Free

Bitcoin Melemah 16%, Saatnya Mencoba Strategi Trading Kripto Baru

Strategi baru ini melibatkan pembelian cryptocurrency di exchange tempat harga lebih rendah dan segera menjualnya di exchange lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

Jessica Gabriela Soehandoko

2 Mei 2024 - 17.12
A-
A+
Bitcoin Melemah 16%, Saatnya Mencoba Strategi Trading Kripto Baru

Ilustrasi aset kripto./Istimewa

Bisnis, JAKARTA — Prospek suku bunga yang lebih tinggi ditambah mulai meredanya efek ETF Bitcoin telah membebani pasar kripto. 

Hal ini ditandai dengan penurunan bulanan terbesar Bitcoin sejak FTX milik Sam Bankman-Fried runtuh pada November 2022.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (1/5/2024), Bitcoin terpantau berada di level US$60.004,20 pada pukul 10.26 WIB.

Bitcoin telah merosot hampir 16% pada April 2024 karena adanya ‘kegilaan’ ETF Bitcoin Spot yang telah mereda, setelah sebelumnya aset digital tersebut mencapai rekor tertinggi sebesar hampir US$74.000 pada Maret 2024.

Kemudian, Debut Bitcoin dan Ether ETF pada Selasa (30/4) di Hong Kong juga gagal memberikan dorongan.

Selain itu, terdapat juga kemungkinan bagi bank sentral Amerika Serikat (AS) yakni Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal penundaan pemangkasan suku bunga setelah para pejabat menyimpulkan pertemuan kebijakan pada Rabu (1/5).

Sebagai contoh, data terbaru dari AS menunjukkan peningkatan biaya tenaga kerja, yang menambah bukti adanya tekanan inflasi, Imbal hasil nyata juga sedang melonjak, sebuah kondisi yang sulit bagi aset spekulatif seperti token digital.

“[Kenaikan terbaru dalam imbal hasil Treasury dan suku bunga nyata telah] beracun bagi emas, Bitcoin, dan ekuitas AS,” jelas kepala penelitian di Pepperstone Group Ltd., Chris Weston, dikutip dari Bloomberg.

Kemudian, berdasarkan data yang dikumpulkan bloomberg, dana bersih sebesar US$182 juta ditarik dari kelompok hampir selusin ETF spot-Bitcoin AS bulan lalu hingga 29 April 2024. Dana ini menghasilkan arus masuk bersih senilai US$4,6 miliar pada Maret 2024.

Bitcoin juga mengalami halving pada bulan lalu, yakni peristiwa empat tahunan yang mengurangi pasokan token baru. Meskipun beberapa analis melihat ini sebagai tanda positif, pengurangan pasokan tersebut gagal memberikan banyak dukungan terhadap harga.

"Tren penurunan baru-baru ini dapat dikaitkan dengan peningkatan aksi ambil untung oleh investor yang memasuki pasar selama penurunan pada tahun 2022 dan 2023, serta investor ETF yang menyaksikan apresiasi harga yang signifikan pada saham mereka setelah memasuki pasar pada minggu-minggu awal tahun 2024," jelas analis riset di Fineqia International, Matteo Greco, dalam catatannya.

Baca Juga :

 

Mengulik Strategi Arbitrase di Trading Kripto

Istilah arbitrase merupakan strategi yang umum digunakan dalam dunia perdagangan, termasuk di pasar cryptocurrency. Tujuan utama dari arbitrase yakni untuk mendapatkan keuntungan dari perbedaan harga aset yang sama di dua pasar atau lebih. Orang yang melakukan strategi ini disebut sebagai arbitrageur.

Arbitrageur harus cekatan dalam mengidentifikasi dan bertindak cepat atas perbedaan harga ini karena kesempatan untuk arbitrase sering kali hanya muncul dalam waktu singkat. Strategi ini melibatkan pembelian cryptocurrency di exchange tempat harga lebih rendah dan segera menjualnya di exchange lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

Mengutip dari Pintu Academy, ada beberapa jenis arbitrase yang populer di kalangan trader cryptocurrency antara lain, Arbitrase Bursa dan Arbitrase Segitiga. 

Arbitrase Bursa (Exchange Arbitrage): Ini adalah tipe paling dasar dari arbitrase crypto, di mana arbitrageur membeli aset di satu exchange dan menjualnya di exchange lain yang menawarkan harga lebih tinggi. Misalnya, jika harga Bitcoin Rp150.000.000 di exchange X dan Rp151.000.000 di exchange Y, arbitrageur bisa membeli Bitcoin di X dan menjualnya di Y untuk keuntungan Rp1.000.000 sebelum dipotong biaya transaksi.

Baca Juga :

 

Arbitrase Segitiga (Triangular Arbitrage): Dalam jenis arbitrase ini, trader memanfaatkan perbedaan harga antara tiga mata uang atau aset crypto berbeda. Contoh dari strategi ini bisa dimulai dengan Bitcoin, kemudian menukarnya dengan Ethereum, dilanjutkan dengan membeli Binance Coin menggunakan Ethereum, dan akhirnya menukar Binance Coin kembali ke Bitcoin, yang jika dijalankan dengan benar, akan meningkatkan jumlah Bitcoin yang dimiliki dari modal awal.

Meskipun dianggap sebagai strategi trading yang relatif rendah risiko, arbitrase membutuhkan kejelian tinggi karena perbedaan harga sering kali hanya ada untuk waktu yang sangat singkat. Di pasar yang sangat likuid, banyak trader profesional menggunakan bot untuk melakukan arbitrase, sehingga memperkecil jendela peluang bagi arbitrageur manusia.

Selain itu, arbitrageur perlu mempertimbangkan biaya transaksi dari setiap exchange, karena ini penting untuk menentukan profitabilitas dari setiap operasi arbitrase yang dilakukan.

Kesimpulannya, arbitrase adalah strategi yang sering digunakan oleh trader untuk mendapatkan keuntungan dari perbedaan harga antar exchange. Memerlukan respon yang cepat dan modal yang cukup untuk bisa sukses.(Rinaldi Azka)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.