Bitcoin Masih Punya Tenaga untuk Menguat

Membuka tahun dengan koreksi ternyata tak menggerus harapan penguatan harga Bitcoin. Simak penjelasannya.

Lorenzo Anugrah Mahardhika & Duwi Setiya Ariyanti
Jan 15, 2022 - 8:30 AM
A-
A+
Bitcoin Masih Punya Tenaga untuk Menguat

Membuka tahun dengan koreksi ternyata tak menggerus harapan penguatan harga Bitcoin. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Tenaga bagi penguatan harga Bitcoin diproyeksi masih ada kendati tahun 2022 dibuka dengan koreksi. 

Dikutip dari Coinmarketcap, Sabtu (15/1/2022) pukul 14:23 WIB, harga Bitcoin mencapai US$42.858,46 atau naik 0,15 persen secara harian dan 2,15 persen dalam sepekan. Dengan demikian, harga Bitcoin mencapai kapitalisasi pasar US$813,29 miliar. 

Kenaikan harga juga dinikmati oleh sebagian besar di jajaran 10 aset berkapitalisasi pasar paling besar. Tercatat, hanya Tether, Solana dan Polkadot yang mengalami koreksi harga secara harian dengan rentang 0,01 persen hingga 1,68 persen. 

Pergerakan baru di level US$40.000 bagi Bitcoin tak berarti menghapus seluruh potensi kenaikan harga. Kalangan analis menyebut saat ini Bitcoin tengah bersiap kembali menanjak. 

Dikutip dari Coindesk, Sabtu (15/1/2022) harga Bitcoin bisa kembali memantul menuju US$60.000. CEO Panxora, Gavin Smith menyebut harga Bitcoin berpeluang terus naik akibat terdorong oleh tekanan tingginya inflasi dan imbal hasil nyata yang rendah. 

“Ini akan memungkinkan bagi Bitcoin menyentuh level tinggi baru pada tahun ini,” katanya. 

Imbal hasil nyata disesuaikan untuk inflasi sehingga ketika menunjukkan angka negatif, itu menandakan harga konsumen naik begitu cepat daripada imbal hasil obligasi negara acuan. Dinamika pelonggaran moneter saat ini mendorong aksi ambil risiko karena investor mulai mempertimbangkan aset yang memberikan imbal hasil lebih besar. 

Seperti diketahui, gambaran tentang indeks harga konsumen telah menunjukkan rekor dengan inflasi tahunan pada Desember 2021 mencapai 7 persen atau lebih tinggi daripada inflasi tahunan pada November yakni 6,8 persen. Inflasi tahunan 7 persen merupakan kenaikan harga paling cepat sejak 1982. 

Dengan Bitcoin yang kini berada di kisaran US$40.000, menurut analis pasar senior Oanda, Craig Erlam belum menunjukkan kekuatan Bitcoin sesungguhnya. 

“Bila Bitcoin mampu melewati US$45.500, kita bisa melihat pergerakan tajam yang lebih tinggi yang menandai perpindahan dari koreksi sebelumnya,” katanya. 

Di sisi lain, aset aman yakni dolar Amerika Serikat menunjukkan koreksi. Indeks Dolar AS turun 0,97 persen dalam lima hari terakhir. Pergerakan tersebut merupakan dorongan bagi Bitcoin dan aset dominan dolar lainnya. 

“Ini tentunya baik bagi risiko aset dan itu menjadi makin jelas bagi Bitcoin masuk ke keranjang, setidaknya saat ini,” Kepala Riset IntoTheBlock, Lucas Outumuro. 

Kepala Riset Stack Funds, Lennard Neo menyebut Bitcoin dalam jangka pendek baakal bergejolak. Pasalnya, saat ini aset tersebut menjadi pilihan di tengah pasar yang tak pasti. 

“Pasar masih terbagi bila Bitcoin merupakan pelindung inflasi atau aset berisiko dan dengan iklim makroekonomi, berharap bertambahnya volatilitas dalam jangka pendek,” katanya. 

Adapun, analis Quantum Economics, Jason Deane mengatakan di negara maju, Bitcoin sangat terlihat sebagai aset berisiko dan diperdagangkan mengacu pada perkembangan makroekonomi seperti inflasi dan stimulus bank sentral. 

Sementara itu, di negara berkembang seperti di Turki, Brasil dan Argentina menunjukkan kondisi yang jelas kala Bitcoin dipilih untuk melindungi aset dari inflasi. Dia memprediksi secara jangka panjang, harga Bitcoin tumbuh mengikuti perkembangan dan adopsi secara global. 

“Sebagai imbasnya, arahnya tak jelas dan kami berharap pergerakan yang tak terprediksi dan bergelombang pada rentang yang mendatar untuk sementara,” katanya. 

Presiden dan Penggagas R.G. Niederhoffer Capital Management, Roy Niederhoffer mengatakan Bitcoin saat ini menunjukkan performanya sebagai aset crypto dengan kapitalisasi pasar terbesar dan bisa memiliki kemampuan nilai yang tersimpan atau store value yang lebih baik daripada emas. 

Dibandingkan dengan emas, Bitcoin lebih murah karena tak memerlukan biaya penyimpanan. Dia pun memprediksi bahwa Bitcoin memiliki kemampuan sebagai aset pelindung inflasi di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve yang tak mampu melawan harga konsumen dan mengubah perilaku berinvestasi. 

BERAKHIR

Trader Tokocrypto, Afid Soegiono, menjelaskan kekhawatiran pelemahan pasar aset crypto sepertinya segera berakhir. Salah satu penyebab utama adalah The Fed yang kemungkinan menunda kenaikan suka bunga.

"Komentar dari pejabat The Fed, Jerome Powell kemungkinan menarik kembali simpati investor dan meyakinkan mereka bahwa The Fed tidak akan memprioritaskan pengurangan inflasi. Investor aset crypto pun merespons pernyataan itu dengan pergerakan positif dan memicu sejumlah cryptocurrency papan atas menandakan grafik hijau," kata Afid dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (15/1/2022).

Afid melihat Bitcoin tidak akan turun lebih jauh lagi dan menyebut harga terendah masih berada di bawah posisi US$40.680. Bitcoin diyakini terkonsolidasi dalam waktu dekat sehingga berpotensi rebound dan bullish sekitar 27 persen.

Komisaris Utama PT HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo menyebutkan harga Bitcoin masih berpotensi menguat lebih jauh pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan popularitas kelas aset ini yang makin besar baik secara global maupun di Indonesia.

Meski demikian, peluang Bitcoin menembus level harga US$100.000 pada 2022  cukup berat. Dia mengatakan secara teknis rentang perdagangan Bitcoin dalam beberapa tahun belakangan berhasil ditembus pada tahun lalu.

Sutopo mengatakan hal tersebut tidak berarti Bitcoin dapat menembus level US$100.000. Kemunculan aset-aset crypto alternatif atau alternative coin (altcoin) yang diproyeksi makin marak tahun ini akan kian memecah kapitalisasi pasar crypto.

Sutopo melanjutkan ke depannya pasar crypto akan terus berkembang seiring dengan kemunculan pemain-pemain serta koin-koin alternatif baru. Hal ini akan menambah opsi baik bagi pelaku pasar maupun investor yang tertarik masuk ke kelas aset ini.

“Untuk sementara berdasarkan analisa kami, harga Bitcoin pada 2022 ditargetkan pada kisaran US$78.000,” katanya.

Editor: Duwi Setiya Ariyanti
Anda belum memiliki akses untuk melihat konten

Untuk melanjutkannya, silahkan Login Di Sini