Berjuang Menuju Ekosistem Pembayaran Contactless

Sepertiga masyarakat Indonesia telah menggunakan metode pembayaran contactless. Di sisi lain, pembayaran menggunakan metode tunai kian menurun.

Redaksi

20 Mar 2024 - 09.48
A-
A+
Berjuang Menuju Ekosistem Pembayaran Contactless

Bisnis, JAKARTA — Hasil survei Consumer Payement Attitudes Stydy dari Visa Worldwide Indonesia menunjukan penggunaan metode pembayaran contactless mencapai 33%. Angka ini menunjukan penggunaan kartu contactless sudah digunakan sepertiga masyarakat Indonesia.

Pengguna kartu contactless sebenarnya tidak berubah jauh selama tiga tahun terakhir, yakni stagnan di 33,3%. Namun, terjadi penurunan penggunaan metode tunai menjadi 80% pada 2023 dari 84% di tahun 2022.

Visa sebenarnya telah menerbitkan kartu contactless pada pertengahan 2000-an, tetapi peluncurannya baru diadakan secara masif sekitar 5 tahun terakhir.

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurahman, mengatakan bahwa Visa telah menyesuaikan sejumlah kebijakan untuk menghadapi transisi ke contactles.

“Sesuai mandat yang telah dikeluarkan pada tahun 2021, Visa kini mewajibkan dan menyediakan metode contactless pada seluruh kartu baru,” ujar Riko dalam Media Briefing Visa bersama rekan media di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Riko juga menambahkan bahwa pembayaran contactless sebaiknya diarahkan kepada titk-titik dengan tingkat mobilitas yang tinggi.

“Metode contactless sebaiknya diarahkan ke merchants yang mengandalkan konsumen dengan antrian-antrian yang cenderung panjang dan memakan waktu,” ujar Riko.

Dari 85% orang yang tertarik dengan kartu contactless, sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas sebesar 91%.

Jumlah rata-rata pembayaran kartu contactless saat ini mencakup 6,5 dari 10 pembayaran. Selain itu, rencana penggunaan contactless selama 6 bulan ke depan mencapai 7,4 dari 10.


Tunai Semakin Ditinggalkan

Sebanyak 45% masyarakat pada 2023 membawa uang tunai lebih sedikit dan 64% di antaranya sudah mencoba hidup secara cashless.

Masyarakat menilai uang tunai tidak praktis karena bisa terjatuh serta kurang dari segi keamanannya. Selain itu, kemudahan tarik tunai memungkinkan masyarakat untuk tidak perlu membawa tunai terlalu banyak.

Survei Visa menunjukan ekosistem cashless diperkirakan akan terjadi dalam periode 2023 hingga 2030, bahkan bisa lebih cepat.

Permasalahan regulasi menjadi faktor utama yang menghambat terciptanya ekosistem cashless.

Riko juga menambahkan bahwa perlu adanya peningkatan literasi nontunai kepada masyarakat. Dengan begitu, tingkat awareness masyarakat soal cashless semakin bertambah.

“Saat ini mungkin Indonesia belum mampu mencapai cashless society. Namun, hasil survei menunjukan perilaku masyarakat yang semakin less cash dari tahun ke tahun,” ujar Riko.

(Reporter: Muhammad Nishfi Azriel)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.