Bioteknologi Pertanian Kunci Stabilitas Pangan Berkelanjutan

Rekayasa genetika benih tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim dan pemanasan global sangat dibutuhkan guna menjaga stabilitas pangan agar terhindar dari krisis pangan global.

Yanita Petriella

26 Nov 2023 - 21.45
A-
A+
Bioteknologi Pertanian Kunci Stabilitas Pangan Berkelanjutan

Ilustrasi kedelai

Bisnis, JAKARTA – Bioteknologi tengah menjadi tren di sektor pertanian sebagai solusi menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Pasalnya, dunia pertanian yang saat ini tengah mengalami penurunan produksi akibat gagal panen yang juga berpotensi mengancam ketahanan pangan.

Terlebih, lahan pertanian kian terbatas sehingga penggunaan teknologi menjadi syarat utama untuk mendapatkan hasil maksimal. 

Pertanian dengan bioteknologi juga membuat lahan pertanian tidak mengalami kerusakan sehingga tetap memberikan hasil meski sudah beberapa kali panen atau dikenal sebagai pertanian berkelanjutan.
Namun untuk mengadopsi teknologi pertanian, tentunya sangat bergantung kepada petani selaku pengguna. Petani yang pada akhirnya harus memutuskan untuk menggunakan bibit dan teknologi yang dipakai.

Members of Biotechnology & Seeds Croplife Indonesia Fadlilla Dewi Rachmawati mengatakan rekayasa genetika benih tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim dan pemanasan global sangat dibutuhkan guna menjaga stabilitas pangan agar terhindar dari krisis pangan global.

Menurutnya, pengembangan benih tanaman bioteknologi telah melalui proses penelitian yang panjang dan tak mudah. 

“Satu benih hasil rekayasa genetika bisa menempuh hingga belasan tahun sampai lolos berbagai uji coba dan dinyatakan layak dan diproduksi massal dan kemudian dikonsumsi sebagai bahan pangan dan pakan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (26/11/2023). 

Country Director U.S Soybean Export Council (USSEC) Indonesia Ibnu Wiyono menuturkan Amerika Serikat sangat ketat dalam menerapkan praktik pertanian yang berkelanjutan. Hasilnya kedelai AS mendapatkan sertifikasi sustainable US SOY (SUSS logo). Pertanian kedelai yang menghasilkan emisi karbon paling rendah dibandingkan kedelai yang diproduksi oleh negara produsen utama lainnya seperti Brazil dan Argentina. 

Baca Juga: Korsel-RI Jajaki Pembangunan Pertanian & Pangan via AI  


Adapun SUSS logo merupakan eco-label atau sertifikasi ramah lingkungan yang disematkan pada kemasan pangan yang menggunakan kedelai Amerika sebagai bahan baku utamanya. Industri kedelai Amerika ingin berbagi manfaat pertanian berkelanjutan dengan konsumen. 

Diharapkan produk pangan olahan kedelai yang menggunakan SUSS logo dapat lebih dihargai oleh konsumen lokal dan luar negeri karena diproduksi dengan memperhatikan aspek-aspek keberlanjutan. 

Sebagai penghasil kedelai terbesar di dunia, praktik pertanian kedelai berkelanjutan di Amerika Serikat telah membantu petani menaikkan produksi kedelai hingga 130% dalam kurun waktu 40 tahun dengan menggunakan lebih sedikit input dan dampak lingkungan yang sejalan dengan indikator sustainable development. 

Melalui pertanian berkelanjutan dapat menurunkan emisi rumah kaca hingga 43% per bushel, naiknya efisiensi penggunaan air irigasi hingga 60%, dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan hingga 48%. Selain itu, juga dapat meningkatkan efisiensi energi hingga 46% dan konservasi lahan pertanian hingga 34%. 

“Hingga 2025, pertanian kedelai Amerika menargetkan penurunan emisi rumah kaca sebesar 10%, mengurangi dampak penggunaan 10%, meningkatkan efisiensi energi hingga 10% dan mengurangi erosi tanah hingga 25%. Jadi ini komitmen mereka dalam menjaga bumi kita agar terus lestari,” katanya. 

Di sisi lain, saat ini generasi Z lebih tertarik untuk mengikuti tren pembelian produk ramah lingkungan. Di tengah tren gaya hidup sehat, pilihan untuk menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan juga meningkat.

Ketua Pembina Forum Tempe Indonesia Made Astawan menuturkan di Indonesia, belum banyak yang mengetahui mengenai eco-labels atau sertifikasi produk ramah lingkungan. Perilaku konsumen dalam memilih produk yang memiliki eco-labels dipastikan akan memberikan dampak secara luas. 

“Memilih produk yang menyematkan eco-labels seperti sustainable U.S. Soy serta eco-labels lainnya, adalah langkah paling mudah namun berdampak kuat yang dapat dilakukan konsumen. Kesadaran Gen Z menjadi harapan besar kita semua bahwa kedepan produk-produk ramah lingkungan akan semakin mendapatkan prioritas,” ucapnya. 

Sebagai produk pangan asli Indonesia, tempe tentunya memiliki sejarahnya sendiri. Leluhur bangsa Indonesia sejak beberapa abad yang lalu ternyata sudah menerapkan konsep zero waste dalam memproduksi tempe. Walaupun nilai-nilai sustainability ini baru lahir abad ini dari dunia barat, nenek moyang Indonesia ternyata sudah sejak lama menerapkannya dimana limbah dari produksi tempe dapat digunakan sebagai pakan ternak. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.