Begini Cara President University Memenuhi Kebutuhan Dunia Usaha

Reformasi pendidikan perlu dilakukan di perguruan tinggi. Terlebih, saat ini banyak materi perkuliahan yang diajarkan kampus ternyata sudah tak sejalan lagi dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).

Yanita Petriella

7 Sep 2023 - 00.11
A-
A+
Begini Cara President University Memenuhi Kebutuhan Dunia Usaha

Ilustrasi pendidikan. /istimewa

Bisnis, JAKARTA – Reformasi pendidikan perlu dilakukan di perguruan tinggi. Terlebih, saat ini banyak materi perkuliahan yang diajarkan kampus ternyata sudah tak sejalan lagi dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Di sisi lain, DUDI juga tengah mereformasi bisnisnya dari yang semula berbasis industr 3.0 menuju industri 4.0, dan bahkan society 5.0. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk berani merombak sistem pendidikannya agar lebih sejalan dengan kebutuhan DUDI. 

Rektor President University Chairy mengatakan salah satu isu penting dalam reformasi sistem pendidikan adalah masalah pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin harus berani mereformasi dirinya sendiri terlebih dahulu, termasuk kepemimpinannya. Reformasi ini guna menghasilkan lulusan yang berkualitas dan selaras dengan kebutuhan DUDI. 

“Universitas harus berani meninggalkan beragam pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi lama yang sekarang ini sudah tidak dibutuhkan lagi. Apalagi sekarang ini semakin banyak saja jenis-jenis pekerjaan yang hilang, dan digantikan oleh mesin. Maka, untuk merespon perkembangan tersebut, universitas harus adaptif dan berani mendisrupsi dirinya sendiri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (6/9/2023). 

Untuk menjawab tantangan ini, President University menggelar kegiatan pelatihan kepemimpinan di perguruan tinggi pada akhir Agustus 2023 lalu. Pelatihan ini diikuti jajaran manajerial President University serta perwakilan dari universitas lain, seperti Universitas Indonesia, Universitas Yarsi dan Universitas Krisnadwipayana dari Jakarta, dan International Women University dari Bandung.

Pelatihan kepemimpinan di perguruan tinggi yang digelar di kampus President University, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi ini merupakan bagian dari program yang dikelola oleh konsorsium Indonesia Higher Education Leadership (iHiLead). Konsorsium yang berada di bawah supervisi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini terdiri dari tujuh universitas asal Indonesia, dan tiga universitas dari Uni Eropa.

Adapun tujuh universitas dari Indonesia tersebut adalah President University, Universitas Padjajaran, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Islam Indonesia, Universitas Brawijaya, STIE Malangkucecwara, dan Universitas Negeri Semarang. Kemudian, tiga universitas asing terdiri dari University of Gloucestershire dari United Kingdom, International School for Business and Social Studies (ISBSS) dari Slovenia, dan University of Granada dari Spanyol.


Baca Juga: Tahun Ajaran Baru Dimulai, Ini Ide Usaha di Bidang Pendidikan


Ketua Yayasan Pendidikan President University Budi Susilo Soepandji menuturkan saat ini masih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang dikelola dengan cara-cara lama.

“Sistem pendidikannya masih memakai pola-pola yang merupakan peninggalan masa lalu. Belum adaptif terhadap kemajuan yang terjadi di dunia industri dan mengadopsi perkembangan teknologi,” ucapnya.

Oleh karenanya, tak heran jika banyak pengetahuan dan keterampilan lulusan perguruan tinggi yang kurang sesuai dengan kebutuhan DUDI. Hal ini tercermin dari masih tingginya lulusan perguruan tinggi yang menganggur.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2022, jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 143,72 juta orang atau naik 3,57 persen dibandingkan dari tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 5,86 persen, atau turun 0,63 persen dibandingkan dengan Agustus 2021.

BPS juga merinci lebih jauh rasio TPT sesuai dengan tingkat pendidikannya.  Rasio TPT terbesar adalah dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 9,42 persen, disusul oleh lulusan SMA sebesar 8,57 persen, SMP 5,95 persen, dan Diploma I sampai dengan III sebesar 4,59 persen, universitas 4,8 persen, dan SD ke bawah 3,59 persen. 

Jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur per Agustus 2023 mencapai 673.485 orang. Hal ini bukan jumlah yang sedikit karena setiap tahun rerata jumlah lulusan perguruan tinggi mencapai 1,8 juta orang. Adapun terdapat sekitar 37 persen dari lulusan universitas yang menganggur. 

Menurut Dudi, kondisi tersebut tentu tidak bisa dibiarkan karena berpotensi mengancam tercapainya target Indonesia Emas pada 2045. Kemdikbudristek sudah melakukan berbagai upaya yakni menggelar program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang salah satu jenis kegiatannya adalah memberikan kesempatan bagi mahasiswa mengikuti program magang di berbagai perusahaan.

“Lewat program ini mahasiswa bisa belajar langsung dari DUDI, sehingga setelah lulus bisa langsung siap kerja. Program ini diharapkan mampu meningkatkan serapan lulusan perguruan tinggi oleh DUDI,” katanya. 

Meski begitu Kemendikbudristek tak bisa berjalan sendiri. Perguruan tinggi harus ikut mendukung melalui berbagai programnya yakni perlu mereformasi dirinya agar materi kuliah yang diajarkan kampus dan juga kualitas lulusannya selaras dengan kebutuhan DUDI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.