Berkah Outlook Positif S&P Bagi Pasar Surat Utang Indonesia

Kondisi pasar surat utang Indonesia berpotensi bangkit lagi setelah tekanan akibat kondisi global akhir-akhir ini, terutama seiring dengan revisi outlook atas surat utang Indonesia dari Standard and Poor's.

Emanuel Berkah Caesario
Apr 29, 2022 - 1:45 PM
A-
A+
Berkah Outlook Positif S&P Bagi Pasar Surat Utang Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Keputusan lembaga pemeringkat internasional, Standard and Poor’s (S&P) untuk menaikkan outlook peringkat Indonesia dari negatif menjadi stabil memberikan harapan bagi tambahan tenaga pasar surat utang domestik untuk bertahan di tengah tekanan global saat ini.

S&P masih mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB. Outlook negatif yang diberikan S&P selama ini mengindikasikan bahwa ada kemungkinan besar lembaga tersebut akan menurunkan peringkat utang Indonesia.

Kenyataannya, kondisi ekonomi Indonesia terbukti cukup kuat melewati periode pandemi, sehingga lembaga tersebut tidak jadi menurunkan peringkat Indonesia. Dengan outlook yang kini berubah menjadi stabil, artinya lembaga tersebut memandang ekonomi Indonesia sudah cukup sehat.

Dalam laporannya, S&P menyatakan bahwa revisi ke atas outlook Indonesia menjadi stabil didasarkan pada perbaikan posisi eksternal ekonomi Indonesia, konsolidasi kebijakan fiskal yang dilakukan oleh pemerintah secara gradual, dan keyakinan S&P terhadap pemulihan ekonomi Indonesia yang akan terus berlanjut sampai dengan 2 tahun ke depan.

Sementara itu, peringkat Indonesia yang dipertahankan pada level BBB didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang solid dan rekam jejak kebijakan yang berhati-hati.  

Adapun, peringkat suatu negara akan berhubungan erat dengan pasar surat utangnya, terlebih lagi terkait biaya dana yang harus dikeluarkan pemerintah dalam menerbitkan instrumen utang untuk menambal defisit anggaran.

Makin rendah peringkat suatu negara, umumnya makin tinggi yield surat utang yang ditawarkannya kepada investor. Alhasil, beban keuangan negara pun meningkat. Sementara itu, outlook memainkan peranan penting dalam persepsi investor terkait prospek investasi di masa mendatang.

Outlook yang negatif mencerminkan peningkatan risiko surat utang suatu negara, sehingga investor pun cenderung akan lebih berhati-hati, meminta yield yang tinggi, atau harus membayar premi credit default swap (CDS) yang lebih besar untuk mengamankan risiko.

Jadi, outlook yang kini stabil memiliki makna yang besar bagi pemerintah dan pasar surat utang Indonesia, terlebih kini pemerintah sedang bergulat dengan upaya menekan defisit anggaran dan mengurangi beban utang.

Di sisi lain, pasar surat berharga negara (SBN) kini tengah menghadapi tekanan akibat sentimen global, terutama kenaikan tensi konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, serta ancamanan pengetatan moneter bank sentral Amerika Serikat, the Fed.

Kedua faktor tersebut sama-sama meningkatkan risiko investasi global sebab arus ekonomi bakal tersendat. Kondisi ini menyebabkan investor global cenderung akan mengalihkan dananya ke AS yang dipersepsikan sebagai negara dengan risiko yang paling rendah.

Kondisi ini bakal menyebabkan tekanan jual pada instrumen surat utang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini sudah terjadi saat ini, dengan naiknya yield surat utang negara (SUN) Indonesia tenor 10 tahun ke level di atas 7 persen dari sebelumnya sekitar 6 persen saja.

Untuk diketahui, ketika yield surat utang naik, itu berarti harganya mengalami penurunan. Kondisi ini bukanlah hal yang ideal bagi investor, sebab investor tidak saja mengincar pendapatan tetap dari pembayaran kupon rutin, tetapi juga dari capital gain hasil transaksi surat utang di pasar sekunder.

Adanya outlook positif dari S&P memberikan sedikit angin segar di tengah tekanan yang tengah terjadi di pasar surat utang Indonesia ini.

Hal tersebut diamini oleh Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto. “Tentu ini berita bagus dan ini sudah kami prediksikan sebelumnya,” katanya kepada Bisnis, Kamis (28/4).

Handy mengatakan dengan rating BBB dari tiga lembaga pemeringkat dan outlook yang stabil, mengindikasikan risiko kredit di Indonesia terus membaik. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar surat utang Indonesia yang nantinya turut berimbas terhadap minat para investor.


MASIH MENARIK

Perbaikan kondisi pasar obligasi Indonesia ke depannya juga didukung oleh meredanya tekanan jual asing. Hal ini seiring dengan tingkat kepemilikan asing pada SBN yang turun dari kisaran 40 persen di tahun 2018 menjadi sekitar 17,4 persen pada tahun ini.

Selain itu, pasokan SUN Indonesia juga masih berpeluang berkurang pada tahun ini seiring dengan target defisit fiskal yang lebih rendah, yakni 4,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) dari sebelumnya 4,85 persen dari PDB.

