BI Tahan Suku Bunga Acuan, IHSG Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (18/11) di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level rendah. IHSG parkir pada posisi 6.636,47 di akhir sesi II, terkoreksi 0,59% atau 39,34 poin.

Bisnis Indonesia Resources Center

18 Nov 2021 - 18.04
A-
A+
BI Tahan Suku Bunga Acuan, IHSG Melemah

Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), beberapa waktu lalu. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (18/11) di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level rendah. IHSG parkir pada posisi 6.636,47 di akhir sesi II, terkoreksi 0,59% atau 39,34 poin.

Sepanjang perdagangan indeks bergerak di zona merah dalam rentang harga harian 6.621,69 hingga 6.669,79. Tercatat, 240 saham menguat, 272 saham melemah dan 148 saham bergerak di tempat. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp419,41 miliar di seluruh pasar. Sektor keuangan turun paling dalam hingga 0,93% dan diikuti sektor infrastruktur yang juga melemah sebesar 0,82%.

Investor asing tercatat paling banyak melego saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell sebesar Rp251,15 miliar. Menyusul di belakangnya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell senilai Rp26,96 miliar dan PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp23,32 miliar. Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) justru diborong investor asing dengan net buy Rp26,17 miliar.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17-18 November 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

BI meyakini kinerja ekonomi diperkirakan meningkat pada triwulan IV 2021 yang didukung oleh perbaikan kinerja ekspor, kenaikan belanja fiskal Pemerintah, maupun peningkatan konsumsi dan investasi.

Dari luar negeri, tingginya inflasi akan memicu kenaikan suku bunga, salah satunya dari bank sentral AS (The Fed) yang tentunya akan memberikan dampak signifikan ke pasar keuangan global termasuk Indonesia. Pelaku pasar mencermati adanya peluang kenaikan yang agresif di tahun depan.

Indeks Bisnis-27

Pada perdagangan bursa Kamis (18/11), Indeks Bisnis-27 turut melemah mengikuti jejak indeks acuannya IHSG. Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan dengan terkoreksi 0,78% atau 4,01 poin parkir di level 510,35.

Sepanjang perdagangan Indeks Bisnis-27 bergerak di rentang 508,94 hingga tertinggi di level 514,36. Mayoritas saham yaitu sebanyak 18 saham parkir di zona merah alias melemah, 5 diantaranya tetap menguat dan sisanya yaitu 4 saham menguning alias stagnan.

Dari 18 saham yang melemah, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) memimpin penurunan Indeks Bisnis-27 dengan melemah hingga 2,50% atau 150 poin ke level 5.850. Kemudian terdapat saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang juga terpantau turun 2,31% atau 175 poin ke posisi 7.400.

Sementara itu, saham-saham yang masih kuat menghijau dikuasai oleh emiten dari sektor barang konsumen primer dan barang baku yang dipimpin oleh saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) terapresiasi 2,54% ke level 9.075 dan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang naik 1,69% menuju 1.200.

Selain itu, terdapat saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) terkerek 1,21%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) naik 0,90% dan saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang juga menguat 0,35%. 

Energi

Pada penutupan perdagangan Kamis (18/11) indeks sektor energi ditutup di zona merah, turun ke level 1.016,92 atau melemah 0,38%.

Pelemahan sektoral dipimpin oleh PT Indo Straits Tbk (PTIS) yang anjlok 7,00% ke level Rp372, Lalu saham PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) ambles 6,94% ke level Rp456 dan saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) drop 6,25% ke level Rp240.

Sentimen dari tren penurunan harga minyak dunia, membuat sektor ini kembali melemah. Tercatat pada perdagangan kemarin pada pukul 15.30 WIB harga minyak jenis Brent turun 0,95% menjadi US$79,52/barel sedangkan pada minyak jenis WTI merosot 0,97% menjadi US$76,80/barel.

Pelemahan tersebut didorong minyak AS yang berada di bawah tekanan setelah AS dilaporkan meminta konsumen minyak utama, termasuk China dan Jepang, untuk mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak yang terkoordinasi dalam upaya menurunkan harganya yang setinggi langit.

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Kamis (18/11), indeks sektor barang konsumen primer ditutup menguat 0,16% di level 692,85.

Saham yang mendorong menguat ialah PT Central Proteina Prima Tbk. (CPRO) melejit 17,35% ke level Rp115, Kemudian diikuti saham PT Fks Multi Agro Tbk. (FISH) melesat 11,50% ke level Rp8.725 dan saham PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) naik 8,11% ke level Rp160.

Penguatan sektor ini didorong dari tren kinerja ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan perbaikan, setelah sempat mengalami kontraksi hingga 2,07% pada tahun 2020. Namun kontraksi di tahun lalu pun relatif rendah dibandingkan negara lain.

