Berkah Nota Kesepahaman Investasi Dubai bagi PTBA dan INDY

Dua emiten batu bara, PTBA dan INDY bersama pemerintah turut menandatangani nota kesepahaman dengan Air Products dengan nilai US$15 mililar atau setara Rp210 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara dan turunannya.

Annisa Kurniasari Saumi & Jaffry Prabu Prakoso

7 Nov 2021 - 20.21
A-
A+
Berkah Nota Kesepahaman Investasi Dubai bagi PTBA dan INDY

Aktivitas penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Tanjung Enim, Sumatra Selatan/Bloomberg-Dadang Tri

Bisnis, JAKARTA — Keikutsertaan dua emiten batu bara, yakni PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) dalam nota kesepahaman dengan Air Products untuk proyek gasifikasi batu bara dan turunannya bakal meningkatkan penjualan keduanya di tahun-tahun mendatang.

Nota kesepahaman tersebut ditandatangani oleh Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia dengan kedua emiten bersama dengan Air Products and Cheicals, Inc. (APCI) di Dubai pekan lalu.

Nilainya mencapai US$15 mililar atau setara Rp210 triliun untuk proyek gasifikasi batu bara dan turunannya.

Kesepakatan investasi besar dan berjangka panjang ini berupa pendirian fasilitas gasifikasi untuk konservasi batu bara bernilai rendah menjadi produk kimia bernilai tambah tinggi seperti methanol, dimethyl ether (DME), dan bahan kimia lainnya.

Kerja sama ditujukan untuk mendorong hilirisasi sumber daya alam dan meningkatkan substitusi impor. Hal ini merupakan perwujudan dari arah kebijakan Presiden Jokowi terkait transformasi ekonomi.

Bahlil menjelaskan dalam kesepakatan tersebut, APCI akan melakukan kerja sama dengan BUMN dan pengusaha nasional di beberapa lokasi, seperti Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Ini merupakan komitmen pemerintah dalam menerapkan model investasi yang kolaboratif dan inklusif.

“Dalam konteks ini, kita langsung menindaklanjuti dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Realisasinya akan mulai berjalan awal tahun 2022 nanti. Jadi saya pikir ini angka yang baik, tinggal bagaimana kita mengawal pada tindakan teknisnya,” jelasnya dalam siaran pers, Sabtu (6/11).

Presiden, Chairman, sekaligus CEO dari Air Products and Chemicals Shefi Ghasemi menyampaikan suka citanya atas penandatanganan nota kesepahaman.

“Ini memberikan motivasi yang semakin kuat bagi kami untuk dapat segera merealisasikan investasi di Indonesia. Terima kasih atas dukungan penuh dari Kementerian Investasi selama ini. Kami siap untuk segera menindaklanjuti,” ucap Shefi Ghasemi.

Sebagai langkah konkret dari nota kesepahaman dengan Kementerian Investasi/BKPM, Air Products juga langsung menandatangani empat nota kesepahaman dengan BUMN dan perusahaan nasional.

Dua di antara empat nota kesepahaman tersebut dilakukan dengan INDY dan PTBA. Nota kesepahaman APCI dengan INDY yakni proyek batu bara menjadi DME, sedangkan dengan PTBA yakni proyek gasifikasi batu bara untuk produksi methanol.

Dua nota kesepahaman lainnya yakni proyek gas alam menjadi amonia biru dengan PT Butonas Petrochemical Indonesia dan proyek batu bara menjadi DME dengan PT Batulicin Enam Sembilan.

PROSPEK PTBA & INDY

Lalu, bagaimana proyeksi produksi dan penjualan batu bara kedua emiten tersebut?

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu dalam risetnya mengatakan, dengan masih kuatnya permintaan domestik dan global, pihaknya memperkirakan volume penjualan PTBA akan terus naik ke depannya.

"Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan volume penjualan full year 2021-2023 sebesar 30,6 juta ton, 34,7 juta ton, dan 37,9 juta ton," kata Dessy, dikutip Minggu (7/11).

Selain itu, lanjutnya, ada potensi tambahan permintaan dari proyek-proyek PTBA lainnya seperti PLTU mulut tambang Sumsel 8 dan fasilitas gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).

Dessy pun merekomendasikan beli untuk saham PTBA dengan target harga Rp3.500.

Sementara untuk Indika Energy, Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengatakan, INDY menargetkan produksi batu bara sebesar 35,7 juta ton untuk tahun 2021. Kondisi cuaca yang tidak mendukung di beberapa daerah di Kalimantan akan mempengaruhi produksi batu bara serta logistik.

Adapun pada semester I/2021, produksi batu bara INDY mencapai 18,2 juta ton. Meski demikian, Stefanus menuturkan investor bisa berharap pada kontribusi bisnis INDY di luar batu bara.

"INDY berharap untuk melakukan diversifikasi di luar batu bara dengan meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-batu bara," tulis Stefanus dalam risetnya.

Dia menyebut, pada 2025, perseroan menargetkan bisnis non-batubara berkontribusi 50% dari total pendapatan. Pada semester I/2021, pendapatan non-batubara menyumbang 13,7% dari total pendapatan perseroan.

Indika Energy pun tengah dalam proses diversifikasi bisnis di bidang mineral, melalui akuisisi lebih lanjut di pertambangan logam yang berfokus pada emas dan mineral lainnya, logistik dan infrastruktur meliputi penyimpanan bahan bakar dan pelabuhan dan energi terbarukan meliputi Solar PV dan Listrik 2W.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.