Ia menambahkan, saat ini SUN Indonesia dengan yield sekitar 7 persen masih cukup menarik di mata investor. Hal ini karena nilai SUN Indonesia yang masih 30 basis poin di bawah fair value.

“Kami memproyeksikan imbal hasil SUN Indonesia pada akhir 2022 berada di kisaran 6,45 persen – 6,7 persen,” pungkasnya.

Sebelumnya, Handy juga mengungkapkan dalam laporannya bahwa meski cenderung melemah, pergerakan imbal hasil obligasi Indonesia masih lebih baik bila dibandingkan dengan emerging market lainnya. Hal ini mengindikasikan kuatnya ketahanan pasar SUN Indonesia terhadap sentimen-sentimen global.

“Ketahanan pasar SUN Indonesia seiring dengan data neraca transaksi berjalan yang membaik dan bertambahnya cadangan devisa yang mendukung stabilitas rupiah,” jelas Handy.

Ke depannya, Handy mengatakan pergerakan imbal hasil SUN Indonesia akan membaik. Hal ini ditopang oleh kenaikan harga komoditas akibat perang Rusia – Ukraina. Handy memaparkan, kondisi ini berdampak positif terhadap pendapatan fiskal dan neraca perdagangan pemerintah.

Sementara itu, Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Roby Rushandie, mengatakan bahwa kenaikan outlook memberikan sinyal penurunan risiko investasi pada obligasi negara Indonesia bagi investor asing.

Ia menuturkan, hal tersebut dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kepercayaan dan daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke obligasi negara dalam jangka menengah. Perbaikan ini diharapkan dapat menahan tren penurunan kepemilikan asing pada SBN.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa defisit APBN yang cenderung mengecil mengindikasikan pengelolaan keuangan negara sangat pruden dan bahkan dalam pagu indikatif APBN 2023.

Oleh karena itu, defisit fiskal diperkirakan akan kembali ke kondisi normal yakni 3 persen terhadap PDB. Hal ini menjadi cerminan dari peningkatan aktivitas ekonomi Indonesia yang kemudian menjadi pertimbangan S&P dalam meningkatkan outlook Indonesia.

Menurutnya, hal tersebut berimplikasi pada kondisi utang pemerintah yang cenderung menurun dan selanjutnya menunjukkan debt sustainability yang terus membaik.

“Perubahan outlook ini diperkirakan mampu mendukung stabilitas rupiah dan pergerakan yield di pasar keuangan,” ujar Josua.  

Di sisi lain, Josua menyampaikan bahwa permintaan dari investor asing terhadap SBN domestik cenderung turun selama ketidakpastian global yang meningkat sejak bulan Februari 2022, akibat sentimen the Fed, maupun dari risk-off akibat perang Rusia-Ukraina.

Sementara itu, dari sisi pasar primer atau lelang rutin SBN, Josua melihat terjadi penurunan, baik dari penawaran yang masuk atau incoming bids, maupun nilai yang dimenangkan pemerintah atau bid-to-cover ratio, mulai dari akhir Februari hingga saat ini.

Sedangkan, dari sisi pasar sekunder, investor asing cenderung mencatatkan aksi jual di bulan Maret, di mana tercatat bahwa kepemilikan asing turun hingga Rp48,35 triliun. Aksi jual dari investor asing pun masih terus terjadi hingga bulan ini yang terefleksi dari penurunan kepemilikan SBN sebanyak Rp5,76  triliun per tanggal 22 April 2022 lalu.

“Kondisi tersebut kemudian mendorong pelemahan dari obligasi, sehingga yield SBN cenderung meningkat hingga melebihi 60 basis poin (bps) di tahun ini,” kata Josua.

Yield surat utang negara (SUN) Indonesia tenor 10 tahun sempat menyentuh level 7,123 persen pada awal pekan ini sebelum kembali turun 6,998 persen pada Jumat (29/4) setelah adanya pengumuman kenaikan outlook surat utang Indonesia dan S&P. Sumber: worldgovernmentbonds.com.

Pelemahan yield Indonesia menurut Josua cenderung serupa jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, dengan adanya peningkatan sebanyak kurang lebih 60 bps - 80 bps.

Josua pun mengungkapkan ke depannya, selama sentimen hawkish dan tensi geopolitik masih tinggi, potensi terjadinya capital outflow masih relatif tinggi di pasar obligasi.

“Namun, di paruh kedua 2022 mendatang, ketika sentimen tersebut diperkirakan sudah mulai mereda, permintaan secara gradual akan pulih, sehingga mendorong penurunan yield,” papar Josua.

Di akhir tahun sendiri, Josua memperkirakan yield SBN Indonesia tenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,8 persen hingga 7,0 persen.

Berdasarkan data worldgovernmentbonds.com, imbal hasil SBN bertenor 10 tahun dengan rating BBB berada di level 7,09 persen pada Kamis (28/4). Selama sebulan terakhir, imbal hasil SBN Indonesia telah melemah sebesar 27,2 bps, sedangkan dalam 6 bulan terakhir telah melemah sebesar 85,6 bps.

 

(Reporter: Lorenzo A. Mahardhika, Ika Fatma Ramadhansari)

 

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Berkah Outlook Positif S&P Bagi Pasar Surat Utang Indonesia

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