberapa investor mempertanyakan kepastian dalam berinvestasi. Pemerintah perlu menjaga situasi ekonomi kondusif dengan memastikan pemilu berjalan lancar, adil, dan aman.

Jangan sampai beban berganda yang dihadapi dunia usaha saat ini diperparah oleh instabilitas politik yang dapat mengganggu roda perekonomian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.