Darurat Intervensi Subsidi Jagung Pakan!

Subsidi jagung itu bakal mengurai karut marut ketimpangan yang terjadi antara tingginya biaya produksi dan merosotnya harga telur dari peternak di tengah pasar sejak triwulan lalu.

Stepanus I Nyoman A. Wahyudi & Reni Lestari
Sep 19, 2021 - 12:51 PM
A-
A+
Darurat Intervensi Subsidi Jagung Pakan!

Pekerja mengeringkan jagung yang baru dipipil di Desa Balongga, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (6/9/2021). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional khusus untuk sektor pertanian jagung hingga akhir Agustus 2021 telah mencapai Rp1,76 triliun yang disalurkan kepada 72.070 debitur. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Bisnis, JAKARTA — Intervensi subsidi jagung pakan dinilai sangat mendesak untuk segera dieksekusi pemerintah, khususnya di sentra-sentra peternakan unggas yang tersebar di Blitar, Klaten, Boyolalli, Sukoharjo, dan Lampung.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan subsidi jagung itu bakal mengurai karut marut ketimpangan yang terjadi antara tingginya biaya produksi dan merosotnya harga telur dari peternak di tengah pasar sejak triwulan lalu.

“Informasinya Kementerian Perdagangan dananya sudah siap. Hanya saja, Kementerian Pertanian barangnya [jagung pakannya] masih belum tahu ada atau tidak,” kata Singgih melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Minggu (19/9/2021) malam. 

Ihwal rencana subsidi itu, Kementerian Perdagangan dikabarkan telah menyiapkan anggaran sejumlah Rp45 miliar untuk pengadaan 30.000 ton jagung dengan harga Rp1.500 per kilogram (kg) kepada peternak di sejumlah sentra produksi.

Kendati demikian, ketersediaan jagung di daerah pemasok yang berada di luar Pulau Jawa masih belum diketahui nilai riilnya. 

“Target Presiden dalam satu minggu harus segera diesekusi [kebijakan intervensi harga pakan]. [Namun,] ini di Blitar belum menerima, apalagi Lampung dan Klaten belum ada informasi juga, padahal anggaranya sudah siap,” kata dia.

Pinsar sempat mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk mengimpor jagung untuk memutus polemik tingginya bahan pakan ternak dalam negeri.

Usul itu diterima Jokowi saat menjamu kehadiran sejumlah utusan peternak di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/9/2021). 

“Pak Presiden sudah setuju kalau tidak ada, buka impor tidak masalah. Tidak tahu nanti bagaimana kita lihat saja, yang penting jangan beri harapan palsu saja kasihan peternak,” ungkap Singgih. 

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo memanen dalam acara panen raya jagung di Gorontalo, Jumat (1/3/2019)./ANTARA-Akbar Nugroho Gumay 

Dihubungi secara terpisah, Ketua Dewan Jagung Nasional Tony J. Kristianto meminta pemerintah untuk menggandeng pabrik pakan terkait dengan rencana pemberian subsidi jagung sebanyak 30.000 ton kepada peternak. 

Tony mengatakan langkah itu diperlukan untuk memastikan stabilitas harga jangka pendek di tengah pasar.

Selain itu, kata Tony, juga untuk menjawab persoalan minusnya ketersediaan jagung di sejumlah sentra pemasok yang ada di luar Pulau Jawa. 

“Saya usulnya pemerintah bicara sama pabrik pakan ternak karena mereka menjual pakan jadi,” kata Tony, Minggu (19/9/2021). 

Tony membeberkan opsi impor yang disampaikan Pinsarkepada Presiden sulit untuk diambil lantaran harga jagung di pasar internasional turut mengalami kenaikan. 

“Sisanya dibayar pemerintah, kalau subsidi 60.000 ton, sekitar Rp60 miliar lah selesai. Duitnya jelas ke mana, barangnya jelas ke mana karena jualnya ke peternak kecil,” kata dia. 

Dari tinjauan pakar, Guru Besar Pertanian Universitas Lapung Bustanul Arifin berpendapat isu disparitas harga di industri perunggasan terjadi karena stok dalam negeri tak memadai, sedangkan impor jagung juga tersendat.

Ketiadaan stok cadangan nasional menjadi masalah krusial yang menyebabkan instabilitas harga dan pasokan yang berkepanjangan.

Di dalam negeri, panen jagung sudah selesai di beberapa tempat. Sebaliknya, negara utama asal impor jagung seperti Amerika Serikat diperkirakan saat ini sedang musim tanam dan baru akan panen pada Oktober 2021.

Ada pula faktor fluktuasi harga di pasar komoditas dunia yang berpengaruh ke jagung dalam negeri.

"Harga pakan terlalu tinggi karena di dalam negeri [stok] berkurang, dari luar negeri juga kurang," ujarnya saat dihubungi, Minggu (19/9/2021).

