Beras Impor China Mengandung Plastik dan Beracun?

Perum Bulog dibuat sibuk dalam dua pekan ini seiring muncul kabar beras impor China yang diduga mengandung plastik dan beracun. Kini, perusahaan logistik berencana menempuh jalur hukum untuk penyebar informasi tersebut.

Redaksi

13 Okt 2023 - 17.13
A-
A+
Beras Impor China Mengandung Plastik dan Beracun?

Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mendampingi Presiden RI, Joko Widodo melakukan peninjauan Gudang Bulog dan Peluncuran Program Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah di Komplek Pergudangan Sunter Timur II, Jakarta../Setpres

Bisnis, JAKARTA - Perum Bulog dibuat sibuk dalam dua pekan ini seiring muncul kabar beras impor China yang diduga mengandung plastik dan beracun. Kini, perusahaan logistik berencana menempuh jalur hukum untuk penyebar informasi tersebut. 


Perum Bulog menyangkal kabar yang viral di masyarakat Bukittinggi bahwa beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) yang merupakan impor China mengandung plastik dan beracun.


Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) menegaskan bahwa beras impor yang didatangkan pun untuk kebutuhan SPHP merupakan kualitas premium. Dia pun memastikan bahwa pihaknya belum sama-sekali mengimpor beras dari China seperti kabar yang beredar di masyarakat.


Meski Presiden Xi Jinping telah menyatakan bersedia mengirim beras ke Indonesia, pemerintah sejatinya belum merealisasikan impor beras 1 juta ton tersebut. Saat ini, rencana pembelian dari Tiongkok masih dalam tahap penjajakan.


Baca juga: Menangih Janji Swasembada Pangan Jokowi & Rencana Impor Beras


"Karena beras dari China itu belum saya datangkan. Mana mungkin ada berita yang mengatakan beras China beracun. Beras sama plastik itu mahal plastik jadi enggak masuk akal," ujar Buwas saat meninjau proses bongkar beras impor dari Vietnam di Pelabuhan Tanjung Priok,  Kamis (12/10/2023).


Mantan Kabareskrim itu pun menegaskan bahwa beras impor dari negara asal yang masuk ke gudang Bulog sudah melalui beberapa kali proses pemeriksaan. Sebelum dimuat ke kapal di negara asal terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan oleh Surveyor Independent kemudian setelah sampai di Indonesia dilakukan pemeriksaan lagi oleh Badan Karantina Indonesia.


"Jadi yang ada di gudang-gudang Bulog sudah sangat dipastikan aman semuanya”, tuturnya.


Dia menyebut informasi yang dianggap hoaks soal beras sintetis itu sebagai upaya kelompok tertentu yang ingin mendiskredit pemerintah lewat pangan. Bahkan, tuduhan terhadap beras Bulog menimbulkan kekhawatiran bagi penerima beras bantuan pangan dari Bulog.


"Kasian saudara-saudara kita yang tidak mampu yang membutuhkan beras hari ini gara-gara berita itu jadi semua gelisah," ucapnya.


Prosedur Pemeriksaan


Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Badan Karantina Indonesia M. Adnan juga menegaskan semua barang yang masuk ke Indonesia kami perlakukan sesuai prosedur yaitu pemeriksaan administrasi, kesehatan dan keamanan pangan termasuk impor beras yang dilaksanakan oleh Bulog.




“Semua kapal impor yang tiba termasuk impor beras ini harus diperiksa dulu oleh Badan Karantina Indonesia, setelah dinyatakan aman baru bisa dibongkar seperti kapal beras vietnam yang kita saksikan sekarang ini”, kata Adnan.


Sebelumnya, dugaan awal terkait pemberitaan beras sintetis terjadi di Bukittinggi, Sumatera Barat. Seorang warga mengaku sakit usai mengonsumsi beras yang diduga sintetis tersebut.


Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Plt. Menteri Pertanian, Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa isu beras sintetis rentan dihembuskan di tengah upaya serius pemerintah melakukan stabilisasi pasokan dan harga beras dengan menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM), bantuan pangan beras dan operasi pasar Bulog.


Untuk itu, selain melakukan tindakan pengujian ilmiah terhadap sampel beras melalui Otoritas Kompeten Keamanan Pangan (OKKP) di bawah Badan Pangan Nasional, Arief juga meminta satgas pangan untuk melakukan pengawasan dan penindakan terhadap pihak-pihak yang terbukti menyebarkan berita hoaks mengenai beras sintetis ini.


“Sekarang kalau ada beras sintetis, satgas pangan investigasi dan jika memang terbukti bersalah, perlu diproses secara hukum, sehingga masyarakat tenang dan mendapat kejelasan mengenai masalah ini.” ujar Arief. 




Proses Hukum


Di sisi lain, Perum Bulog juga meminta Satgas Pangan untuk menindaklanjuti secara hukum soal video viral yang beredar soal impor beras plastik asal China yang beracun.


Direktur Utama Bulog Budi Waseso atau Buwas meminta aparat penegak hukum dalam Satgas Pangan untuk memidanakan penyebar informasi bohong terkait dengan beras plastik yang viral di berbagai kanal media sosial. Beberapa di antaranya ada yang mengatakan Bulog mengedarkan beras beracun atau beras plastik.


"Nah, ini pelanggaran hukum, kejahatan, seperti ini jangan hanya selesai minta maaf, harus ada tindak lanjut secara hukum," kata Buwas seperti dilansir dari Antara, Jumat (13/10/2023).


Buwas memastikan, semua informasi tersebut sama sekali tidak benar apalagi sampai dikatakan beras-beras yang disalurkan mengandung zat yang tidak layak dikonsumsi masyarakat.


Hal ini dianggap menjadi tuduhan serius terhadap pemerintah yang berjuang untuk rakyat, maka siapapun yang melakukan penyebaran informasi bohong harus bertanggungjawab. (Dwi Rachmawati/Rio Sandy Pradana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.