Dana Asing Balik Lagi

Aliran dana investor asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik, seiring sejumlah instrumen yang diterbitkan pemerintah dan bank sentral demi menarik perhatian para pemegang valuta asing tersebut.

Redaksi

24 Nov 2023 - 04.03
A-
A+
Dana Asing Balik Lagi

Aliran dana asing kembali masuk ke Indonesia seiring sejumlah instrumen baru yang diluncurkan bank sentral dan pemerintah./BISNIS-BIO

Bisnis, JAKARTA - Aliran dana investor asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik menyusul respons pemerintah yang ciamik dalam mengelola stabilitas ekonomi di dalam negeri serta didukung oleh tidak berubahnya kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat menjadi pembicara dalam acara Bisnis Indonesia Business Challenges (BIBC) 2024 kemarin, Kamis (23/11), mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penarik dana asing ke dalam negeri.

Faktor-faktor itu adalah keberhasilan pemerintah dalam mengelola inflasi yang saat ini telah berada di kisaran target, stabilitas nilai tukar rupiah, serta instrumen baru yang diterbitkan oleh pemangku kebijakan.

“Indonesia dibandingkan dengan negera lain relatif stabil dan bahkan kalau kita lihat, capital inflow untuk SBN [Surat Berharga Negara] masih positif,” katanya.

Dia menambahkan, pasar keuangan domestik memang masih amat sensitif terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Akan tetapi, sepanjang tahun berjalan, beberapa indikator di dalam negeri masih menggambarkan kondisi yang cukup menggembirakan, termasuk pergerakan rupiah.

Pada perdagangan kemarin, mata uang Garuda ditutup menguat 0,14% atau 22 poin ke level Rp15.553 per dolar AS. “Memang ada gerakan ketika pengumuman The Fed, tetapi overall YtD [year-to-date] masih baik,” ujarnya.

Selain didorong oleh stabilitas inflasi, masuknya dana asing juga dipengaruhi oleh beberapa instrumen terbitan baru Bank Indonesia (BI) sehingga investor pun memiliki opsi yang beragam.

Instrumen itu termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), serta Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).

Lelang SRBI telah mencapai Rp168,81 triliun hingga 21 November 2023. Dari jumlah tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, aliran investasi portofolio asing telah mencapai Rp27,25 triliun di SRBI.

Adapun, penawaran SVBI pada lelang perdananya tembus US$266,5 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan target indikatif lelang sebesar US$200 juta.

Menurut Perry, banyaknya dana yang masuk tersebut membuktikan bahwa pelaku pasar menyambut baik penerbitan kedua instrumen operasi moneter itu oleh bank sentral.

Dia menyebutkan SVBI yang ditawarkan adalah tenor 1 dan 3 bulan. Ke depan, tenor yang lebih panjang akan ditawarkan, yakni 6, 9, dan 12 bulan.

“Kebutuhan pasar di sana [tenor jangka pendek], Alhamdulillah, oversubscribe. Nanti bisa dinaikkan ke tenor 6, 9, dan 12 bulan,” jelas Perry.

Selanjutnya, BI akan melakukan penerbitan SUVBI dengan lelang perdana pada 28 November 2023. Berbagai inovasi instrumen ini diharapkan dapat mendukung strategi operasi moneter yang pro-market dan dapat menarik aliran modal masuk untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dari dampak rambatan global.

Sementara itu, SRBI yang mendapat respons positif dari pasar dan telah menarik inflow ke dalam negeri berhasil mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang sangat tinggi.

“Terbukti tadi Rp27,25 triliun [investasi portofolio] masuk dari SRBI asing, itu mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Baca Juga : Mengamankan Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Politik 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa 30% dari total lelang SRBI yang mencapai Rp168,81 triliun telah diperdagangkan di pasar sekunder atau Rp50 triliun.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa SRBI merupakan instrumen moneter BI yang pro-market dan menggerakkan pasar, tecermin dari transaksi di pasar sekunder yang terus meningkat.

“Hal yang menarik sesuai dengan arah kami menerbitkan SRBI, menarik inflow masuk, dan sekarang kita melihat asing sudah Rp27,25 triliun atau 15,2%. Ini kurang lebih perkembangan dari beberapa instrumen dan kebijakan yang kami lakukan terkait stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Destry.

Baca Juga : Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Lapor SPT Baru 80%

Adapun, BI menilai nilai tukar rupiah tetap terkendali, tecermin dari penguatan sebesar 1,99% dibandingkan dengan level akhir Oktober 2023. Sepanjang tahun berjalan 2023, nilai tukar rupiah tercatat stabil, dengan depresiasi terbatas 0,04% dari level akhir Desember 2022.

Tingkat depresiasi tersebut lebih baik dibandingkan dengan rupee India, baht Thailand, dan ringgit Ma­­laysia yang masing-masing melemah sebesar 0,7%, 1,7%, dan 5,84%.

BELUM TERUJI

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky menambahkan, dari sisi penerbitan dan mekanisme instrumen, SVBI dan SUVBI sesuai dengan yang dibutuhkan pelaku pasar.

Namun, efektivitas dari kedua instrumen itu masih membutuhkan waktu dan bergantung pada pola komunikasi pemangku kebijakan serta dinamika ekonomi global.(Annasa R. Kamalina, Maria Elena & Jessica G. Soehandoko, Sri Mas Sari)

Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.