Berharap Pemerintah Mempercepat Izin Impor Gula Rafinasi

Adanya gejolak harga gula dan pelemahan Rupiah membuat para perusahaan yang mendapat jatah impor berharap proses administrasi izin impor di pemerintah berjalan dengan cepat. Mereka ingin agar surat persetujuan impor (SPI) bisa segera terbit setelah neraca komoditas (NK) ditetapkan.

Dwi Rachmawati

25 Okt 2023 - 13.03
A-
A+
Berharap Pemerintah Mempercepat Izin Impor Gula Rafinasi

Buruh menurunkan muatan gula pasir dari kapal Pinisi yang dikirim dari Sulawesi Tenggara, di Pelabuhan Paotere Makassar, Sulawesi Selatan. Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis, JAKARTA – Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) berharap pemerintah bisa mempercepat proses administrasi izin impor untuk memudahkan melakukan perencanaan dan srategi bisnis.

Direktur Eksekutif AGRI Gloria Guida Manalu menyebut adanya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat telah memberikan dampak terhadap pengadaan raw sugar untuk GKR (gula kristal rafinasi) di dalam negeri. Apalagi, harga gula di pasar global juga cenderung meningkat.

Data Trading Economics pun mencatat harga raw sugar di bursa berjangka Amerika Serikat per 24 Oktober 2023 sebesar US$27,58 per pon mengalami kenaikan 52,12 persen secara year-on-year (YoY). Harga gula mentah tersebut masih mendekati level tertinggi dalam 12 tahun terakhir sebesar US$27,5 per pon.

Baca juga: Menanti Adaptasi S-Commerce Menangkap Cuan

Mengutip bisnis.com yang melansir data Bloomberg, tercatat bahwa nilai tukar Rupiah di pasar spot pada Selasa, 24 Oktober 2023 pukul 14.48 WIB menguat 0,52 persen menjadi Rp15.850 per Dolar AS.

"Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang makin terdepresiasi pastinya berdampak pada kegiatan importasi raw sugar," ujar Gloria saat dihubungi, Selasa (24/10/2023).

Adanya gejolak harga gula dan pelemahan Rupiah membuat para perusahaan yang mendapat jatah impor berharap proses administrasi izin impor di pemerintah berjalan dengan cepat. Mereka ingin agar surat persetujuan impor (SPI) bisa segera terbit setelah neraca komoditas (NK) ditetapkan.

Terlebih adanya kekhawatiran lonjakan permintaan gula jelang Pemilu 2024 dan Ramadan yang datang lebih awal di tahun depan.


Alat khusus pengangkat mengatur tumpukan karung berisi gula rafinasi di salah satu pabrik di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu. Bisnis/Paulus Tandi Bone

"Sehingga kami bisa punya keleluasaan waktu untuk melakukan perencanaan dan strategi bisnis," tutur Gloria.

Gloria menyebut, realisasi impor gula mentah untuk diolah menjadi GKR per akhir September 2023 mencapai 2,9 juta ton atau 80 persen dari total kuota impor raw sugar yang diberikan kepada 11 anggota AGRI sebanyak 3,6 juta ton di tahun ini.

Kendati begitu, Gloria memastikan stok gula rafinasi yang ada saat ini masih aman dan mencukupi kebutuhan industri makanan dan minuman sampai akhir tahun.

Baca juga: El Nino Diprediksi Turunkan Produksi Gula Hingga 30%

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi mengakui nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat menjadi faktor pendorong harga pangan di dalam negeri. Khususnya untuk pangan yang pengadaannya masih bergantung dari impor seperti gula.

"Naik turunnya harga barang dari impor tergantung currency," ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi saat dihubungi, Senin (23/10/2023).

Arief yang saat ini juga menjabat sebagai Plt. Menteri Pertanian menuturkan bahwa ketersediaan tetap menjadi prioritas utama untuk pangan impor. Musababnya, pengadaan stok pangan impor, kata dia harus terukur. Penyesuaian harga menjadi keniscayaan.

"Untuk [pangan] tergantung impor, ketersediaan menjadi prioritas, harga [jadi] prioritas berikutnya," ucap Arief.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.