Dampak Digitalisasi pada Valuasi Bank di Indonesia

Kapabilitas digital suatu bank sendiri diukur berdasarkan tingkat adopsi tiga layanan digital utama yaitu pembukaan rekening secara online, verifikasi biometrik, dan pengajuan kredit secara online.

Wahyu Avianto

10 Jun 2024 - 07.27
A-
A+
Dampak Digitalisasi pada Valuasi Bank di Indonesia

Ilustrasi bank online./Istimewa

Di era transformasi digital yang berkembang pesat, sektor perbankan tidak lagi bisa mengandalkan model bisnis tradisional untuk tetap relevan dan kompetitif. Digitalisasi telah menjadi kebutuhan yang mendesak, bukan hanya sebagai respons terhadap perubahan teknologi tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja dan valuasi bank.

Dalam konteks ini, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab untuk memahami sejauh mana dampak digitalisasi terhadap sektor perbankan di Indonesia. Apakah digitalisasi benar-benar berdampak pada kinerja dan valuasi bank atau sekadar takut ketinggalan tren alias Fear of Missing Out (FOMO)?

Untuk menjawabnya, kita mulai dari premis digitalisasi adalah pilar utama yang mendefinisikan masa depan industri perbankan di Indonesia. Dalam riset yang saya lakukan, ada pola yang menunjukkan bahwa tingkat digitalisasi yang lebih tinggi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan valuasi bank, yang diukur melalui Price-to-Book Value (PBV).

Studi komparatif ini menggunakan pendekatan kombinasi dari uji statistik (uji-T independen) dan regresi data panel. Pendekatan ini membuka jalan untuk menganalisis faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi valuasi bank dengan layanan digital, serta memberikan wawasan yang lebih dalam tentang peran digitalisasi dalam meningkatkan kinerja dan valuasi bank.

Rupanya, tingkat digitalisasi menjadi elemen yang dipertimbangkan oleh investor dalam menilai prospek suatu bank. Ekspektasi pasar atas prospek tersebutlah yang akhirnya membentuk harga di pasar yang kemudian memengaruhi PBV perusahaan. Hal ini sejalan dengan teori behavioral economic yang pada PBV yang tinggi mengindikasikan harapan yang optimistis, sedangkan PBV yang rendah menggambarkan harapan yang kurang optimistis.

Kapabilitas digital suatu bank sendiri diukur berdasarkan tingkat adopsi tiga layanan digital utama yaitu pembukaan rekening secara online, verifikasi biometrik, dan pengajuan kredit secara online sebagaimana diatur dalam POJK 21/2023 tentang layanan digital bank umum di Indonesia. Makin lengkap layanan digital yang dimiliki, kinerja keuangan bank itu akan lebih baik dan mendapatkan apresiasi lebih tinggi dari investor.

Lantas bagaimana adopsi layanan digital memengaruhi hal itu? Pertama, digitalisasi memungkinkan bank untuk menawarkan layanan yang lebih cepat, efisien, dan aman kepada nasabah. Hal ini kemudian berdampak pada efisiensi operasional. Sebagai contoh, pembukaan rekening secara online memungkinkan bank untuk mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk membuka rekening baru, sehingga mengurangi beban kerja staf dan biaya operasional terkait.

Kedua, digitalisasi mampu mengumpulkan dan menganalisis data nasabah dengan lebih baik. Profil nasabah yang lebih lengkap membuat bank bisa memberikan penawaran produk tambahan seperti kartu kredit, layanan mobile banking, dan produk investasi yang sesuai kebutuhan nasabah. Penjualan produk tambahan ini tentunya berkontribusi pada peningkatan fee based income (FBI).

Praktisi perbankan tentu memahami bahwa FBI yang tinggi menunjukkan kemampuan bank dalam melakukan diversifikasi sumber pendapatan karena tidak hanya bergantung pada bunga pinjaman/pembiayaan. Ini penting karena FBI cenderung lebih stabil dan kurang rentan terhadap fluktuasi suku bunga.

Untuk memaksimalkan hasilnya, bank dapat memanfaatkan artificial intellegence (AI) atau kecerdasan buatan guna mendapatkan analisis data yang lebih mendalam dan prediktif. AI akan membantu bank dalam memprediksi perilaku nasabah dan menawarkan layanan yang lebih terpersonalisasi. Misalnya, AI dapat digunakan untuk menilai kelayakan kredit nasabah secara otomatis sehingga mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan dalam proses pengajuan kredit.

Ketiga, penggunaan data analytic tersebut juga membantu bank dalam mengelola risiko dengan lebih efektif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas aset dan mengurangi tingkat kredit atau pembiayaan bermasalah (non performing loan/NPL).

Di samping faktor finansial, digitalisasi juga membantu bank dalam meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah. Kemampuan untuk menawarkan layanan yang lebih cepat dan mudah diakses meningkatkan kepuasan dan loyalitas nasabah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan profit bank. Dengan kata lain, digitalisasi membantu bank untuk tetap relevan dan kompetitif di pasar yang makin ketat.

Meskipun demikian, setiap bank memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, mereka perlu mengembangkan strategi digital yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Transformasi digital yang berhasil tentunya memerlukan investasi yang signifikan dalam teknologi dan sumber daya manusia, serta perubahan budaya organisasi untuk mendukung inovasi dan pengambilan keputusan yang berbasis data.

Pada akhirnya, kita memang sampai pada kesimpulan digitalisasi telah menjadi elemen kunci dalam meningkatkan kinerja dan valuasi bank di Indonesia. Digitalisasi tidak hanya menjadi tren yang diikuti karena FOMO tetapi merupakan strategi yang penting untuk meningkatkan daya saing, ketahanan, profitabilitas dan valuasi bank di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.