Bersiap Memanaskan Mesin Produksi Mamin Menyongsong Ramadan

Di tengah niat untuk memacu produksi jelang musim puncak (peak season) Ramadan dan Idulfitri, para industriawan sektor makanan dan minuman masih diadang risiko defisit pasokan bahan baku garam industri dan gula rafinasi.

Wike D. Herlinda
Feb 22, 2022 - 12:00 PM
A-
A+
Bersiap Memanaskan Mesin Produksi Mamin Menyongsong Ramadan

Calon pembeli memilih produk makanan olahan di salah satu minimarket yang ada di Jakarta, Senin (18/2/2019)./Bisnis

Bisnis, JAKARTA — Periode Ramadan tinggal 2 bulan ke depan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, industri makanan dan minuman pun mulai sibuk mempersiapkan produksi dan strategi untuk memaksimalkan cuan pada musim puncak penjualan ritel tersebut. 

Di tengah niat untuk memacu produksi jelang musim puncak (peak season) Ramadan dan Idulfitri, para industriawan sektor makanan dan minuman (mamin) masih diadang risiko defisit pasokan bahan baku garam industri dan gula rafinasi.

Namun demikian, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman memastikan stok kedua bahan baku tersebut akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan lebaran. 

Hanya saja, kecukupannya sampai akhir tahun perlu dipastikan kembali.

"Stok aman sampai Lebaran, setelah itu perlu evaluasi karena neraca komoditas garam keluar masih di bawah perkiraan kami," kata Adhi saat dihubungi, Selasa (22/2/2022).

Untuk diketahui, kuota impor garam industri untuk tahun ini sebesar 460.000 ton, padahal usulan dari Gapmmi untuk kebutuhan tahun ini mencapai 630.000 ton dengan asumsi sisa kebutuhan dapat dipasok petani garam lokal.

Pada masa panen, garam lokal diharapkan dapat memenuhi kebutuhan industri di luar kuota impor. Sementara itu, serapan garam lokal ke industri pada tahun lalu tercatat 150.000 ton.

Untuk gula kristal rafinasi (GKR), kuota impor bahan baku gula mentah yang disepakati untuk tahun ini adalah 3,48 juta ton. Adhi memperkirakan kebutuhan gula industri akan membengkak 200.000 ton hingga 300.000 ton seiring kenaikan permintaan jelang Lebaran.

Selain permintaan yang naik, industri mamin tidak memiliki sisa stok dari kebutuhan tahun lalu sehingga kuota impor tersebut diproyeksikan akan terlampaui.

"Neraca komoditas gula sesuai, tetapi tetap perlu dievaluasi bila masa Puasa dan Lebaran ini terjadi lonjakan," ujarnya.

Sekadar catatan, pada tahun lalu, industri mamin mencatatkan pertumbuhan 2,54 persen, setelah pada 2020 juga naik 1,55 persen. Gapmmi memproyeksikan pertumbuhan tahun ini akan berkisar 5 persen hingga 7 persen.

Terkait dengan dampak perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Adhi mengaku belum ada efek samping yang terlalu signifikan pada permintaan mamin. Laporan ritel dari toko kelontong (minimarket) dan pasar tradisional masih menunjukkan geliat konsumsi. 

Permintaan yang masih tampak sepi yakni dari segmen pasar swalayan (supermarket) karena umumnya beroperasi di dalam mal, yang jumlah kunjungan dan jam operasionalnya terbatas.

"Semua tumbuh bagus kecuali supermarket. Minimarket dan general trade bagus," katanya. 

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho memproyeksikan industri mamin melanjutkan tren pemulihan pada tahun ini, setelah membubukan pertumbuhan 2,54 persen pada 2021.

Gelombang ketiga Covid-19 dengan varian Omicron memang menjadi ancaman bagi kinerja industri mamin pada 2022. 

