Berebut Kue Pasar Ekspor di Jazirah Arab

Pemerintah getol menandatangni komitmen ekspor dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, khususnya Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Seperti apa prospek perniagaan bilateral dengan pasar-pasar tersebut?

Iim Fathimah Timorria

9 Nov 2021 - 13.15
A-
A+
Berebut Kue Pasar Ekspor di Jazirah Arab

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Kadin Arsjad Rasjid dan sejumlah perwakilan investor Uni Emirat Arab dalam acara Indonesia-PEA Investment Forum di Dubai, Kamis (4/11/2021)./Antara

Bisnis, JAKARTA — Upaya misi dagang yang digelar pemerintah untuk memperkuat pasar ekspor di Timur Tengah dan Kawasan Teluk, khususnya Uni Emirat Arab (UEA) disambut positif oleh pelaku usaha perhiasan dan makanan-minuman (mamin).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi—yang memimpin misi dagang tersebut—mengatakan penjajakan tersebut bertujuan memperkuat penetrasi pasar Timur Tengah dan juga membangun jejaring bisnis dengan menghadirkan pelaku usaha Indonesia.

“Diharapkan melalui kegiatan ini ekspor produk perhiasan serta mamin Indonesia pascapandemi akan mengalami peningkatan signifikan,” ujarnya, awal pekan ini.

Kegiatan misi dagang tersebut merupakan hasil kerja sama Kemendag dengan Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi, Konsul Jenderal RI Dubai, dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Dubai.

Misi dagang terdiri dari kegiatan forum bisnis dan penjajakan kerja sama bisnis (business matching).

Forum bisnis RI-UEA dibuka oleh Duta Besar RI untuk UEA Husin Bagis dan diikuti 60 peserta terdiri dari perusahaan Indonesia, buyer, diaspora Indonesia, asosiasi, serta perwakilan pemerintah.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) Eddy Yahya berharapbekspor produk perhiasan Indonesia ke UAE dapat meningkat tiga kali lipat pada 2025.

“Terutama, jika perjanjian ekonomi komprehensif Indonesia dan UEA [IUAE-CEPA] dapat ditandatangani dan diimplementasikan pada 2022,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukmam mengatakan nilai ekspor mamin Indonesia dan UEA saat ini masih sangat kecil.

“Diharapkan ada investor UEA di sektor mamin untuk berinvestasi di Indonesia. Kegiatan ini dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kolaborasi pada sektor halal dan promosi program Indonesia Spice up the World,” ucapnya.

Chairman Dubai Gold and Jewelry Group Tawhid Mohammad Taher Abdulla Al Mohadi berharap ada peningkatan suplai produk perhiasan Indonesia ke UAE. Menurutnya, suplai dari Indonesia terhitung masih kecil dibandingkan dengan kebutuhan UAE akan emas.

Sejumlah kesepakatan dagang tercatat berhasil dicapai dalam kegiatan business matching  di misi dagang kali ini. Empat nota kesepahaman ditandatangani untuk produk perhiasan emas senilai total US$180 juta yang akan dipasok selama setahun.

UEA sendiri merupakan pasar potensial untuk perhiasan dan emas Indonesia karena merupakan hub untuk pasar lainnya. Namun, ekspor dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan karena adanya pandemi akibat kebijakan pembatasan di masing-masing negara.

Pada 2020, total perdagangan kedua negara mencapai US$2,9 miliar. Sementara pada periode Januari—Augustus 2021, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar US$2,41 miliar.

Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke UEA sebesar US,$1,12 miliar, naik sebesar 33,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$833,79 juta.

Sementara itu, impor Indonesia dari UEA senilai US$1,29 miliar atau naik 20,96 persen dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1,07 miliar.

Produk utama ekspor nonmigas Indonesia ke UEA antara lain minyak sawit, perhiasan, pipa besi dan tabung, kendaraan bermotor, dan kain sintetis.

Karyawati merapikan perhiasan emas di Kantor Pusat Pegadaian, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

PASAR SAUDI

Masih terkait dengan upaya memacu ekspor ke jazirah Timur Tengah, Kemendag juga memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman antara platform digital Indomatjar, perusahaan logistik Goorita, dan diaspora Indonesia Chef Saudi Association (ICSA) senilai US$5 juta untuk ekspor produk makanan dan minuman serta kebutuhan sehari-hari secara ritel.

Ekspor secara ritel dianggap efektif untuk ekspor dalam jumlah kecil dan dilakukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Untuk mengatasi pembatasan akibat pandemi Covid-19, pelaku usaha dapat melakukan ekspor secara ritel atau langsung ke konsumen. Salah satu caranya dengan menggunakan platfotm digital Indomatjar. Pelaku usaha yang belum pernah ekspor pun diharapkan dapat segera memanfaatkan layanan tersebut,” kata Didi.

Platform digital Indomatjar bergerak di bidang jasa sumber daya dan pasar daring untuk memasarkan kebutuhan masyarakat Arab Saudi dan diaspora Indonesia di Arab Saudi.

