Berbagai Pertimbangan Suku Bunga Acuan Ditahan & Dampak Bagi Dunia Usaha

BI menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 6% pada RDG BI periode 20-21 Februari 2024. Dengan demikian, BI rate 6% ditahan selama 5 kali berturut-turut.

Maria Elena & Dwi Rachmawati

22 Feb 2024 - 13.39
A-
A+
Berbagai Pertimbangan Suku Bunga Acuan Ditahan & Dampak Bagi Dunia Usaha

Rapat Dewan Gubernur [RDG] Bank Indonesia pada 20 dan 21 Februari 2024. /Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap alasan Rapat Dewan Gubernur BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 6 persen pada Februari 2024. 

BI menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 6% pada RDG BI periode 20-21 Februari 2024. Dengan demikian, BI rate 6% ditahan selama 5 kali berturut-turut. 

"Berdasarkan assesment menyeluruh, proyeksi ekonomi global, ekonomi domestik, kondisi moneter [sistem keuangan dan sistem pembayaran], Rapat Dewan Gubernur [RDG] Bank Indonesia pada 20 dan 21 Februari 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 6%,” ujarnya dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/2/2024).

Dengan demikian, suku bunga deposit facility tetap sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility tetap sebesar 6,75%.

Baca juga: Ruang Sempit Suku Bunga

Perry mengatakan keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2,5±1% pada 2024. 

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

"Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit pembiayaan perbankan kepada pelaku usaha dan rumah tangga," jelasnya. 

Selain itu, akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, termasuk digitalisasi transaksi keuangan pemerintah pusat dan daerah juga terus didorong untuk meningkatkan volume transaksi dan memperluas inklusi ekonomi-keuangan digital.

 

 

Sementara itu, Kalangan pengusaha menilai tingkat suku bunga acuan bank sentral saat ini kurang ideal untuk pertumbuhan kinerja dunia usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani membeberkan bahwa sejak awal para pelaku usaha tidak berekspektasi lebih pada wacana penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Musababnya, inflasi di Amerika Serikat dan pasar global masih terlihat persisten.

Prediksi pengusaha pun benar-benar terjadiMeskipun begitu, para pengusaha memahami keputusan bank sentral bertahan pada suku bunga acuan 6% bertujuan untuk menciptakan stabilitas makro ekonomi.

Baca juga: Terungkap! Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan 6% 5 Kali Berturut-turut

"Ekspektasi realistis kami adalah bahwa suku bunga akan dipertahankan di level saat ini. Meskipun ini tidak menjadi masalah, tapi kurang ideal bagi kami," ujar Shinta saat dihubungi, Rabu (21/2/2024).

Shinta menjelaskan, suku bunga di level 6% menjadi tidak ideal bagi pengusaha lantaran menjadi beban pembiayaan yang tinggi. Dampaknya, pertumbuhan kinerja usaha dan konsumsi pasar menjadi tidak kondusif.

Bahkan, pengusaha menilai level suku bunga pinjaman di Indonesia saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga pinjaman rata-rata 5 negara Asean (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand). Suku bunga pinjaman yang tinggi menjadi tidak kompetitif bagi pelaku usaha untuk memperluas pembiayaan maupun investasi dari sektor perbankan.

"Kami berharap sesegera mungkin suku bunga bisa dikoreksi ke level yang kompetitif," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.