Dari Illegal Logging, Bukanagara Jadi Pengekspor Kopi Subang

Kampung yang dulu sering terjadi kasus illegal logging, kini menjadi wilayah pengekspor kopi Subang ke mancanegara.

Redaksi

9 Nov 2021 - 14.05
A-
A+
Dari Illegal Logging, Bukanagara Jadi Pengekspor Kopi Subang

Salah satu produk kopi dari Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL). Saat ini, Kopi dengan merek dagang Hofland tersebut sudah diekspor ke beberapa negara./Dok Pribadi

Bisnis, SUBANG - Kampung Bukanagara, Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, merupakan salah satu wilayah di selatan Kabupaten Subang. Siapa sangka, kampung yang dulu sering terjadi kasus illegal logging, kini menjadi wilayah pengekspor kopi ke mancanegara.

Kampung Bukanagara saat ini disulap menjadi salah satu wilayah sentra kopi. Ada cerita panjang mengenai perubahan kebiasaan dan mindset atau pola pikir warga di wilayah bersuhu cukup dingin ini.

Warga di  wilayah yang dikelilingi hutan dan gunung ini kini menjadi jutawan dari budi daya kopi.

Cerita itu diungkapkan Miftahudin Shaf, Ketua Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL). Sebelum tahun 2013, di kawasan Cisalak ini sering terjadi kasus illegal loging.

Saat itu mata pencaharian warga setempat adalah bercocok tanam di lahan milik Perhutani.

“Saat itu warga turut menggarap lahan Perhutani, dengan cara menanam pepohonan. Setelah besar, pohonnya lantas ditebang dan dijual," ujar Miftahudin, kepada Bisnis, Selasa (9/11/2021).

Miftahudin Shaf (kanan), Ketua Koperasi Gunung Luhur Berkah (GBL) saat mendampingi tamu dari beberapa negara yang berkunjung ke gudang produksi perkebunannya./dok pribadi

Sejak terbit UU Kehutanan, masyarakat tak boleh lagi menebang dan menjual pohon. Saat itu, terjadi polemik di tengah-tengah masyarakat, yang mengandalkan hidup dari hutan.

Miftahudin yang berprofesi sebagai Kanit Bimas Polsek Cisalak akhirnya sering turun ke masyarakat. Salah satunya, untuk sosialisasi larangan illlegal logging dan pendekatan persuasif ke masyarakat.

Supaya masyarakat memiliki penghasilan lagi, terbersit dalam hati Miftahudin untuk bercocok tanam pepohonan yang punya nilai ekonomis. Dia pun berdikusi dengan Perhutani. Akhirnya, muncul ide untuk menanam kopi.

Memang, lanjut Miftahudin, sebelumnya warga juga sudah menanam kopi. Tapi, hanya sebatas sebagai tanaman pagar.

“Jadi, warga di Cisalak sudah lama mengenal kopi. Tetapi, budi dayanya tidak fokus dan profesional,” ujarnya.

Saat dirinya menyampaikan ide untuk menanam kopi ini, banyak sekali pertentangan dari warga. Mereka menilai kopi tidak menguntungkan. Akhirnya, Miftahudin menanam kopi di lahan milik pribadi seluas 1 hektare, sebagai percontohan ke warga.

Setelah itu, dia banyak berdiskusi dengan pihak Perhutani. Lalu, pihak Perhutani menyarankan dirinya untuk studi banding ke Pangalengan.

Dari situ, Miftahudin belajar tata cara budi daya kopi. Dia menanam kopi antara 2013-2014. Dua tahun kemudian, kopi-kopinya membuahkan hasil. Akan tetapi, kopi tersebut belum diolah secara profesional.

“Saya menjualnya dalam bentuk basah yang masih ada kulitnya. Begitu panen, langsung jual. Saat itu, harganya Rp6.000 per kilogram. Sekali panen, bisa menghasilkan dua sampai tiga kuintal,” ujarnya.

Karena kopi panennya seminggu sekali, setiap pekan Miftahudin punya penghasilan tambahan dari menjual kopi. Melihat kondisi itu, perlahan tapi pasti warga setempat mulai tertarik menanam kopi.

Akhirnya, sejak 2016, perkebunan kopi yang digarap semakin luas. Kini, lahan garapannya antara 50 hektare sampai 150 hektare yang tersebar di sejumlah desa.

Kopi Subang Tembus Mancanegara

Miftahudin kini bisa bernafas lega. Usahanya mengubah cara pandang masyarakat soal illegal logging, membuahkan hasil. Kini, kopi yang diproduksinya diberi merek dagang Hofland.

Siapa sangka kopi ini sudah tembus pasar mancanegara. Tahun ini saja Arab Saudi memesan kopi miliknya sampai 150 ton. Adapun, yang bisa diekspor baru satu kontainer setara dengan 18 ton kopi.

Miftahuddin Shaf (kedua kanan)/dok.Pribadi

Keberhasilan ini tak lepas dari campur tangan para SDM yang semuanya adalah milenial. Hal itu ditambah lagi dengan adanya dukungan pemerintah melalui Bank Indonesia.

Koperasi GBL yang berperan sebagai agregator kopi di Jawa Barat mendapatkan bantuan dua mesin pengolah kopi dari Bank Indonesia.

“Masing-masing mesin mampu mengolah kopi dengan kapasitas 2,5 ton per jam. Sebelumnya, kami punya mesin yang hanya mampu mengolah 500 kuintal per jam. Ini sangat membantu kami,” ujar pria asal Garut ini.

Bantuan pemerintah ini merupakan yang kali pertama diperoleh Koperasi GBL. Miftahudin sangat mengapresiasi bantuan dari Bank Indonesia ini. Sebagai agregator kopi di Jabar, pihaknya bisa membeli kopi dari petani di sejumlah wilayah seperti dari Jawa Timur, Banten dan Jakarta. 

Kini, bisnis kopi Koperasi GBL sudah berkembang pesat. Petani di Cisalak yang menjadi binaan Koperasi GBL telah mencapai 200 orang. Sedangkan, SDM yang bekerja di koperasi ada 12 orang.

“Pekerjanya semua generasi milenial yang bisa fokus untuk berbisnis. Sebab, para milenial ini sudah melek teknologi," ujar polisi berpangkat Bripka ini.

Bagi Miftahudin, kopi merupakan berkah tersendiri. Melalui kopi mindset masyarakat soal mendapatkan uang dari hasil illegal logging jadi terbantahkan. Kini, masyarakat bisa memiliki penghasilan lebih dengan menanam kopi. Kawasan konservasi hutan di Cupunagara juga tetap terjaga. (Asep Mulyana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.