Sementara itu, Goorita menyediakan layanan pengiriman dan pengelolaan toko di lokapasar bagi UMKM Indonesia.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Marolop Nainggolan mengatakan penandatanganan nota kesepahaman kali ini merupakan bagian dari transaksi Trade Expo Indonesia Digital Edition (TEI-DE) 2021.

"Kami harap Indomatjar mampu menghubungkan dengan baik para pelaku usaha di Indonesia dengan para pelaku usaha di Arab Saudi, baik untuk business to business maupun business to consumer," kata Marolop.

Marolop mengatakan pemerintah Arab Saudi telah menggulirkan kebijakan menaikkan batasan personal effect atau barang untuk konsumsi pribadi yang tidak dikenakan pajak menjadi 3.000 riyal atau setara Rp11,4 juta.

Negara tersebut juga mulai membuka pintu masuk bagi jemaah umrah asal Indonesia.

“Hal ini merupakan salah satu peluang yang dapat segera dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan ekspor ke pasar Arab Saudi,” tambahnya.

Konsul Jenderal RI di Jeddah Eko Hartono menyebutkan besarnya potensi pasar Arab Saudi untuk eksportir Indonesia. Selain jemaah umrah, pasar Arab Saudi cukup menerima produk Indonesia.

"Tantangan seperti kurasi dan ongkos kirim, kami optimistis akan dapat diatasi pada masa mendatang. Pelaku UKM diharapkan dapat segera memanfaatkan platform Indomatjar untuk menembus pasar Arab Saudi,” kata Eko.

CEO Indomatjat Hadi Lee mengajak pelaku UKM untuk bergabung dengan Indomatjar dalam rangka menggaet konsumen di Arab Saudi.

“Pelaku UKM tidak dipungut biaya untuk keanggotaan dalam Indomatjar. Hal ini dilakukan dalam rangka mengajak pelaku UKM bergabung dalam ekosistem pengembangan ekspor nasional."

Sementara itu, CEO Goorita Yuwono Wicaksono mengatakan setidaknya ada 2 ton produk UKM yang sudah masuk ke pasar Arab Saudi per bulannya. Volume ini disebutnya naik 30 persen per bulan secara organik.

Apical memiliki 11 fasilitas pemrosesan di seluruh dunia: 6 kilang, 3 pabrik biodiesel, pabrik penghancur inti dan pabrik kimia oleo; dengan kapasitas keseluruhan lebih dari 10 juta metrik ton (MT) per tahun. /APICAL

EKSPOR SAWIT

Dari sisi korporasi, Apical Group, salah satu produsen minyak sawit yang tergabung dalam Grup Royal Golden Eagle (RGE), memperluas penetrasi produk ke pasar nontradisional di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Upaya penetrasi dilakukan lewat keikutsertaan dalam pameran Gulfood Manufacturing 2021 di Dubai World Trade Center, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada 7 sampai 9 November 2021.

Keikutsertaan Apical Group dalam ajang ini merupakan yang pertama kali dan sebagai upaya memperluas pasar internasional khususnya di Timur Tengah dengan menjaring pasar lokal di UEA.

Perusahaan melihat Dubai sebagai kawasan pusat perdagangan penting di Timur Tengah yang menghubungkan jalur perdagangan di negara-negara sekitarnya, bahkan hingga ke Afrika. Potensi ini menjadi perhatian utama bagi Apical.

“Pada 2021, Apical menargetkan untuk memperluas pasar internasional produk kelapa sawit berkelanjutan ke kawasan Timur Tengah. Melihat pertumbuhan ekspor Apical Group pada 2020 yang sudah menjangkau 30 negara di seluruh dunia membuat kami optimistis tahun ini bisnis ekspor mulai pulih," kata Vice President Apical Group Deric Foo Lai Shuang.

Gulfood Manufacturing yang berlangsung pada 7–9 November 2021 adalah acara industri pemrosesan dan pengemasan makanan dan minuman terbesar di kawasan Timur Tengah.

Pameran ini menghubungkan lebih dari 1.600 pemasok yang memberikan beragam solusi dalam upaya peningkatan bisnis manufaktur terbaru.

Pada pameran Gulfood Manufacturing 2021, Apical Group yang berlokasi di Hall SHK Saeed 2 fokus pada 4 klasifikasi produk yakni  fatty oils, oleochemicals, renewable energy dan industry bulk.

Pemilihan produk tersebut didasarkan pada peluang ekspor dan daya saing produk sejenis di negara lain. Dari pengamatan terakhir, semua produk tersebut memiliki potensi besar di UEA dan negara sekitarnya.

“Pameran dagang seperti ini cukup efektif menjaring mitra bisnis baru di luar negeri. Kami juga bersyukur dengan kondisi pandemi saat ini yang berangsur pulih sehingga  dapat memberikan kesempatan kepada para pelaku industri seperti Apical Group untuk mengembangkan bisnis,” kata Deric.

Sampai dengan September 2021, ekspor produk minyak sawit dalam kode HS 15 mencapai 23,61 juta ton. Volume impor itu setara dengan nilai US$23,95 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.