Namun, jika jumlah kasus berhasil diturunkan sebelum Ramadan dan Lebaran, industri mamin masih punya kesempatan untuk dapat memaksimalkan momentum hari raya tersebut.

"Kalau kasus Omicron bisa turun sebelum bulan puasa, saya rasa kinerja industri mamin akan lebih baik daripada tahun lalu," kata Andry.

Andry juga mengatakan pemulihan industri mamin sudah terlihat sejak kuartal III/2021. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri mamin pada periode tersebut mencapai 3,49 persen dan berlanjut 1,23 persen pada kuartal IV/2021.  

Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa/ Kemenperin

Namun demikian, Adry menggarisbawahi sejumlah tantangan industri mamin untuk dapat tumbuh tahun ini. 

Pertama, lonjakan harga bahan baku yang juga sebagai imbas tingginya permintaan di tingkat global. Kedua, kenaikan harga energi berupa tarif dasar listrik (TDL) yang direncanakan naik mulai April 2022.

Ketiga, kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 11 persen yang juga akan mulai berlaku pada April. 

Dari sisi eksternal, kendala logistik yang berkepanjang juga masih akan menyusahkan gerak industri mamin, terutama dalam melakukan perluasan pasar ekspor.

Akan tetapi, perlu digarisbawahi pula bahwa selama 2 tahun masa pandemi, industri mamin merupakan salah satu sektor yang tetap bertahan. Bahkan, pada 2020 di saat banyak sektor lain terkontraksi, mamin masih dapat membukukan pertumbuhan 1,55 persen.

"Kita harapkan bersama PPKM bisa turun level, kasus Omicron bisa turun sehingga bisa memanfaatkan momentum puasa dan lebaran sebagai titik balik dari peningkatan kinerja industri makanan minuman," katanya.

RINGANKAN BEBAN

Kendati masih terdapat sejumlah tantangan pertumbuhan di sektor mamin, Andry menilai penundaan penerapan cukai minuman berpemanis pada tahun ini menjadi salah satu kabar baik bagi industri mamin.

"Reformulasi cukai minuman berpemanis yang baru terjadi 2023, saya rasa akan membantu meskipun mau tidak mau nantinya harus dikenakan," tuturnya. 

Sebelumnya, Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan mempertimbangkan untuk menunda penerapan cukai plastik dan minuman berpemanis hingga tahun depan. Ekstensifikasi pungutan tersebut sedianya akan mulai diberlakukan pada tahun ini.

Adapun, penundaan penerapan cukai mempertimbangkan situasi pemulihan ekonomi nasional yang masih berlangsung. 

Menurut rencana awal, besaran cukai minuman berpemanis ditetapkan sebesar Rp1.500 per liter untuk teh dalam kemasan dan Rp2.500 per liter untuk minuman bersoda dan sejenisnya. 

Dari hitungan sementara, pemerintah berpotensi mengantongi penerimaan tambahan senilai Rp6,25 triliun per tahun.

Di luar itu, meski diproyeksi tetap akan tumbuh, industri mamin tetap harus berhadapan dengan sejumlah tantangan, yakni kenaikan harga bahan baku, terkereknya harga energi, dan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN). 

Ketiga faktor internal tersebut, ditambah faktor eksternal berupa kendala logistik yang belum mereda, kemungkinan dapat menahan kinerja industri yang sepanjang masa pandemi tetap mencatatkan pertumbuhan.

"Pada akhir 2021, produk pangan sudah mulai meningkat, tinggal kita lihat saja, yang jadi faktor krusial adalah kenaikan harga bahan baku. Hal-hal itu kemungkinan akan mendorong kenaikan [harga jual]," kata Andry.

STRATEGI KORPORASI

Dihubungi secara terpisah, produsen makanan dan minuman PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) bersiap menghadapi pasar Ramadan dan Lebaran tahun ini dengan menggodok produk musiman.
 