Untuk mengurai masalah ini dalam jangka pendek, Bustanul menyarankan agar pemerintah memerintahkan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) membagi kelebihan stok yang dimiliki.

"Ini bukan mekanisme pasar, tetapi bolehlah dipanggil karena mereka mungkin punya stok untuk usaha produksinya yang selama ini mereka impor," katanya.

Bagaimanapun, Bustanul mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian dengan program intervensi cadangan yang menyambungkan pemerintah daerah yang surplus jagung dengan yang defisit.

Namun demikian, jumlahnya dinilai tidak cukup signifikan untuk menstabilkan harga.

"Ada pula [masalah] subsidi ongkos angkut. Sayangnya, insentif tersebut tidak dapat dinikmati secara menyeluruh mengingat ketiadaan cadangan stok."  

Untuk solusi permanen, Bustanul menilai pemerintah harus membangun cadangan stok nasional yang berarti pula mendorong produktivitas petani jagung.

"Untuk mengamankan supaya tidak terjadi gejolak harga, hal itu sangat penting," ujarnya.

Pekerja memanen telur ayam ternaknya di kelurahan Rangas, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (5/11/2020)./ANTARA

Di lain sisi, Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi meminta pemerintah untuk melindungi peternak kecil dari dominasi korporasi yang relatif besar. 

“Persaingan konglomerasi dengan peternak mandiri kecil harus diakhiri, yang terjadi sampai dengan saat ini perusahaan memasarkan produk ayam hidup sama dengan peternak kecil, di pasar-pasar tradisional,” kata Sugeng saat dihubungi, Minggu (19/9/2021) malam. 

Dengan demikian, Sugeng meminta, Jokowi mengeluarkan kebijakan untuk menganulir peraturan menteri perdagangan dan pertanian ihwal harga acuan daging dan telur ayam ras.

“Karena dua pelaku yang besar dan kecil ini memasarkan di pasar yang sama sementara biaya pokoknya itu berbeda, ini perlu keadilan, perlu kehadiran negara untuk melindungi,” kata dia. 

Menurutnya, langkah itu diperlukan lantaran peraturan menteri perdagangan dan pertanian tidak mampu melindungi peternak kecil ketika terjadi ketimpangan harga di tengah pasar. 

Seperti diberitakan Bisnis sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi medio pekan lalu berjanji akan memecahkan persoalan para peternak mandiri yang mengalami kesulitan pakan akibat pandemi Covid 19 yang berkepanjangan.  

Rencananya, pemerintah bakal mendekatkan distribusi pakan ternak khusus jagung dari sejumlah sentra di wilayah produksi lain.  

"Sesuai petunjuk Bapak Presiden, kami akan melakukan langkah cepat pada minggu ini agar kebutuhan jagung khususnya di tiga tempat yang bersoal, yakni Klaten, Blitar, dan Lampung bisa tertangani dengan harga yang sangat normatif. Kalau perlu menggunakan subsidi subsidi tertentu," kata Syahrul, Kamis (16/9/2021).

Selain itu, Syahrul berjanji akan menambah lebih banyak sentra pakan khusus jagung pada daerah yang memiliki basis peternakan.

Selanjutnya, kementerian akan melakukan penjagaan dan stabilitas harga agar tetap dalam kendali serta memperbaiki regulasi dan aturan yang bisa melindungi peternak.

HARGA AYAM

Para perkembangan lain di industri perunggasan,  Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan menjabarkan harga daging ayam ras mulai mengalami kenaikan pekan ini. 

Dia mengatakan daging ayam ras mengalami kenaikan harga yang signifikan dibandingkan bulan lalu sebesar 5,57% menjadi Rp34,100 per kilogram. Namun, kenaikan harga itu masih di bawah harga acuan sebesar Rp35,000 per kilogram. 

“Kondisi tersebut disebabkan oleh tingginya harga input porduksi seperti day-old chick [DOC] broiler yang di atas harga acuan dan harga pakan ternak seiring dengan kenaikan harga jagung dan keledai dunia,” kata Oke.

Di sisi lain, Oke menerangkan, harga minyak goreng curah naik sebesar 2,17% dan minyak goreng kemasan naik mencapai 1,88% jika dibandingkan dengan bulan lalu. 

“Kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri dipicu oleh kenaikan harga CPO dunia yang masih terus terjadi,” tuturnya. 

Adapun, harga telur ayam di tingkat peternak kembali mengalami penurunan sebesar 13,25% menjadi Rp17.152/kg atau berada di bawah harga acuan sebesar Rp19.000/kg—Rp21.000/kg. 

“Penurunan harga disinyalir terjadi karena adanya oversupply. Kondisi ini dinilai memberatkan peternak rakyat karena harga input produksi seperti DOC dan pakan jagung mengalami kenaikan yang signifikan,” ujarnya.

Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar