Dana Rp5,8 Triliun dari Mentan demi Genjot Produksi Pangan

Mentan Andi Amran Sulaiman akan menyiapkan Rp5,8 triliun untuk genjot produksi pangan khususnya beras dan jagung.

Akbar Evandio

21 Nov 2023 - 10.36
A-
A+
Dana Rp5,8 Triliun dari Mentan demi Genjot Produksi Pangan

Beras di pasar. Bisnis/Suselo Jati

Bisnis, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) akan menyiapkan Rp5,8 triliun untuk mendorong produksi pangan.

Dia menegaskan bahwa padi dan jagung akan menjadi komoditas utama yang akan didorong oleh pemerintah. Anggaran tersebut akan digunakan untuk membagikan bibit unggul dan juga menyediakan alat mesin pertanian (alsintan).

"Ini aku siapkan sampai Oktober-Maret anggaran sebesar Rp5,8 triliun. Khusus untuk [bibit] padi jagung saja dan juga alat mesin pertanian," katanya saat ditemui di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Senin (20/11/2023).

Lebih lanjut, Amran melanjutkan bahwa terdapat dua strategi yang akan dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan di tengah siklus El Nino, yakni mempercepat masa tanam dan kedua membagikan bibit unggul gratis ke petani.

Baca juga: Ancaman Mogok Kerja Buruh Menolak Usulan UMP 2024 di Jakarta

Oleh sebab itu, kata Amran, pemerintah telah memobilisasi petani agar melakukan tanam cepat atau tanam culik, yaitu menggunakan lahan sawah yang baru dipanen agar langsung ditanami komoditas kembali dengan harapan panen jadi lebih cepat.

"Kami harus siasati pertama dengan tanam cepat. Insaallah lusa kami ke Jawa Timur tanam cepat. Panen langsung kita tanam siasati itu namanya tanam culik istilahnya di lapangan," imbuhnya.

Dia melanjutkan target produksi pada program tanam cepat ini diharapkan bisa menghasilkan beras mencapai 900.000 ton. Jika di bawah itu maka kemungkinan akan terjadi kekurangan kekurangan beras.


Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. BISNIS/Ni Luh Angela.


"Kalau 1 juta hektare minimal 900.000 itu cukup, kalau di bawah 700.000, apalagi 500.000 itu pasti kekurangan beras 3 bulan kemudian. Jadi kalau November tanam di bawah 1 juta hektare, di Januari akan kekurangan," katanya.

Selain itu, Amran juga menegaskan program tanam cepat ini dilakukan untuk menekan impor, bukan kembali membuat RI mencapai swasembada beras seperti pada 2017, 2019, dan 2020.

"Menekan impor di 2024 mudah-mudahan sudah produksi meningkat 2025, 2026 swasembada kembali," ujarnya.

Baca juga: Jalan Keluar Bagi 'Tradisi' Impor Beras

Tak hanya itu, tambah Amran, strategi memberikan bibit gratis kepada tanah persawahan akan disampaikan terhadap sawah yang memiliki saluran irigasinya dengan perkiraan jumlahnya mencapai 1—1,5 juta hektare.

"Kedua adalah strategi kita seluruh tanah yang beririgasi di Indonesia mungkin 1—1,5 juta hektare kita memberikan insentif bibit benih gratis. Ini akan meningkatkan produksi. Jadi petani juga mau untuk melakukan tanam cepat," pungkas Amran.

 

Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.