Selain itu pemulihan tersebut didukung oleh beberapa indikator yang menunjukkan peningkatan seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2021 yang tercatat sebesar 113,4, lalu diikuti Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia  yang berada di posisi 57,2 pada Oktober 2021, dan kinerja ekspor pada Oktober 2021 tercatat sebesar USD 22,03 miliar atau naik 6,89% dibandingkan dengan bulan sebelumnya (MoM).

Barang Konsumen Non Primer

Pada penutupan perdagangan Kamis (18/11), indeks sektor barang konsumen non-primer ditutup menguat 0,36% ke level 869,27.

Penguatan sektor ini dipimpin oleh saham PT Esta Multi Usaha Tbk. (ESTA) meroket 30,64% ke level Rp226, diikuti saham PT Gaya Abadi Sempurna Tbk. (SLIS) melejit 24,78% ke level R2.090 dan saham PT Multi Prima Sejahtera Tbk. (LPIN) melesat 13,30% ke level Rp1.150.

Sentimen positif datang dari pemerintah yang memproyeksikan  pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2021 di kisaran 7% hingga 7,8%. Sehingga untuk keseluruhan tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 3,75% hingga 4,75%. Dengan asumsi tren melandainya pandemi Covid-19 terus berlangsung hingga akhir tahun.

Selain itu, pertumbuhan tersebut didorong oleh adanya low base effect atau tingkat output yang rendah pada kuartal IV-2020 akibat dari pandemi, lalu diikuti aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang semakin pulih seiring melandainya pandemi Covid19 dan dilonggarkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga Konsumsi dan investasi pun meningkat.

Kesehatan

Pada Kamis (18/11) indeks sektor kesehatan ditutup menguat 0,16% ke level 1.423,31.

Penguatan sektor ini dipimpin oleh PT Royal Prima Tbk. (PRIM) melesat 9,30% ke level Rp376, lalu diikuti PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) naik 8,49% ke level Rp8.625 dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) tumbuh 5,94% ke level Rp428.

Penguatan tersebut dikarenakan emiten SAME resmi menjadi pemegang saham pengendali RSGK setelah menyelesaikan pembelian atas 418,35 juta lembar saham atau setara 45% porsi saham RSGK.

Maka dengan selesainya akuisisi tersebut, SAME telah memiliki sebanyak 590,20 juta lembar saham yang mewakili 63,48% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam RSGK.

Perlu diketahui, emiten pengelola rumah sakit Omni Hospital ini membeli saham dari pemilik lama yakni PT Medikatama Sejahtera dan PT Bestama Medikacenter Investama dengan harga pembelian Rp1.720 per lembar. Sehingga SAME harus merogoh dana segar senilai Rp719,56 miliar.

Barang Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Kamis (18/11) ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,2% ke level 1.233,53.

Pelemahan sektor ini didorong oleh saham PT Citra Tubindo Tbk. (CTBN) merosot 4,53% ke level Rp2.530. Diikuti saham PT Tirta Mahakam Resources Tbk. (TIRT) drop 4,00% ke level Rp72 dan saham PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) turun 3,97% ke level Rp145.

Tampaknya penurunan harga tembaga dunia pada perdagangan kemarin disebabkan data ekonomi di China yang menunjukkan pelemahan di sektor properti. Berdasarkan data perdagangan pada pukul 16.38 WIB harga tembaga dunia tercatat US$ 9.349,25/ton atau turun 0,61%.

Sektor properti yang menyumbang seperempat dari produk domestik bruto (PDB) China telah turun tajam sejak Mei. Harga rumah baru turun rata-rata 0,2% bulan lalu dari September. Sementara di pasar penjualan properti bekas, harga merosot di hampir semua wilayah dari 70 kota besar yang disurvei oleh biro. Konstruksi baru mulai turun 33,14% yoy di Oktober, lebih besar dari penurunan 13,54% pada September.

Perindustrian

Pada penutupan perdagangan Kamis (18/11), sektor perindustrian ditutup melemah 0,44% ke posisi 1.085,49.

Beberapa saham yang terpantau mengalami pelemahan ialah saham PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA) anjlok 5,79% ke level Rp179. lalu PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC) merosot 3,23% ke level Rp6.000 dan  PT Lion Metal Works Tbk. (LION) turun 2,21% ke level Rp354.

Sentimen negatif dari pemerintah yang berencana menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 13 golongan pelanggan nonsubsidi menyusul turunnya subsidi listrik mencapai 8,2% dari Rp61 triliun menjadi Rp56,5 triliun pada 2022.

Berdasarkan dokumen yang diterima Bisnis, kenaikan TDL pada golongan I-3 / >200 kVA dan I-4 / >=30.000 kVA yang biasanya digunakan oleh industri melesat tinggi masing-masing 15,97% dan 20,78%.

Dokumen itu memperlihatkan tarif sesuai keekonomian golongan I-3 sebesar Rp1.203,78 lebih besar dari tarif lama di angka Rp1.114,74. Di sisi lain, tarif golongan I-4 sesuai keekonomian dipatok sebesar Rp1.203,83 dari tarif lama di posisi Rp996,74. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.