Berburu Saham Undervalue

Kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG berbalik arah dalam 2 pekan terakhir dengan total pertumbuhan sebanyak 3,87 persen. Penguatan itu mengompensasi koreksi yang terjadi pada awal tahun, guna mendorong kinerja indeks tetap positif sepanjang bulan berjalan Januari 2023.

Redaksi

30 Jan 2023 - 09.54
A-
A+
Berburu Saham Undervalue

Kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG berbalik arah dalam 2 pekan terakhir dengan total pertumbuhan sebanyak 3,87 persen. Penguatan itu mengompensasi koreksi yang terjadi pada awal tahun, guna mendorong kinerja indeks tetap positif sepanjang bulan berjalan Januari 2023. 

Secara year-to-date/YtD, IHSG masih tumbuh 0,70 persen. Pada akhir perdagangan pekan lalu, Jumat (27/1), indeks komposit ditutup di level 6.898,98. Kendati terindikasi bergerak dalam tren penguatan, sejumlah sentimen negatif masih membayangi kinerja indeks komposit. 

Inilah yang membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sembari menunggu katalis yang lebih kuat. Hal itu tecermin dari rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia yang terus melemah dalam 2 pekan terakhir. 

Pada perdagangan pekan lalu, rerata nilai transaksi harian hanya mencapai Rp9,70 triliun, atau turun 5,27 persen. Kondisi itu memburuk karena transaksi harian di bursa juga telah mele-mah 11,20 persen pada pekan sebelumnya.

Penurunan nilai transaksi harian dalam 2 pekan terakhir menjadi gelagat yang kurang baik di tengah ekspektasi terjadinya fenomena January Effect yang secara historis mendorong penguatan pasar pada awal tahun. 

Rata-rata nilai transaksi harian jelas-jelas masih jauh di bawah target otoritas bursa yang mematok angka Rp14,75 triliun pada 2023.Pelemahan nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia sangat dominan disebabkan oleh aksi investor asing yang mengalihkan dana ke pasar Asia bagian utara, terutama ke China. 

Secara umum, pasar saham di China dianggap lebih menarik selepas negara itu melonggarkan kebijakan pembatasan aktivitas sosial. Di samping itu, secara teknikal, pasar saham di China dini-lai lebih atraktif, karena valuasinya yang relatif sudah sangat murah. 

Rasio price to earnings indeks CSI300 tercatat 13,3 kali dan indeks Hang Seng di level 10,9 kali pada 2022. Ini tentu lebih rendah jika dibandingkan dengan IHSG yang terhitung sebesar 14,4 kali.

Kendati begitu, bursa ekuitas di Indonesia tetap bakal menjadi destinasi menarik bagi investor asing mengingat fundamental ekonomi di dalam negeri yang diyakini cukup solid. Seperti diketahui, rilis data neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus US$3,89 miliar pada Desember 2022. 

Neraca perdagangan Indonesia masih surplus didorong oleh solidnya permintaan global. Ini membuat kinerja ekspor tumbuh 6,58 persen, sedangkan impor melemah 6,61% secara year-on-year/YoY. 

Kami meyakini perkembangan neraca perdagangan Indonesia pada tahun ini akan terjaga dengan baik di tengah harga komoditas yang melandai. Asumsi ini juga bakal ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan Indonesia yang diprediksi menguat pada kuartal I/2023 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Hal ini tecermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) BI pada 3 bulan pertama tahun ini yang diperkirakan menca-pai 53,30 persen, lebih tinggi dari 50,06 persen pada kuartal IV/2022. Seluruh subsektor industri pengolahan diperkirakan berada pada fase ekspansi pada tahun ini.

Dengan prospek dan fundamental ekonomi yang kuat ke depan, kami sangat meyakini bahwa investor asing bakal kembali melakukan aksi beli di pasar saham Indonesia. Investor lokal juga mesti memanfaatkan momentum ini untuk mulai mencicil beli saham-saham yang prospektif.

Sembari menunggu rilis data keuangan kuartal IV/2022, investor tentu sudah bisa memetakan sejumlah saham yang memiliki prospek positif dan harganya pun terhitung undervalue atau terdiskon cukup dalam sejak awal tahun.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, konsumer, dan energi dapat menjadi pilihan investor karena memiliki fundamental yang kuat. Sektor saham tersebut secara historis bakal menjadi motor penggerak indeks dengan pertumbuhan tertinggi saat pasar berbalik arah ke dalam tren bullish.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.