Free

Dari Etika Lingkungan Sampai Kearifan Lokal Masyarakat

Sehingga dalam rangka menyelamatkan bumi di tengah krisis iklim ihwal perubahannya yang menghadirkan beragam persoalan. Maka dipandang perlu dalam pertemuan G-20 di tahun 2022 ini harus menempatkan kembali etika lingkungan khususnya Deep Ecology.

Ernest L. Teredi

31 Mar 2022 - 12.45
A-
A+
Dari Etika Lingkungan Sampai Kearifan Lokal Masyarakat

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Kampung Wisata Yoboi, Jayapura, Papua.


Kita sering merasakan, menyaksikan pelbagai hal seperti; longsor, banjir, curah hujan tinggi, kemarau berkepanjangan, dsb. Ketakutan, kecemasan dan perasaan heran pun timbul. Kekecewaan, traumatis dan kemasygulan menjadi permanen dalam diri manusia. Dan itu semua adalah lanskap dari perubahan iklim.

Bumi mencapai titik kulminasi ihwal kesabaran dan resiliensinya. Dalam rumusan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perubahan iklim didefinisikan sebagai gejala yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia (Febriansyah, 2021). Sederhanannya kebiasaan kita membuang sampah, menebang pohon sembarangan, menambang berskala luas, merupakan tindakan untuk mempercepat pada kerusakan bumi.

Ternyata apa yang kita lakukan khususnya hal-hal yang buruk baik secara individual, komunitas hingga kebijakan yang dilahirkan negara membuat alam stres, sakit dan marah. Hasilnya kita toreh, bumi menampilkan wajah bengisnya, mulai dari bencana alam, hewan punah, produktivitas pertanian rendah, hingga pada kesehatan manusia sendiri yang bermasalah.

Memang, secara teoretis-saintifik menjelaskan, matahari dan planet-planetnya, kurang lebih miliaran tahun yang akan datang akan berakhir. Karena matahari telah kehilangan kekuatannya dan menjadi padam. Dan rupanya selama beberapa dekade belakangan sampai kini kita mempercepat “hari kiamat” itu dengan membuat bumi tempat tinggalnya sebagai tanur api.

G-20 dan Etika Lingkungan 

Tahun 2022 merupakan momentum pertemuan dari Kelompok Duapuluh/G-20 yang terdiri dari negara-negara ekonomi besar bersama dengan Uni Eropa. G-20 kali ini akan diselenggarakan di Indonesia. Salah satu tema penting yang didiskusikan oleh G-20 adalah tentang perubahan iklim.

Tema perubahan iklim pada pertemuan G-20 bukan tanpa alasan. Pasalnya, di berbagai belahan bumi atau secara mondial, kejadian-kejadian alam yang membuat umat manusia kaget, tercengang, heran. Sebab, alam selama ini tak seperti biasanya yaitu, ramah, sejuk, dan membuat manusia hidup dalam kenyamanan. Justru sebaliknya, alam menampakkan wujud beringasnya dengan manusia.

Tentu, di tengah kerusakan alam yang sakit sekarat, maka ada pentingnya, konseptor-konseptor dari negara-negara G-20 itu penting mendudukkan kembali tentang etika lingkungan. Ide ini terkesan absurd bagi banyak orang – mengingat arus perkembangan zaman yang membuat etika lingkungan, kian menjauh dari diri kita. Namun bukankah hakikat dasar manusia itu adalah beretika terhadap segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Kita penting menghidupkan etika lingkungan itu mulai dari sekarang.

Ketika berbicara etika lingkungan, akan ada banyak varian teorinya. (Dietz, 1998) menjelaskan lebih tiga jenis aliran gerakan lingkungan. Pertama, kelompok “fasis lingkungan” (eco-fascism), suatu gerakan lingkungan yang memperjuangkan masalah “lingkungan demi lingkungan”.

Kedua, kelompok yang memperjuangkan kelestarian lingkungan demi keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dan pemupukan modal. (Fakih, 1998) menyebut kelompok ini sebagai “pembangunan lingkungan” (eco-developmentalism) yang mengedepankan kepentingan kapitalisme/pemodal dengan semboyannya “pembangunan berkelanjutan” (sustainable development). Ini terkesan baik, tapi terdapat banyak dilema, kelemahan dari praktiknya selama ini.

Ketiga, kelompok gerakan “lingkungan kerakyatan” (eco-populism). Moto utama dari kelompok ketiga ini “Hutan untuk Rakyat” (Forest for People). Kalangan gerakan lingkungan hutan untuk rakyat memihak pada kepentingan rakyat banyak. Perbedaan pada gerakan lainnya dari kelompok ini sangat jauh. Dalam lintas pikiran gerakan hutan untuk rakyat, jadi rakyat digambarkan sebagai sesuatu kelompok yang memang secara kultural sudah hidup menyatu dengan bumi. Mereka menjaga isi bumi layaknya menjaga kehidupannya itu sendiri.

Kendati demikian, beberapa varian teori di atas mengandung kelemahannya masing-masing. Dan pelbagai kelemahan, kerentanan itu setidaknya diisi dengan konsep ekosentrisme yang memfokuskan etika tidak saja untuk makhluk hidup. Tetapi pada seluruh komunitas ekologis biotis dan abiotis. Dan varian teori ekosentrisme (deep environmental ethics) adalah teori etika lingkungan yang sekarang ini dikenal sebagai Deep Ecology.

Kata ekologi diatribusikan dengan ajektif “deep” karena, sebagaimana diutarakan Zimmerman mempersoalkan pertanyaan yang lebih mendalam tentang di mana posisi manusia di dalam sistem ekologis (Zimmerman, et Riyadi, 2002). Dengan berarti, pertanyaan mendalam dari Zimmerman menghadirkan konsep bahwa Deep Ecology menempatkan bumi sebagai jejaring bermakna pada setiap kehidupan di dalamnya. Etika inilah yang harus digerakkan ke depannya demi menjaga, melestarikan, dan menghidupkan bumi untuk terus berlanjut baik adanya.

Belajar dari Keraifan Lokal

Jika konsep Deep Ecology masih terbilang teoritis, maka sebenarnya pada ranah praktisnya sudah dilakukan oleh masyarakat adat. Bagi masyarakat adat, bumi adalah ibu, di dalamnya terdapat manusia, hewan dan tumbuhan yang hidup berkait kelindan. Aktivitas kultural seperti ritual, hukum adat, tarian, dll merupakan jaringan makna yang saling menyatu.

Sehingga dalam rangka menyelamatkan bumi di tengah krisis iklim ihwal perubahannya yang menghadirkan beragam persoalan. Maka dipandang perlu dalam pertemuan G-20 di tahun 2022 ini harus menempatkan kembali etika lingkungan khususnya Deep Ecology yang telah dan terus dihidupkan oleh beberapa komunitas masyarakat. Aktivitas ini sering disebut sebagai kearifan lokal.

Praktik dan habituasi dalam kehidupan masyarakat adat ini seharusnya didorong untuk menjadi ‘salah satu’ acuan dalam rangka menjaga ekosistem kehidupan antara bumi, manusia, hewan dan tumbuhan lainnya. Bumi akan baik selama kita memperlakukannya baik. Sebaliknya, jika kita merusaki bumi, sudah pasti bumi akan menampakan wajah kebengisan, kemarahan dan kegilaanya itu.


Ernest L. Teredi, Peneliti Lembaga Terranusa Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.