Defisit Bahan Baku Masih Hantui Manufaktur Awal 2022

Isu defisit bahan baku pada awal tahun ini tidak hanya dirasakan oleh sektor-sektor dengan tingkat ketergantungan impor tinggi, tetapi juga di lini-lini yang input-nya dipasok dari dalam negeri.

Reni Lestari
Jan 24, 2022 - 10:30 AM
A-
A+
Defisit Bahan Baku Masih Hantui Manufaktur Awal 2022

Seorang pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit./Antara-Mansyur S

Bisnis, JAKARTA — Isu defisit bahan baku menggelayuti sederet industri manufaktur pada awal tahun ini. Tidak hanya di sektor-sektor dengan tingkat ketergantungan impor tinggi, tetapi juga di lini-lini yang input-nya dipasok dari dalam negeri.

Salah satu industri yang mengalami kekurangan bahan baku adalah mebel dan furnitu. Pasok rotan sejak 2021 diklaim seret dan berlanjut hingga awal 2022.  

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, meskipun permintaan mebel dan furnitur cukup tinggi selama pandemi Covid-19, bahan baku berupa rotan sulit didapat. 

Bahan baku kayu pun masih terbatas stoknya lantaran lebih banyak disuplai oleh hutan rakyat. 

"Dengan pertumbuhan omzet saat ini, memang bahan baku yang menjadi krusial. Belakangan rotan jadi hilang di permukaan," kata Sobur dalam rapat dengar pendapat umum di Komisi VI DPR, Senin (24/1/2022).

Sobur menerangkan, akibat langkah Amerika Serikat mengurangi impor furnitur dari China karena perang dagang, terjadi kekosongan pasar yang semestinya bisa dimanfaatkan oleh pelaku industri dalam negeri untuk memacu ekspor.

Peluang pasar itu yang menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja ekspor mebel dan kerajinan Indonesia yang tumbuh 25,89 persen menjadi US$3,43 miliar sepanjang tahun lalu. 

Akan tetapi, Indonesia masih kalah jauh dari Vietnam yang ekspor furniturnya ke AS mencapai US$14 miliar.

"Kalau mau menjadi eksportir terkuat di kawasan Asean, atau bisa mengalahkan Vietnam, maka [isu] pertama [yang harus diurai] adalah suplai bahan baku harus aman," lanjut Sobur.

Dia pun mengusulkan pengaturan ulang tata niaga bahan baku furnitur untuk dapat mencapai target pertumbuhan 16 persen per tahun, hingga nilai ekspor dapat menembus US$5 miliar pada 2024.

RANTAI PASOK

Masalah kelangkaan bahan baku turut dirasakan oleh industri kosmetik. Sektor ini melaporkan terjadinya defisit input akibat belum terurainya kemacetan rantai pasok global.

Ketua Bidang Perdagangan Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Shelly Taurhesia mengatakan mengatakan 90 persen bahan dasar kosmetik dalam negeri masih didatangkan dari impor

Selain harga-harga yang melonjak, Shelly mengatakan isu yang juga menjadi tantangan adalah kesiapan para pemasok untuk memenuhi sertifikasi halal. 

Berdasarkan Undang-Undang No.33/2014 tentang Jaminan Produk Halal, seluruh produk makanan minuman, obat, dan kosmetik harus tersertifikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketentuan tersebut mulai berlaku pada 2019 dengan masa tenggang atau grace period selama 5 tahun.

"Kami sudah banyak beraudiensi dengan BPJPH [Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal] sudah dicanangkan pengakuan lembaga halal dari luar negeri," ujarnya.

Shelly mengatakan perlu ada simplifikasi sertifikasi halal terutama untuk impor bahan baku mengingat kemandirian industri kosmetik dalam negeri yang belum terbentuk.

Adapun, menurut catatan Perkosmi, pasar kosmetik Indonesia pada 2021 bernilai US$6,34 miliar dengan potensi pertumbuhan tahunan rata-rata 5,34 persen sampai dengan 2026. 

Indonesia juga tercatat sebagai pasar produk halal terbesar di dunia dari segi pengeluaran yang mencapai US$4,19 miliar untuk kosmetik saja pada 2020.  

Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar