CAGAR ALAM : Kebun Raya Memacu Inovasi

Ada 116 tumbuhan dengan 13 famili yang dilindungi, yang sebagian besar berada di Kebun Raya. Selain itu, ada Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang memiliki fungsi sama.

Roni Yunianto

7 Nov 2021 - 07.35
A-
A+
CAGAR ALAM : Kebun Raya Memacu Inovasi

Taman Araceae. - Foto Kebun Raya

Bisnis, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, setidaknya, ada 116 tumbuhan dengan 13 famili yang dilindungi, yang sebagian besar berada di Kebun Raya. Selain itu, ada Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang memiliki fungsi sama.

Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Wiratno bahwa sesuai peraturan kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No.10/2015 yang menyebutkan bahwa Kebun Raya merupakan kawasan konservasi tumbuhan secara eks-situ dan memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi serta ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik atau kombinasi dari pola-pola tersebut.

Kawasan ini bertujuan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. “Kebun Raya sebagai upaya pelestarian, penelitian dan pemanfaatan tumbuhan secara berkelanjutan yang dilakukan di luar habitat alaminya. Pengelolaan Kebun Raya dilakukan oleh pemerintah pusat dalam hal ini LIPI atau BRIN, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota,” ujar Wiratno.

Dia memaparkan, sebagai tempat pelestarian flora di habitat alamnya, Kawasan Suaka alam dan Kawasan Pelestarian Alam juga merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh KLHK.

Program KLHK untuk tujuan konservasi flora, papar Wiratno, adalah melalui perlindungan dan pengawetan flora langka seperti bunga bangkai rafflesia arnoldi, edelweis, anggrek hitam, jenis jenis dipterokarpa yang terancam punah. "Pemanfaatannya dengan mekanisme penangkaran dalam bentuk propagasi," ujarnya.

Propagasi tanaman adalah perbanyakan tanaman dengan memanfaatkan serbuk sari dan putik, maupun dengan memanfaatkan bagian-bagian tanaman itu sendiri, seperti batang, akar, maupun daun yang dilakukan di luar habitat alamnya (eks-situ).

Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Melani Abdulkadir Sunito, menerangkan bahwa kebun raya, khususnya yang berada di Bogor bukan hutan alami, melainkan hasil intervensi manusia karena dikembangkan untuk tujuan tertentu seperti konservasi, koleksi tumbuhan, penelitian, dan pendidikan. “Dengan perjalanan lebih dari 200 tahun, ekosistem di dalamnya, air tanah tumbuhan, mikroba, saling berinteraksi membuat satu sistem unik,” sebutnya.

Sayangnya, keberadaan Kebun Raya kian terancam oleh perubahan iklim, polusi udara, polusi suara, penggunaan lahan, wilayah komersial, hingga sungainya yang makin terkontaminasi. Walaupun lokasinya makin terhimpit di tengah perkotaan, kehadirannya menjadi oase bagi kaum urban. “Di dalam situasi perubahan lingkungan global hingga lokal yang kian cepat, kebun botani memberi ruang bernafas,” tutur Melani.

Oleh karena itu, dia berharap agar fungsi Kebun Raya Bogor tidak berubah. Selain memberi ruang bagi lingkungannya bernapas, kebun botani harus tetap menjadi tempat orang belajar mengubah mindset dan sebagai pusat pendidikan mengenai pelestarian lingkungan. Kekhususannya pun harus menjadi pertimbangan pengembangan.

Belakangan ini, Kebun Raya Bogor tengah menjadi sorotan sejak kehadiran program wisata edukasi Glow yang digarap dengan pihak swasta ini menghadirkan konten edukasi tentang biota yang ada di Kebun Raya Bogor dalam bentuk pencahayaan, animasi visual, audio, hingga pengalaman langsung.

Plt. Deputi bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yan Rianto, mengatakan, program inovasi Glow yang digelar di Kebun Raya Bogor bukan satu-satunya di dunia.

Banyak negara yang telah memiliki inovasi serupa seperti di Desert Botanical Garden (Phoenix, Arizona), Singapore Botanic Gardens (Singapura), Fairchild Tropical Botanic Garden (Miami, USA), Atlanta Botanical Garden (Atlanta), dan Botanical Garden Berlin (Jerman).

“Glow sebagai program eduwisata yang inovatif, yang terinspirasi dari berbagai kebun raya di luar negeri yang telah membuka wisata malam lebih dulu. Beberapa negara sudah lebih dulu memiliki program wisata malam di kebun raya-nya ,” jelasnya.

Sementara itu, kehadiran Glow diyakini tidak akan mengganggu kelima fungsi Kebun Raya Bogor sebagai konservasi, penelitian, edukasi, wisata, dan jasa lingkungan, yang tetap berfungsi secara seimbang dan proporsional. “Kelima fungsi itu dipastikan berjalan secara seimbang, proporsional, dan berjalan bersamaan. Jadi tidak benar fungsi wisata akan mengalahkan fungsi konservasi,” tegas Plt Direktur Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN Hendrian.

Adapun saat ini Kebun Raya Bogor dilakukan oleh tiga pihak yakni Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Kebun Raya untuk mengelola riset dan periset, Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Laboratorium dan Kawasan Sains dan Teknologi untuk mengelola laboratorium riset, dan Deputi Infrastruktur melalui Direktorat Koleksi dan untuk melakukan pemeliharaan koleksi.

KONSERVASI TUMBUHAN

Plt. Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (PRKTKR) Sukma Surya Kusuma, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penelitian secara menyeluruh terkait konservasi tumbuhan, bukan hanya pada dampak dari pengembangan inovasi Glow, tetapi juga dampak penerangan jalan raya pada konservasi.

“Selain itu, PRKTKR terus melakukan konservasi terhadap tumbuhan yang terancam punah. Jadi bukan karena inovasi Glow ini saja dilakukan riset, tetapi riset terhadap dampak akibat perubahan yang terjadi di Kebun Raya terus dilakukan,” sebut Sukma.

Berdasarkan laporan terbaru berjudul The state of the world Trees yang disusun dan diterbitkan oleh Botanic Gardens Conservation International (BGCI), pada September 2021, terdapat sekitar 142 jenis pohon di dunia telah punah (extinct) dan punah di alam (extinct in the wild).

Di Indonesia, menurut The International Union for Conservation of Nature's (IUCN) Red List, diketahui ada satu jenis tumbuhan yang diperkirakan telah punah yakni Etlingera heyneana dari famili Zingiberaceae alias jahe-jahean, satu kelompok dengan kapulaga serta dua jenis tumbuhan diperkirakan punah di alam yaitu Amomum sumatranum dari famili Zingiberaceae, herba satu kelompok juga dengan kapulaga dan Mangifera casturi, mangga kesturi.

Plt. Kepala Pusat Riset Konservasi Tumbuhan Badan Ristek dan Inovasi Nasional (BRIN) Sukma Surya Kusumah mengatakan, Kebun Raya Bogor telah memiliki koleksi hidup Mangifera casturi ini. “Setidaknya ada lima koleksi hidup jenis ini yang kesemuanya berasal dari Kalimantan. Sementara tiga jenis lainnya masih menjadi target eksplorasi dari peneliti kami,” ujarnya.

Lebih lanjut, paparnya, menurut IUCN Red List, selain kategori punah dan punah di alam, cukup banyak pula jenis-jenis tumbuhan di dunia dan di Indonesia yang masuk dalam kategori jenis tumbuhan terancam kepunahan.

Hingga kini, IUCN Red List menyebut 856 jenis tumbuhan Indonesia diprediksi telah mengalami kepunahan dengan perincian 170 dalam kategori krisis, 279 genting, dan 407 rentan. "Kami dari Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya setidaknya, telah berhasil mengoleksi sekitar 175 jenis dari 856 jenis tumbuhan terancam kepunahan tersebut. Angka ini bersifat dinamis, karena proses assessment status konservasi terus dilakukan beriringan dengan upaya-upaya penyelamatannya dan konservasinya,” tutur Sukma.

Pusat Riset Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya terus berupaya melakukan riset sekaligus melakukan konservasi tumbuh-tumbuhan yang terancam kepunahan. Upaya itu mulai dari kegiatan assessment atau penilaian status konservasi menurut IUCN Red List.

Sejak 2020, papar Sukma, PRKTKR bekerja sama dengan BGCI melakukan penilaian status konservasi pohon-pohon endemik Indonesia. Rangkuman hasilnya dapat dilihat dalam laporan BGCI yang dirilis September 2021.

Eksplorasi ke berbagai pelosok hutan di Indonesia dilakukan untuk mencari dan menyelamatkan jenis-jenis tumbuhan, terutama yang terancam punah. Pada 2021, menurutnya, ada dua tim yang melakukan riset dan upaya konservasi jenis-jenis tumbuhan endemik Sumatra (Gnetum loerzingii) dan jenis tumbuhan endemik Jawa (Beilschmiedia lancifolia) yang juga masuk dalam kategori kritis.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kegiatan kerja sama dengan Forum Pohon Langka Indonesia dan bagian dari program Prioritas Riset Nasional Kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati-LIPI yang sekarang menjadi Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati-BRIN.

“Kami juga melakukan kegiatan penguatan populasi jenis-jenis tumbuhan terancam kepunahan di alam. Kami melakukan perbanyakan jenis-jenis tersebut, merawat dan kemudian menanamnya kembali ke alam,” ujarnya.

Pada 2022, BRIN selaku pengelola Kebun Raya masih terus melakukan kegiatan riset dan konservasi tumbuhan Indonesia terutama jenis-jenis tumbuhan terancam kepunahan. Kegiatan ini direncanakan masuk dalam Rumah Program Konservasi Tumbuhan Terancam Kepunahan di bawah Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati-BRIN.

Koordinator Perencanaan dan Program Pusat Ristek Konservasi Tumbuhan BRIN Yayan C. Kusuma menyebutkan, ada banyak koleksi tumbuhan hidup di Kebun Raya Bogor yang unik dan menarik.

Dua jenis yang dianggap ikon Kebun Raya Bogor adalah koleksi Rafflesia patma (Rafflesiaceae), salah satu jenis tumbuhan parasit yang hidup dan menginfeksi jenis tumbuhan Tetrastigma spp. Jenis ini sangat unik karena selain hanya ditemukan di Indonesia (Jawa dan juga dulu diperkirakan terdapat juga di Sumatra), jenis ini tidak mampu berfotosintesis sendiri dan hanya mengambil nutrisi dari inangnya untuk dapat hidup.

Kemudian koleksi ikonik yang kedua adalah Amorphophallus titanum alias bunga bangkai raksasa, yang hanya ditemukan di Sumatra.

“Jenis ini juga menarik, tidak hanya dari penampakannya yang besar tetapi secara ekologis memiliki siklus hidup yang unik, bergantian antara fase vegetatif, fase dorman dan fase berbunga,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.