Dana Investor Ritel Makin Deras Aliri Sukuk Pemerintah

Aliran dana investor ritel makin deras mengaliri sukuk pemerintah pada 2021. Simak penjelasannya.

Lorenzo Anugrah Mahardhika & Ika Fatma Ramadhansari

17 Nov 2021 - 20.06
A-
A+
Dana Investor Ritel Makin Deras Aliri Sukuk Pemerintah

Aliran dana investor ritel makin deras mengaliri sukuk pemerintah pada 2021. (Bisnis/Himawan L. Nugraha)

Bisnis, JAKARTA— Dana investor ritel ternyata makin deras mengaliri instrumen sukuk pemerintah hal itu tecermin pada animo yang tinggi saat penawaran sukuk tabungan.

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring Rabu (17/11/2021) sekitar pukul 10.00 WIB, total penjualan ST008 telah menyentuh Rp5 triliun. Adapun kuota pemesanan pada mitra distribusi tersebut sudah tercatat Rp0 dari target Rp5 triliun.

Jumlah tersebut telah mencapai target pemerintah yang mematok jumlah pemesanan sebesar Rp5 triliun. Adapun, masa penawaran dijadwalkan ditutup pada hari ini, hingga 17 November 2021.

Direktur Pemasaran KoinWorks, Jonathan Bryan menyebutkan minat investor terhadap sukuk tabungan seri ST008 terbilang tinggi. Hal ini terlihat dari masih banyaknya pengguna KoinWorks yang melakukan registrasi di produk KoinBond untuk pembelian ST008.

Jonathan memaparkan, tingginya minat investor didorong dengan adanya kebijakan insentif pemerintah yang tertuang dalam PP No.91/2021 terkait penurunan atas Pajak Penghasilan (PPh) terhadap bunga obligasi investor lokal menjadi 10 persen dari tarif awal di 15 persen.

Menurutnya, kupon ST008 sebesar 4,8 persen masih lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito bank besar yang hanya mencapai 2 persen hingga 3 persen.

“Pajak deposito biasa dapat mencapai 20 persen, sementara pajak obligasi hanya 10 persen. Oleh karena itu, ST008 masih tergolong menarik sebagai pilihan instrumen investasi yang menguntungkan bagi investor,” jelasnya saat dihubungi Bisnis pada Rabu (17/11/2021).

Sebelumnya, Direktur Ritel dan Bisnis Kecil dan Menengah Bank Commonwealth, Ivan Jaya menuturkan minat investor terhadap obligasi pemerintah termasuk ST008 sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kuota awal yang ditetapkan oleh pemerintah sudah habis pada tiga hari awal periode penawaran ST008.

Adapun, total penjualan ST008 di Bank Commonwealth juga sudah melampaui target yang ditetapkan di awal sebesar Rp100 miliar. Ivan mengatakan total penjualan mencapai 120 persen dari target awal yang dipatok Bank Commonwealth.

Salah satu faktor yang mendukung tingginya minat investor adalah potensi return yang optimal. Menurutnya, imbal hasil yang ditawarkan sebesar 4,8 persen masih cukup atraktif bagi investor jika dibandingkan dengan produk deposito.

Terpisah, Kepala Riset Pendapatan Tetap Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menyebutkan struktur kupon ST008 yang menarik membuat antusiasme investor tetap terjaga. Hal ini karena kupon yang ditawarkan ST008 bersifat mengambang dan memiliki batas bawah (floor).

“Dengan tenor yang relatif rendah serta potensi kuponnya meningkat kalau suku bunga BI naik, tentu menjadikan ST sebagai salah satu alternatif hedging untuk investor obligasi yang banyaknya fixed rate,” katanya.

Dia menuturkan meski kupon yang ditawarkan lebih rendah, ST008 terbilang lebih menarik dibandingkan dengan deposito dari sisi potensi keuntungan. Hal ini karena tren penurunan bunga deposito diprediksi masih berlanjut seiring dengan turunnya loan to deposit ratio (LDR) perbankan.

Di sisi lain, prospek instrumen green sukuk baik konvensional maupun ritel ke depannya cukup positif. Menurutnya, permintaan investor terhadap jenis instrumen ini mulai tumbuh sejak beberapa tahun terakhir.

Dia berujar investor mulai menyadari prinsip investasi yang memperhatikan prinsip keberlanjutan. Popularitas investasi dengan unsur environmental, social, and governance (ESG) juga belakangan mulai meningkat seiring dengan kesadaran investor terhadap kelestarian lingkungan.

Sejumlah pengelola dana luar negeri saat ini telah memiliki porsi khusus untuk ESG. Handy optimistis tren yang sama dapat terjadi pada investasi green sukuk ataupun ESG investing lainnya di Indonesia dengan keterlibatan dari pemangku kepentingan terkait.

ST008 merupakan green sukuk ritel yang menunjukkan komitmen dan kontribusi pemerintah dalam mengembangkan pasar uang syariah serta dalam mengatasi perubahan iklim. 

“Akan lebih bagus kalau jenis investasi seperti green sukuk ini diberikan insentif khusus, contohnya  seperti pajaknya 0 persen,” tutupnya.

Senada, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengungkapkan variasi produk ini adalah salah satu yang menarik minat dari investor ritel untuk ikut serta berpartisipasi membeli ST008 di samping memang kuponnya yang cukup menarik. 

Ramdhan menjelaskan bahwa green sukuk ini akan memberikan nilai yang lebih kepada investor karena tujuan investasinya adalah tidak merusak lingkungan dan menurutnya dampaknya positif. 

“Sebagai investor mereka yang membeli instrumen ini [ST008] lebih merasa bahwa investasi mereka selain mendapatkan return juga dapat mendukung pelestarian lingkungan,” ungkap Ramdhan.

Produk green sukuk sendiri menurut Ramdhan adalah kreatifitas dari penerbit agara serapan dana dari surat berharga negara (SBN) akan lebih baik dan memperkuat likuiditas pasar. 

Ramdhan pun menyampaikan bahwa prospek green sukuk ke depannya akan lebih baik mengingat edukasi di masyarakat semakin baik dan juga terjadi pendalaman pasar. 

Secara keseluruhan, dia melihat potensi perkembangan pasar SBN ritel di Indonesia juga masih luas, mengingat jumlah investor yang saat ini berkembang pesat. 

Sementara itu, Ramdhan menilai pasar SBN ritel dalam setahun ini pertumbuhannya baik dari sisi jumlah penerbitannya, maupun pendalaman pasarnya. Apalagi penerbitan SBN ritel tahun ini mencapai enam kali, sedangkan pada beberapa tahun sebelumnya sebanyak dua atau tiga kali. 

“Kalau saya lihat respons pasar cukup baik. Apalagi di masa pandemi begini likuiditas di pasar itu meningkat,” ungkapnya.  

Menurutnya, karena pandemi Covid-19, masyarakat mengalihkan dana yang awalnya untuk konsumsi ke investasi dan salah satunya melalui SBN ritel. 

Selain itu, Ramdhan menjelaskan bahwa kebutuhan pembiayaan pemerintah dari surat utang sudah tercukupi sehingga dalam beberapa penawaran SBN ritel terakhir, sebelum jadwal masa penawaran berakhir SBN ritel tersebut telah laku terjual. 

Ramdhan memperkirakan jumlah penawaran akan bisa menembus angka Rp10 triliun mengingat likuiditas masyarakat yang cukup tinggi. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.