Dampak Perang Timur Tengah Mungkin Terbatas

Harga minyak mentah mulai melandai di tengah kecamuk perang Israel dan Hamas. Sejumlah pengamat menilai dampak perang Timur Tengah akan terbatas terhadap minyak dunia.

Aprianto Cahyo

12 Okt 2023 - 13.57
A-
A+
Dampak Perang Timur Tengah Mungkin Terbatas

Warga Palestina memeriksa sebuah masjid yang hancur akibat serangan Israel di Khan Younis, di Jalur Gaza Selatan, 8 Oktober 2023. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa/File Foto

Bisnis, JAKARTA - Harga minyak mentah mulai melandai di tengah kecamuk perang Israel dan Hamas. Sejumlah pengamat menilai dampak perang Timur Tengah akan terbatas terhadap minyak dunia. 

Harga minyak mentah di West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati US$83 per barel setelah turun pada hari Rabu (11/10/2023), menyusul laporan New York Times bahwa intelijen AS menunjukkan bahwa Iran terkejut dengan serangan Hamas terhadap Israel. 

Mengutip dari Bloomberg, Kamis (12/10/2023), harga WTI untuk pengiriman November turun 0,3 persen menjadi US$83,23 per barel pada pukul 07.14 pagi waktu Singapura.  

Sementara harga minyak Brent kemarin, untuk pengiriman Desember ditutup 2,1 persen lebih rendah pada US$85,82 per barel. 

Hal ini dapat mengurangi kemungkinan sanksi tambahan terhadap minyak Iran dan membantu mencegah negara tersebut dan proksi di seluruh Timur Tengah untuk terlibat dalam konflik. 

Pasalnya, harga minyak ini juga jatuh setelah adanya laporan penyerangan oleh Hamas terhadap Israel yang mengejutkan Iran. 

Secara teknikal, harga minyak juga turun karena pergerakan bearish yang dikenal sebagai gap fill, yang dipicu ketika harga melonjak lebih dari US$3 pada Senin saat serangan Hamas terhadap Israel meningkatkan kekhawatiran tentang ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.

“Lonjakan seperti itu sering kali mendorong tindakan korektif untuk mengisi terobosan harga yang besar sebelum tren baru dapat terbentuk,” kata wakil presiden senior perdagangan BOK Financial Securities Dennis Kissler.

Meskipun harga mulai melemah, Wakil CEO pedagang komoditas Mercuria Magid Shenouda mengatakan bahwa minyak mentah masih berpotensi mencapai US$100 per barel jika situasi di Timur Tengah semakin memburuk.

"Saya rasa tidak banyak analis yang percaya bahwa harga minyak akan mencapai US$100, dalam situasi normal. Saya pikir peristiwa-peristiwa yang terjadi baru-baru ini menempatkan awan besar (di atas) di mana segala sesuatunya dapat terjadi, karena pasar tidak menilai banyak konflik," kata Shenouda.

Ia melanjutkan bahwa volatilitas harga meningkat tetapi pergerakan harga sebenarnya cukup diredam. Naiknya harga minyak sebesar US$3 per barel tidak terlalu signifikan.

Berbicara di hadapan para pemimpin komunitas Yahudi di Washington, Biden mengatakan bahwa pengerahan kapal-kapal militer dan pesawat-pesawat yang lebih dekat dengan Israel harus dilihat sebagai sinyal kepada Iran, yang mendukung kelompok-kelompok Islam Hamas dan Hizbullah Lebanon.

"Kami telah menjelaskan kepada Iran: Berhati-hatilah," kata Biden, dikutip dari Reuters Kamis (12/10/2023). 

Iran kemungkinan besar mengetahui bahwa militan Hamas merencanakan "operasi melawan Israel", namun laporan intelijen awal AS menunjukkan bahwa beberapa pemimpin Iran terkejut dengan serangan kelompok tersebut yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Gaza. 

Israel telah mengerahkan sejumlah tank dan kendaraan lapis baja di dekat Gaza sebagai persiapan untuk melakukan serangan darat ke daerah kantong pantai yang dikuasai Hamas tersebut.

(Annasa Rizki Kamalina)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.