 Direktur Garudafood Paulus Tedjosutikno menjelaskan produk musiman tersebut antara lain makanan dalam kemasan toples dan kaleng seperti Gery Butter Cookies dan Gery Egg Roll, Chocolatos Dark Premium Edition, Chocolatos Gold Edition, Chocolatos Hollanda Wafer, Gery Hollanda Butter Cookies serta Gery Wafer Roll dan Ekstrudat.

Menurut Paulus, permintaan pasar Lebaran pada tahun lalu sebenarnya sudah membaik dari kondisi 2020 saat awal pandemi. Tahun ini, dengan tingginya tingkat vaksinasi, pasar dan permintaan diharapkan dapat semakin bergeliat.

"Kami berharap momentum lebaran tahun ini dapat jauh lebih baik lagi dan merupakan momentum emas bagi seluruh sektor bisnis di mana perkembangan vaksin booster saat ini  sudah semakin intensif dalam dua bulan terakhir dan ditunjang juga dengan berbagai intervensi kebijakan pemerintah."

Selain itu, untuk menggali ceruk permintaan yang terbuka lebar pada tahun ini, Garudafood melakukan perluasan pasar ekspor ke negara-negara Asean, seperti Filipina, Thailand, dan Myanmar. 

Dia mengatakan, untuk perluasan pasar ekspor tersebut, GOOD fokus pada produk keju Prochiz yang kontribusinya meningkat pada 2021.

Upaya lain, perseroan juga merilis sejumlah produk baru Garuda Crunchy dengan dua varian yaitu pellet snack kentang dan jagung.

Paulus mengklaim saat ini empat merek unggulannya yaitu Garuda, Chocolatos Gery dan Prochiz menjadi produk yang memimpin pangsa pasar dalam kategori snack, wafer stick, malkist cracker dan keju olahan di Indonesia.

Di sisi lain, perseroan juga menghadapi kenaikan harga bahan baku, sebagaimana dialami produsen lain. Paulus mengatakan ada upaya penaikan harga jual dibarengi dengan langkah efisiensi lainnya.

"Sejauh ini kami berusaha untuk menangani hal ini agar tidak dirasakan langsung oleh konsumen, salah satunya melakukan cost efficiency. Kami akan menaikkan harga produk kami sekitar 1—3 persen untuk 30 persen stock keeping unit produk kami," jelasnya.

Makanan ringan. /Garudafood

Lain sisi, PT Kino Indonesia Tbk. (KINO) menargetkan pertumbuhan penjualan 20 persen pada tahun ini seiring perbaikan pasar.

Direktur Kino Budi Muljono mengatakan perseroan telah mengalami kenaikan permintaan pada kuartal pertama tahun ini. Produsen minuman Cap Panda dan Cap Kaki Tiga itu meyakini penguatan permintaan akan memuncak pada kuartal kedua dan ketiga 2022.

"Kami sudah mempersiapkan [permintaan Lebaran] sejak beberapa bulan lalu, jadi kami siap menampung semua permintaan di pasar di mana sudah terbentuk dan akan berpuncak di kuartal II dan III ini," kata Budi.

Selain perbaikan pasar dan permintaan, proyeksi pertumbuhan penjualan juga akan didorong upaya untuk memperluas pasar domestik dan ekspor, serta pendalaman penetrasi pada pasar yang sudah dijajaki sebelumnya.

Guna menanggulangi kenaikan harga-harga bahan baku yang sudah terjadi sejak tahun lalu, Budi mengatakan perseroan sementara ini baru berupaya melakukan berbagai efisiensi. Keputusan penaikan harga jual belum ditempuh.

"Pasti ada dampak [kenaikan harga bahan baku] sebagaimana dialami semua produsen. Akan tetapi, kami berusaha manage dengan lebih efisien di biaya-biaya lain," ujarnya. (Reni Lestari)

Editor: Wike Dita Herlinda
company-logo

Lanjutkan Membaca

Bersiap Memanaskan Mesin Produksi Mamin Menyongsong Ramadan

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