Bersiap Gelar Rights Issue, BBYB Matangkan Strategi Bank Digital

Bank Neo Commerce telah mengantongi restu OJK untuk melakukan rights issue senilai Rp2,5 triliun yang bakal menghantarkan modal inti perseroan mencapai Rp3,6 triliun. Ini cukup untuk memenuhi batas minimal yang dipersyaratkan OJK, yakni Rp3 triliun.

Dionisio Damara & Rika Anggraeni

22 Nov 2021 - 15.27
A-
A+
Bersiap Gelar Rights Issue, BBYB Matangkan Strategi Bank Digital

Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA — PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) resmi mengantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap rencana perseroan menggelar rights issue dalam rangka pemenuhan modal inti minimum.

Bank Neo Commerce atau BNC akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak untuk memesan efek terlebih dahulu kelima (PMHMETD V) kepada pemegang saham existing atau rights issue pada akhir tahun ini.

Rencananya, perseroan akan melepas 1,93 miliar saham  baru yang akan setara dengan 20,45 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan rights issue ini. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100 dengan harga pelaksanaan sebesar Rp1.300 per saham.

Dengan demikian, jika seluruh rights issue perseroan berhasil ditebus, total dana segar yang bakal dikantongi perseroan mencapai Rp2,5 triliun. Ini cukup untuk menghantarkan modal intinya mencapai lebih dari Rp3 triliun dari saat ini sekitar Rp1,11 triliun atau melampaui persyaratan minimal dari OJK.

Tjandra menuturkan aksi korporasi tersebut bertujuan mengakselerasi proses transformasi bank digital, sekaligus memenuhi modal inti bank digital yang ditetapkan OJK minimal Rp2 triliun pada akhir 2021 dan Rp3 triliun akhir 2022.

“Hal ini sebagai bentuk keseriusan BNC dan untuk semakin mempercepat akselerasi transformasi menjadi bank digital terdepan di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/11).

Dalam aksi itu, setiap pemegang saham yang memiliki 35 lembar saham dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 30 November 2021 pukul 16.00 WIB mempunyai 9 HMETD.

Setiap setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru. HMETD ini diperdagangkan mulai 2 Desember hingga 8 Desember 2021.

Tjandra menuturkan penambahan modal itu juga diprioritaskan perseroan untuk investasi berkelanjutan pada teknologi informasi dan mendukung kinerja operasional, di antaranya pengembangan dan rekrutmen karyawan, kegiatan promosi, serta edukasi tentang bank digital.

Selain itu, modal yang dihasilkan juga ditujukan untuk pengembangan aplikasi neobank milik BNC melalui peningkatan berbagai fitur dan layanan perbankan yang inovatif, serta untuk memperkuat rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM).

Saat ini, aplikasi neobank milik BNC dikenal akan inovasi produk dan layanannya yang interaktif, di antaranya terdapat Neo Jurnal, fitur chat, dan games Dunia Neo.

“Raihan modal hasil aksi korporasi ini tentu saja sangat penting bagi perkembangan fitur, layanan, dan produk BNC. Ke depannya, BNC akan terus berinovasi untuk memberikan pengalaman unik perbankan digital yang berbeda bagi para nasabah. BNC akan terus fokus pada inovasi dan terobosan, berfokus pada interaksi antar nasabah,” ungkap Tjandra.

Tjandra bersyukur karena terobosan yang telah BNC lakukan memberikan hasil, di antaranya menjadikan BNC sebagai pemimpin pasar di kategori bank digital saat ini dengan jumlah nasabah terbanyak di Indonesia dan menjadikan aplikasi neobank sebagai aplikasi bank digital yang paling banyak dicari dan diunduh.

“Berbagai raihan positif di tahun ini membuat semangat kami terlecut dan kami optimis kinerja Bank Neo Commerce di tahun depan akan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Secara lebih terperinci, dana hasil rights issue perseroan akan digunakan sebesar 15 persen sebagai modal untuk mendukung ekspansi kredit atau aktiva produktif perseroan.

Selanjutnya, sekitar 40 persen akan digunakan untuk kegiatan operasional perbankan dan 30 persen lainnya akan digunakan untuk mendukung pengembangan teknologi informasi (IT).

Terakhir, sekitar 15 persen dana akan digunakan untuk memperkuat rasio KPMM (CAR) untuk cadangan aset produktif perseroan ke depannya.

BBYB menetapkan tanggal terakhir perdagangan dengan HMETD di pasar reguler dan pasar negosiasi 26 November 2021, sedangkan di pasar tunai pada 30 November 2021.

Adapun, tanggal mulai perdagangan tanpa HMETD di pasar reguler dan pasar negosiasi 29 November 2021, sedangkan di pasar tunai 1 Desember 2021.

Kemudian, tanggal pencatatan (record date) pada 30 November 2021. Lalu, tanggal distribusi jatuh pada 1 Desember 2021. Periode perdagangan HMETD akan dilaksanakan selama 5 hari kerja, yakni 2-8 Desember 2021.

“HMETD yang tidak dilaksanakan hingga tanggal akhir periode tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi,” jelasnya.

Selain itu, manajemen mengungkapkan dalam PMHMETD V ini tidak terdapat pembeli siaga. Dengan demikian, apabila setelah alokasi tersebut masih terdapat sisa HMETD yang tidak dilaksanakan, maka terhadap seluruh HMETD yang tersisa tersebut tidak akan dikeluarkan saham dari portepel.

Dengan demikian, apabila setelah alokasi tersebut masih terdapat sisa HMETD yang tidak dilaksanakan, maka terhadap seluruh HMETD yang tersisa tersebut tidak akan dikeluarkan saham dari portepel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.