Free

Berkat Makmur, Lahan Garapan Petani Makin Menjamur

PT Pupuk Indonesia mengembangkan program Makmur sejak tahun lalu. Hasilnya, puluhan ribu petani mendapata pendampingan khusus demi mencapai hasil panen sesuai harapan.

Rayful Mudassir

30 Nov 2022 - 17.08
A-
A+
Berkat Makmur, Lahan Garapan Petani Makin Menjamur

Petani membajak sawahnya menggunakan traktor tangan di Desa Porame, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/4/2020). - Antara

Bisnis, JAKARTA - Bertani adalah pengabdian. Kalimat ini dipegang kuat oleh Iqbal Abipraya, petani muda yang menggantungkan hidupnya dengan berladang. Meski pekerjaan ini terbilang kuno, namun ketahanan pangan Indonesia berada di pundaknya. 


Lulus sebagai Sarjana Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur, Iqbal tak memilih profesi lain. Dia mantap menetapkan niat menjadi petani. Bermodal ilmu selama di bangku kuliah, bapak satu anak itu memanfaatkan Tanah Kas Desa sebagai lahan tanam.


Tanah kas adalah aset yang dimiliki Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Jember, tempat Iqbal dan keluarga bermukim. Fasilitas desa tersebut disewa untuk ditanami pelbagai produk hortikultura. 


Pada tahap awal, pria berusia 28 tahun itu menggarap dua hektare lahan untuk menanam beberapa jenis pangan seperti jagung, ketela pohon, pepaya hingga cabai. Namun perlahan, Iqbal memilih semangka tanpa biji sebagai tanaman utama. Maklum, Desa Mayangan berada di dekat pantai.


BACA JUGA: Pupuk Kaltim dan Target Jadi Produsen Besar Asia Pasifik


“Secara topografi tanah yang dekat dengan bibir pantai sedikit berpasir, sangat cocok dengan hortikultura,” katanya dalam diskusi virtual belum lama ini.


Pemilihan semangka juga bukan tanpa alasan, produk hasil tani ini disebut menjadi tanaman tanpa musim. Umumnya, buah tersebut akan mencapai masa panen setelah 60 hari masa tanam. Belum lagi, Semangka tanpa biji dapat menghasilkan buah yang lebih besar dibandingkan semangka berbiji. 

Kendati mengetahui soal seluk beluk pertanian secara teoritis, pengalaman di lapangan tidak serta-merta sama. Petani termasuk Iqbal harus berhadapan dengan tingginya biaya produksi, baik pengadaan pupuk hingga penyewaan lahan, cuaca dan hama. Salah-salah, bila gagal panen, dia bisa menanggung rugi. 


Beruntung, Iqbal masuk sebagai salah satu petani hasil binaan PT Pupuk Kaltim (PKT), anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui program Makmur. Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan keuntungan petani dimulai dengan pendampingan hingga mendapatkan akses pasar.


Program Makmur Pupuk Indonesia pertama kali diluncurkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada Agustus 2021. Program bermakna ‘Mari Kita Majukan Usaha Rakyat’ ini memberikan pengawasan, pendampingan, pengelolaan, sampai dengan permodalan bagi petani di seluruh Indonesia.


Program ini dijalankan serempak oleh seluruh anggota Pupuk Indonesia, salah satunya Pupuk Kaltim. Tiap perusahaan di bawah perseroan menjalankan program sesuai area kerja perusahaan. PKT misalnya, berfokus pada pengembangan petani di wilayah Timur Indonesia. 


Dalam perkembangannya, PKT berhasil membantu pendampingan 26.588 orang petani dengan luasan lahan garapan 53.525 hektare sepanjang Januari - Oktober 2022. Jumlah ini melebihi target yang ditetapkan perusahaan yakni 20.106 orang pada 2022.


Secara menyeluruh, Pupuk Indonesia dan anggotanya berhasil membantu petani menggarap 71.612 hektare lahan pada 2021 dengan 50.054 petani. Capaian ini meningkat 143 persen dari target yang dipatok tahun lalu di kisaran 50.000 hektare. 




“Pada Januari – September 2022, realisasi luas lahan [program Makmur] sebanyak 190.801 hektare, naik 76 persen dari target yakni 250.000 hektare, dengan 85.773 petani dan 399 Project,” kata SVP Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana kepada Bisnis, Rabu (30/11/2022).


Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi menyebut bahwa perusahaan telah menyesuaikan produksi dan sekaligus juga memodifikasi sedemikian rupa agar penyaluran pupuk dapat berjalan tanpa hambatan yang berarti, tentunya dengan dukungan teknologi dan SDM yang mumpuni. 


“Kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan petani tercukupi. Karena itu lewat Makmur, dan Agrosolution inilah kami melakukan pendampingan bagi para petani agar mereka bisa semakin produktif,” katanya dalam keterangan tertulis. 


Iqbal bersyukur terlibat dalam program ini. Pasalnya, petani benar-benar didampingi hingga menghasilkan produksi sesuai harapan. Dimulai dengan tahapan pratanam yakni mengetahui karakteristik tanah sebagai media tanam. 


Sebelum penanaman bibit dimulai, petugas Pupuk Kaltim lebih dulu melakukan uji coba. Tahapan ini dinilai sebagai salah satu langkah paling penting. Petugas PKT mengambil sampel tanah di calon area tanam, kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui kualitas lahan. 


Hasil uji kandungan tanah ini menjadi bahan dasar atau acuan rekomendasi pemupukan. Termasuk pemupukan berimbang. Hasil laboratorium juga akan menentukan mana jenis pupuk yang cocok di daerah tersebut, apakah urea, kalium ataupun fosfat. 




Selain itu, Makmur juga memberikan kepastian dalam ketersediaan pupuk. Sebab, petani akan mendapatkan pupuk secara langsung dari produsen. Belum lagi, PKT akan membantu petani mendapatkan dana pinjaman sebagai salah satu bantuan pertanian hingga mencari akses pasar. 


“Di era kenaikan harga pupuk, banyak dijual pupuk palsu. Tertulis NPK 16, aslinya NPK 1,6 - 1,6. Jadi banyak sekali program Makmur ini yang didapat petani khususnya di Jawa Timur,” tutur Iqbal.


Iqbal merasakan perubahan besar setelah mendapat pendampingan berkala dari program Makmur Pupuk Indonesia lewat anak usahanya Pupuk Kaltim. Tak pelak, penyesuaian dalam budidaya memberikan dampak besar pada hasil panen.

Lewat pemupukan yang tepat, dia berhasil menghemat biaya produksi hingga 20 persen. Kemudian hasil panen meningkat 17 - 20 persen dengan rerata 35 - 40 ton per hektare. Padahal sebelumnya, hasil panen lahan Iqbal maksimal 30 ton per hektare. 

Kini, lahan garapan Iqbal berkembang pesat. Bila semula dia hanya mengembangkan 1 - 2 hektare lahan milik desa, iqbal dan sejumlah petani lain telah mengelola lahan pertanian dengan luasan 25 hektare.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.