Dampak La Nina, Menteri Risma Minta Warga Kapuas Siaga

Risma meminta masyarakat tetap berhati-hati dan siaga terus. Jika berkaca dari dampak La Nina yang saat ini masih ada, kondisinya dinilai cukup mengkhawatirkan.

Tim Redaksi

3 Nov 2021 - 21.09
A-
A+
Dampak La Nina, Menteri Risma Minta Warga Kapuas Siaga

Ilustrasi - Nelayan memperbaiki jaringnya saat tidak melaut di Pantai Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (31/10/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kepada para nelayan tentang dampak La Nina yang dapat mempengaruhi cuaca dan pasang surut air dan diprediksi terjadi pada akhir tahun./Antara-Basri Marzuki

Bisnis, JAKARTA – Warga Kapuas diminta siaga menghadapi dampak La Nina di wilayah tersebut. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Tri Rismaharini atau Risma, Rabu (3/11/2021), sebagai pengingat bagi warga di pinggiran Sungai Kapuas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Risma menyebutkan curah hujan diprediksi masih tinggi dan cenderung meningkat setiap tahun, sehingga harus diantisipasi agar tidak ada korban jiwa.

"Tetap berhati-hati dan siaga terus. Sebab, jika berkaca dari dampak La Nina yang saat ini masih ada, cukup mengkhawatirkan," ujarnya kepada wartawan, Rabu, (3/11/2021).

Risma menugaskan staf untuk tetap berada di daerah yang terkena bencana alam guna membantu penanganan para pengungsi.

"Apakah masih dibutuhkan dapur umum dan sebagainya, nanti staf saya ada di sini (Sekadau), Sanggau, Sintang dan ada di Melawi. Staf saya ada di semua tempat," katanya.

Pada kesempatan itu, Risma mengajak Ketua Komisi V DPR Lasarus ikut membantu warga yang berada di sepanjang Sungai Kapuas.

"Jika tidak dilaksanakan ke depan makin berat kita," tuturnya.

Risma bersama Lasarus dan Bupati Sanggau Paolus Hadi menemui warga dan menyerahkan bantuan.

Menteri Sosial Tri Rismaharini saat mengikuti rapat kerja dengan Komite II DPD dan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (5/10/2021)./Antara-Aprillio Akbar

Risma juga berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mengatasi persoalan banjir di Kabupaten Sanggau.

"Sebenarnya ada danau-danau sepanjang Sungai Kapuas yang bisa difungsikan untuk penampungan air. Jika curah hujan tinggi, sehingga tidak melintas ke pemukiman warga," katanya.

Risma menyerahkan sejumlah bantuan di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Beberapa di antaranya ialah paket makanan anak, kasur, matras, tenda gulung, dan beragam pakaian anak-anak.  

Faktor Penyebab La Nina

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyampaikan peringatan dini untuk waspada fenomena La-Nina menjelang akhir tahun,

Indonesia harus siap menghadapi fenomena La Nina 2021/2022 yang diperkirakan berlangsung dengan intensitas lemah-sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

Menurut laporan pengawasan terakhir oleh BMKG terhadap perkembangan dari data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, saat ini nilai anomali mendekati batas La Nina sebesar -0.61 pada Dasarian I Oktober 2021. 

Fenomena La Nina merupakan kebalikan El Nino yang menurut bahasa penduduk lokal Amerika Latin berarti bayi perempuan. Peristiwa La Nina adalah kondisi cuaca yang normal kembali setelah terjadinya El Nino. 

Menurut proses terjadinya, La Nina bermula pada perjalanan air laut yang panas ke arah barat sampai akhirnya akan sampai ke wilayah Indonesia.

Hal itu kemudian berakibat wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudera Hindia akan bergerak menuju Indonesia. 

Angin dan fenomena La Nina akan membawa banyak uap air ke Indonesia, sehingga bisa membuat Indonesia sering dilanda hujan lebat bahkan berpotensi banjir. 

Sebelumnya, baik istilah El Nino dan La Nina dianggap sebagai peristiwa penyimpangan suhu yang terjadi karena dampak dari pemanasan global dan terganggunya keseimbangan iklim. 

Beberapa faktor penyebab terjadinya fenomena ini di antaranya yaitu anomali suhu yang mencolok di perairan Samudra Pasifik, melemahnya angin passat (trade winds) di Selatan Pasifik yang menimbulkan adanya pergerakan angin jauh dari normal. 

Penyebab terakhir yang telah teridentifikasi yaitu adanya kenaikan daya tampung lapisan atmosfer, yang disebabkan pemanasan dari perairan panas dibawahnya.

Hal tersebut diketahui terjadi di perairan peru pada saat musim panas, serta adanya perbedaan arus laut di perairan Samudra Pasifik. 

Kendati demikian, Dwikorita mengingatkan pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko bencana yang berada di wilayah berpotensi terdampak agar bersiap melakukan langkah pencegahan dan mitigasi peningkatan potensi bencana. 

"Bencana longsor atau banjir bandang masih mungkin terjadi umumnya di lokasi yang rusak, lereng terpotong atau wilayah hijau sudah banyak terbuka artinya tanpa La Nina pun, meski hujan tidak lebat dapat memicu terjadi banjir. Mari kita cek kapasitas tata air dari hulu hilir," ungkapnya. (Akbar Evandio, Nancy Junita, Dinda Aulia Ramadhanty, Novita Sari Simamora)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.